
Beberapa hari setelah kejadian di kastil. Akhirnya kehidupan Damian dan Grace kembali normal. Damian kembali bekerja di perusahaan sejak kemarin.
Sedangkan Grace sendiri masih terbaring di kamar utama. Dengan kondisi normal dan sehat. Semuanya sudah berlalu Grace di nyatakan sembuh. Kandungannya juga baik-baik saja. Keluhan-keluhan jarang terlontar dari bibir Grace lagi. Berkat perhatian Damian Grace sembuh lebih cepat.
Untuk makanan Grace hanya bisa makanan buatan chef rumah atau masakan Ellie yang sudah jelas steril. Tidak mengandung bahan kimia yang berbahaya bagi kesehatan.
Mulai sekarang asisten Lucas akan datang untuk mengecek kondisinya setiap satu Minggu sekali.
"Siapa namamu nona?" tanya Grace dengan disisipi senyuman menawan yang akan membuat siapapun terpesona saat melihatnya. Asisten Lucas mendongak menatap Grace kaget.
"Ehh... anda bertanya pada saya nyonya?" tanya asisten Lucas memastikan.
Grace tergelak, memukuli ranjang karena gemas dengan asisten Lucas yang begitu polos dan lugu.Dokter wanita itu menatap Grace bingung, menunjuk dirinya sendiri dengan menggunakan jari telunjuknya.
"Hahaha... kau lucu sekali yah, tentu saja aku bertanya padam. Disini hanya ada kau dan dua orang aneh itu," menunjuk Damian dan Lucas yang sibuk berdebat. Entah hal apa yang mereka perdebatkan yang jelas Grace tidak ingin tau.
Dokter cantik itu tersenyum hambar menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sebelum akhirnya kembali memeriksa Grace dengan menekan pergelangan tangannya. Merasakan denyut nadi.
"Saya Katherine nyonya, anda bisa memanggil saya Kate!" tiba-tiba memperkenalkan diri setelah terdiam cukup lama. Grace semakin tergelak. Memutuskan menghentikan tawanya tatkala mendapati Kate malu-malu.
"Baiklah, sekarang kita saling mengenal. Jadi jangan berbicara terlalu formal padaku. Aku merasa aneh!" Kate tersenyum, mengangguk lemah sebagai jawaban.
"Saya akan melaporkan kesehatan anda pada tuan Lucas!" ucap Kate berpamitan. Mendapati Grace mengangguk mengiyakan. Akhirnya Kate mendekati Lucas dan melaporkan keadaan Grace.
"Semuanya normal, tidak ada yang perlu dikhawatirkan Ef." seru Lucas setelah membaca rekam medis milik Grace.
__ADS_1
"Lalu apa aku bisa menyentuhnya sekarang?" Lucas mendelik, berdecak malas menanggapi pertanyaan Damian. Selalu seperti ini, setiap pemeriksaan fisik Damian tidak pernah absen bertanya mengenai hubungan badan.
"Tidak masalah, tapi jangan terlalu sering. Aku tahu saat kau sudah menikmati tubuh kakak ipar, kau jadi lupa diri dan melakukannya sampai pagi. Kau harus menekan sedikit hasrat tidak normal mu itu!" saran Lucas, namun terkesan mencemooh.
Damian tersenyum mengejek, "yah itu terserah padaku. Lagi pula Grace adalah istri ku. Dia harus melayani ku sampai aku benar-benar puas!" sahut Damian santai. Seolah bangga dengan apa yang dikatakannya.
Ingin rasanya Lucas melemparkan tas kerjanya di kepala Damian. Pria itu tidak punya urat malu sama sekali. Bagaimana bisa mereka berteman akrab seperti ini.
"Yah terserah kau saja. Lagi pula kau adalah rajanya. Aku pergi! melihat tampang dosa mu membuat ku sakit kepala."
"Yah pergilah dan sewa pelacur. Aku takut milikmu impoten karena tidak pernah dipakai." prak Lucas menampar wajah Damian dengan rekam medis milik Grace.
"Karena tidak ada lagi yang saya lakukan, saya mohon permisi." pamit dokter Kate setelah melihat Lucas pergi meninggalkan kamar. Untuk apa keberadaannya disini.
"Yah terima kasih Kate, aku harap kita bisa makan bersama suatu hari nanti!" seru Grace, melambaikan tangan sebagai ucapan perpisahan.
"Pak tunggu saya!" teriak Kate, menghentikan langkah panjang Lucas.
"Apa?"
"Pak kenapa anda meninggalkan saya. Saya takut melihat teman anda itu. Seperti om-om pedofil saja!" raut suram Lucas tampakkan. Sebelum akhirnya tawa Lucas pecah. Menggelegar ke seluruh penjuru ruangan.
"Kau menghinanya, bagaimana jika aku mengadukan mu pada teman ku itu?" sontak raut wajah Kate terlihat pias. Menatap Lucas dengan tatapan memohon ampun.
"Pak saya mohon jangan lakukan itu. Saya berjanji tidak akan mengulanginya. Okey sebagai ganti tutup mulut, saya akan menerima satu permintaan bapak, bagaimana?" Lucas melirik ke atas memikirkan sesuatu.
__ADS_1
"Penawaran yang menarik, baiklah aku setuju." memandang Kate dengan pandangan yang sulit diartikan.
Senyum berbinar tampak samar terlihat dibibir seksi Kate, "terimakasih pak, anda yang terbaik. Jadi apa permintaan bapak?"
"Aku akan mengatakannya nanti, sekarang kita kembali ke rumah sakit. Aku punya jadwal konseling dengan pasien penderita tumor otak."
"Baik pak!" Kate duduk di kursi pengemudi, karena sebagai asisten memang inilah pekerjaannya. Sering kali Lucas yang menyetir. Namun, disaat yang sama mereka akan berdebat bak pasangan kekasih yang sedang bertengkar.
Wanita selalu benar, itulah motto hidup Lucas. Jadi dia sering mengalah dan membiarkan Kate berbuat semaunya. Lucas tipikal pria yang suka menganalisis sikap wanita. Setiap berkencan dia akan mengamati kepribadian mereka secara diam-diam.
Baginya Kate adalah satu-satunya wanita dengan pemikiran sederhana. Tidak neko-neko dan polos. Karena itu setiap hari Lucas gencar menggoda dengan menyebutnya sebagai perawan tua.
"Dan ya berhenti memanggil dengan sebutan pak. Ingat aku calon suami mu. Jadi cukup panggil nama saja!" pinta Lucas.
"Tidak mau, karena saya harus profesional dalam bekerja!" jawab Kate cepat. Menolak permintaan atasannya.
"Sebagai calon istri ku kau harus menurut pada ku. Jadi berhenti memanggil ku dengan embel-embel pak. Jika bisa panggil aku dengan panggilan sayang. Itu lebih enak di dengar." ujarnya.
"Dasar buaya!" cibir Kate membuat Lucas marah-marah. Sepanjang perjalanan pria itu terus mengoceh menceramahi Kate karena tidak terima di bilang buaya.
Cup! Kate mencium bibir Lucas singkat. "Bisakah anda diam. Saya tidak fokus menyetir pak!" keluhnya.
"Baik aku diam!" balas Lucas dengan suara lirih. Masih kaget dengan perlakuan Kate barusan. Jujur saja Lucas senang mendapat serangan dadakan.
Sial! dia menggemaskan!
__ADS_1
warning!
cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius🙏