
"Letakkan senjata mu atau aku akan melenyapkan istri mu!" ancam Alex. Menodongkan senjata tepat di dahi Grace.
Mata berkaca-kaca Grace menatap dalam Damian. Kepalanya menggeleng singkat, menyuruh Damian agar tidak menuruti permintaan Alex. Namun, Damian mengulum senyum tipis. Mengangguk berulang kali. Berusaha meyakinkan Grace jika semuanya akan baik-baik saja.
Damian melemparkan pistolnya ke bawah tanpa ragu sedikitpun. Lalu mengangkat kedua tangannya ke atas. Menuruti permintaan Alex.
"Minta anak buah mu menurunkan senjatanya juga!" tidak ingin mengambil resiko. Alex meminta Damian menyuruh anak buahnya meletakkan senjatanya juga.
Bahkan jika harus mengorbankan nyawa sekalipun Damian rela melakukannya. Yang penting istri dan anaknya selamat.
Melihat ketidakberdayaan Damian, Alex tersenyum penuh kemenangan. Ia merogoh laci, mengambil map bewarna coklat berisi surat perceraian.
"Tanda tangani itu!" perintah Alex. Melemparkan map tersebut ke arah Damian. Di lembaran tersebut tersirat namanya dan nama lengkap Grace.
"Apa ini?" tanya Damian dengan alis berkerut.
"Surat perceraian!" sontak Damian dan Grace membulatkan matanya lebar-lebar. Tidak menyangka Alex bertidak sejauh ini.
"Kau gila! aku tidak mau bercerai dengan suami ku. Ef, aku mohon jangan menandatanganinya. Lebih baik aku mati dari pada harus berpisah dengan mu!" teriak Grace dengan air mata bercucuran keluar.
Mendengar bagaimana Grace memperjuangkan hubungan pernikahan ini. Damian menyunggingkan senyum bangga. Damian yakin Grace sudah sepenuhnya menerima dirinya.
"Tanda tangani itu atau aku akan menembak dia!" gertak Alex mengancam. Damian tidak punya pilihan lain selain menurut. Ia membubuhkan tanda tangan dengan santai seolah tidak ada beban sekalipun.
Bukan berarti Damian menyerah begitu saja. Pria itu menunggu celah. Damian bersumpah hari ini akan menjadi hari terakhir Alex melihat dunia.
"Sudah?"
"Sekarang giliran mu. Tanda tangani itu!" perintah Alex. Menyerahkan surat perceraian itu pada Grace.
"Sampai kapanpun aku tidak akan menandatangani surat perceraian itu!" tegas Grace.
"Kau yakin?"
__ADS_1
"Bahkan jika aku melenyapkan suami mu huh?" tatapan Alex tertuju pada Damian kinerja. Grace menoleh, betapa terkejutnya dia saat mendapati anak buah Alex menodong senjata ke arah suaminya.
Dua pilihan yang sangat sulit. Grace tidak bisa memutuskan. Pikirannya seolah menghilang dalam sekejap. Di satu sisi Grace tidak ingin rencana Alex berhasil. Tapi di sisi lain nyawa Damian juga terancam.
Hening, Grace menatap Damian dalam-dalam. Seharusnya dalam keadaannya sekarang Grace tidak boleh stress. Bukan hanya stress tapi Grace juga tertekan sekarang.
"Aku akan menandatangani surat perceraian itu. Tapi setelah itu kau harus melepaskan suami ku!" putus Grace. Namun, juga mengajukan kesepakatan.
"Sesuai dengan permintaan mu baby!" jawab Alex menyetujui. Padahal Grace tau, Alex tidak akan melepaskan Damian dengan begitu saja.
"Sudahkan? haruskah kita menikah sekarang?" Damian maupun Alex sama-sama menatap Grace dengan tatapan tidak percaya.
Apa maksudnya ini?
Apakah Grace bersandiwara?
"Apa maksudmu Grace? kau mau menikah dengan mantan tunangan mu itu?" tanya Damian dengan nada dan raut muka kecewa.
"Ya, aku mau menikah dengannya. Aku tidak ingin bersama orang lemah yang tidak bisa melindungi anak dan istrinya." bukan hanya kecewa. Perasaan marah mulai menyelubungi hati. Damian merasa di khianati untuk yang kedua kali.
Damian menundukkan kepala. Berusaha menahan amarah dan rasa sakit yang luar biasa. Sungguh Grace benar-benar membangunkan sosok iblis dalam dirinya.
Alex meletakkan senjatanya di atas meja. Mengambil dokumen pernikahan yang sudah dia siapkan jauh-jauh hari.
Diam-diam Grace berjalan mendekati meja. Mata sayu itu terpaku pada pistol yang tergeletak di atas meja. Melihat Alex lengah lantas Grace menyahut pistol tersebut dan mengarahkannya ke arah Alex.
"Enyah kau bedebah sialan!"
Dor! Semua pandangan tertuju pada aksi Grace. Melihat celah yang ada Damian dan anak buahnya menaklukkan sisa bodyguard Alex yang tersisa.
Semua orang tidak menyangka Grace bisa melakukan hal serupa. Damian sendiri terperangah melihat aksi istrinya. Bagaimana tidak Grace menembak tepat sasaran.
Alex tumbang ke bawah. Darah mulai bercucuran keluar. "Kau mau melenyapkan suamiku kan. Maka lihat bagaimana aku akan melenyapkan mu."
__ADS_1
Dor! dor! dua peluru sekaligus Grace tembakkan pada daerah yang sama. Alex menatap Grace lembut. Bisa Grace rasakan tatapan itu tatapan yang sama saat Alex menatapnya dulu waktu mereka masih menjalin hubungan.
Terlihat buliran bening menetes dari ujung kelompok mata. Sedih karena harus mati di tangan wanita yang dicintainya.
"Aku tahu caraku ini memang salah. Tapi satu hal yang harus kau ketahui. Cinta ku padamu itu tulus dan sampai kapanpun rasa ini tidak akan pernah pudar."
"Aku mengaku kalah Grace. Jika memang perjuangan ku berakhir dengan kematian maka aku rela. Asal kau mau memaafkan ku dan tidak membenci ku!" setelah mengutarakan pesan terakhirnya Alex pun menutup mata untuk selama-lamanya.
Mendengar itu Grace terduduk di tempat. Tatapan kosongnya menjelaskan segalanya. Tidak lama setelah itu tangis Grace pecah. Bak orang kehilangan akal Grace memeluk Alex.
Di sisi lain Adam baru datang bersama anak buahnya. Dia terkejut melihat Alex tergeletak dengan bersimbah darah. Apa yang terjadi? siapa yang melenyapkan Alex? berbagai macam pertanyaan mulai bermunculan. Namun, Adam tidak berani bertanya. Dan memilih diam memperhatikan.
"Tidak...kau tidak boleh mati! apa yang sudah aku lakukan." sesal Grace. Menangisi kematian Alex.
Kebaikan-kebaikan yang pernah Alex lakukan di masa lalu terlintas di benaknya. Alex selalu ada bahkan saat seluruh dunia membencinya.
Apa yang telah aku lakukan, aku melenyapkan mu Alex. Kenapa kau berubah menjadi kejam, seharusnya kau menyerah saja dan tidak mengambil langkah sejauh ini. Mungkin aku tidak akan pernah mengangkat senjata untuk melenyapkan mu.
Damian mendekati Grace. Menarik wanita itu dan memeluknya dengan erat. "Aku pembunuh Ef. Aku melenyapkan Alex!" rengek Grace ketakutan.
"Kau tidak bersalah Grace. Kejahatan Alex memang tidak bisa di maafkan lagi. Biarkan dia pergi. Aku yakin dia juga tidak akan menyalahkan mu atas kematiannya!" ucap Damian. Berusaha menenangkan sang istri.
"Aku mohon makamkan dia dengan layak. Aku akan mengunjungimu makamnya setiap satu bulan sekali!" minta Grace.
Sebenarnya Damian enggan menyetujui. Tapi mendengar kata-kata terakhir Alex. Damian jadi tau semua ini terjadi karena cinta Alex yang tak terbalaskan.
"Baiklah, aku akan memakamkan Alex dengan layak. Sekarang kita pulang. Kau harus segera memeriksakan diri!" Damian menuntun Grace keluar dari kastil milik Alex.
"Urus pemakan Alex dan lakukan upacara peristirahatan terakhir untuknya!" perintah Damian pada sekretarisnya.
"Baik Sir!"
TBC
__ADS_1
warning!
cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius🙏