
Helaan napas berulang kali terdengar dari bibir Grace. matanya menatap Damian malas seraya memanyunkan bibirnya beberapa cm. Tidak senang belanja bersama Damian hari ini.
Padahal saat mendengar Damian mau mengajaknya berbelanja Grace terlihat berbinar dan antusias. Tapi siapa sangka Damian hanya mengajaknya duduk di bawah dan membiarkan pelayan yang membeli barang-barang. Ya, Damian tidak mau berkeliling.
Sepi, seolah mall ini baru saja di kosongkan. Kalau begini ceritanya lalu apa bedanya dengan duduk diam di rumah. Pria itu sangat menyebalkan terlebih semua ini di lakukan dengan alasan kehamilan Grace. Dia tidak boleh lelah karena sedang hamil. Sialan bukan!
"Aku sudah membawa mu jalan-jalan kenapa tidak tersenyum sama sekali?" tanya Damian sebelum mendaratkan ciuman di bibir Grace karena gemas.
"Hmmm!"
Mengulum senyum tipis terlihat sekali senyum itu telah di buat-buat. Damian tergelak kecil, tahu sekali hal apa yang membuat istri kesayangannya ini merajuk.
"Ayo!" ajak Damian mengulurkan tangan. Memutuskan mengalah karena tidak ingin mengecewakan Grace.
"Kemana lagi!" sedikit meninggikan suara. Moodnya hancur setelah duduk diam selama satu jam. Padahal dari kemarin Grace menantikan hal ini dengan penuh semangat.
"Katanya mau keliling!" seru Damian jengah. Menatap datar Grace.
"Benarkah, kau mau mengajak ku berkeliling?" binar kebahagiaan terpancar di kedua netra coklat Grace.
"Hm cepatlah, sebelum aku berubah pikiran!" tutur Damian lagi sontak membuat Grace berdiri dan merangkul lengannya. Grace mengecup pipi pria itu beberapa kali karena senang.
"Love you babe!" kemana rasa kesalnya pergi, seakan langsung terhempas kini. Grace berubah menjadi wanita manja yang manis.
Dengan wajah ceria, Grace berjalan mengitari Mall melihat barang-barang yang di lewati. Mulutnya terus mengoceh menceritakan pengalaman belanjanya bersama Rachel.
Damian diam mendengarkan. Sesekali berdecak malas mendengar ocehan tidak berguna yang terlontar. Mengulum senyum saat wanitanya menoleh.
Namun wajahnya kembali datar dan suram saat Grace kembali membuang mukanya ke depan. Bermuka dua, itulah sebutan yang pantas untuk Damian.
"Wah bagus sekali, mana cocok untuk ku Ef?" memperlihatkan baju feminim yang ketat dan sedikit terbuka.
"Wah kau lebih cocok pakai yang ini!" mengambil lingerie transparan. Mata Grace berkedut tatkala melihat wajah nakal suaminya.
"Kau mesum sekali, tapi aku akan beli satu untuk menyenangkan mu."
"Pilih yang mana hitam atau merah?" Grace menaik turunkan kedua meminta pendapat suaminya.
"Heumm... hitam memang terlihat seksi tapi merah lebih berani." jawab Damian seraya menyanggah dagunya, sok berpikir. Grace menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, menoleh kebelakang. Malu saat mendapati pegawai wanita menahan tawa.
"Kita ambil dua-duanya saja, ayo ke sana," menarik tangan Damian agar menjauh dari tempat haram itu. Bisa saja Damian memilihkan baju-baju dan pakaian dalam terbuka untuknya.
__ADS_1
Dua jam mengitari mall hanya untuk menunjukkan barang-barang yang tidak berguna. Akhirnya Grace menyerah dan meminta Damian agar menggendongnya. Setiap langkah, Damian terus memarahinya.
"Sekarang tahu kan kenapa aku meminta mu duduk tenang di sana!" geramnya. Grace menarik kedua ujung bibirnya membentuk seutas senyum tak bersalah.
"Iya, tapi kau juga tidak rugi. Aku membeli dua lingerie khusus untuk menyenangkan mu."
"Benarkah, kalau begitu pakai dan tunjukkan padaku nanti. Sebagai bayaran karena menggendong mu dari atas sana!"
"Kau tidak ikhlas?" sungut Grace, mencubit pelan dada bidang suaminya.
"Ya, kau berat membuat tanganku pegal!" cibir Damian jujur. Grace menunduk lesu, berulang kali menghapus setitik air di ujung kelopak mata. Kata-kata Damian sangat menyakiti hatinya.
"Maaf, turunkan saja aku. Setelah melahirkan, aku akan diet biar tidak menyusahkan mu!" sendu Grace, membuat Damian kelabakan.
"Aku hanya bercanda sayang, kau tidak berat bahkan terasa seringan kapas." berusaha menghibur.
"Benarkah?" Damian mengangguk lemah.
"Kalau begitu gendong aku sampai ke mobil, kakiku pegal." pinta Grace membuat senyum Damian luntur seketika.
Sial aku diperdayai, ini tidak gratis Grace. Kau harus membayarnya nanti malam.
Kenapa perasaan ku tidak enak!
...🦋🦋🦋🦋...
Tiba di mansion Grace bergegas mencari Xavier. Tidak ingin bersikap tidak adil hanya karena menghabiskan waktu bersama Damian saja. Sia-sia Damian mengambil cuti. Dua jam berkeliling mereka hanya mendapatkan beberapa lembar pakaian bayi. Semua kebutuhan sehari-hari tetap Ellie yang menyiapkan.
Kreet! Damian membuka pintu, mencari keberadaan Grace Dan benar saja wanitanya tertidur pulas di samping putranya karena kelelahan.
"Boy! dad membawa mommy mu pergi ya. Dia masih punya hutang sama daddy!" gumam Damian, kemudian melangkah pelan mendekati Grace. Dan membawa wanita itu pergi. Xavier menatap kepergian orang tuanya dengan mata berkedip.
Damian meletakkan Grace di atas ranjang. Decitan ranjang membuat Grace terperanjat kaget. "Kau sudah bangun? baguslah aku tidak usah membangunkan mu kalau begitu!" ucap Damian santai.
"Biarkan aku tidur Ef. Aku lelah karena berkeliling mall tadi." rengek Grace dengan mata menyipit.
"Aku tidak peduli. Janji adalah hutang, kau harus menepati janji mu. pakai lingerie ini dan tunjukkan pada ku!" ucap Damian.
"Dasar mesum, di mana bajunya." tanya Grace dengan mata sedikit terpejam. Damian tersenyum penuh kemenangan, mengambil paper bag dan menyerahkannya pada Grace.
"Ini!"
__ADS_1
"Sebelum aku berganti, buatkan aku jus jeruk terlebih dulu." minta Grace. Ingin berganti dengan tenang tanpa menatap mata tajam Damian.
"Kau sedang tidak bersiasat kan?" tuduh Damian. Grace tersenyum tipis, ingin rasanya dia mendaratkan Bogeman di wajah Damian.
"Tidak sayang. Aku mohon buatkan aku jus jeruk. Sebenarnya bukan aku yang minta tapi anak mu!" sahut Grace seraya mengusap perut buncitnya.
"Baiklah, aku akan segera kembali. Cepat berganti. Aku tidak suka menunggu!" Grace mengangguk paham.
"Iya-iya sekarang pergi sana!" usir Grace.
...🦋🦋🦋🦋...
Damian membawa gelas berisi jus jeruk. Bukan dia yang membuat tapi Ellie yang menyiapkan jus tersebut.
Ceklek! pintu terbuka, mata tajam Damian terarah pada wanitanya. Wajahnya berubah masam kala mendapati Grace selesai berganti namun menutupi lingerie indah itu dengan jaket kulit.
Mana jus ku?" tanya Grace dengan mata berbinar. Aroma bunga Lily bercampur mint menyeruak masuk kedalam indra penciuman Damian. Sungguh wangi yang memikat.
"Ambil ini!" menyerahkan gelas berisi jus. Dengan senyum sumringah Grace mengambil gelas tersebut dari genggaman tangan Damian.
"Makasih!" serunya sebelum menegak jus tersebut hingga tandas tak tersisa.
Damian masih terpaku pada jaket yang di kenakan Grace. "Kenapa kau menutupinya dengan jaket Grace. Buka! aku ingin melihat mu memakai lingerie pilihan ku." suruh Damian.
"Aku malu Ef!" cibir Grace.
"Aku sudah melihat semuanya. Apa kau tidak ingin menyenangkan suami mu Grace?" tanya Damian dengan wajah datar.
Tidak ingin menjadi istri durhaka akhirnya Grace membuka jaketnya. Penampilan Grace membuat Damian bergeming di tempat. Sungguh tubuh seksi Grace membuat Damian lapar.
"Malam ini, biarkan aku menghangatkan mu babe!" bisik Damian sebelum mendorong Grace ke atas ranjang.
"Tapi jangan lama-lama, aku lelah Ef!"
"Sesuai permintaan mu babe!"
TBC
warning!
cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius🙏
__ADS_1