Mr Billioneire Wife

Mr Billioneire Wife
Berenang(Revisi)


__ADS_3

Kejadian semalam benar-benar memporak gandakan pikiran Damian. Hatinya kacau balau memikirkan Grace. Wanita itu masih mendiaminya.


Pagi ini, tepatnya waktu sarapan Grace enggan memunculkan diri. Dia masih nyaman dengan kesendirian. Akibatnya Damian sarapan berdua bersama Xavier.


Terpaksa Damian mengalihkan tanggung jawab menjaga Xavier pada Ellie. Sampai ibunya mau keluar dari sarang persembunyian. Sangat sulit mendekati Grace ketika wanita itu sedang merajuk ataupun marah.


Tiba-tiba bayangan kejadian semalam teringat di kepalanya. Saat itu Damian hendak mengistirahatkan tubuhnya. Mau berbaring di samping Grace. Sesuatu yang tidak terduga terjadi, Grace terbangun dan menyuruhnya pergi. Grace tidak mau tidur seranjang dengan suaminya sendiri. Tapi konyolnya Damian patuh-patuh saja. Mengalah dan menuruti permintaan istri tercintanya.


"Sir, peresmian mall xx akan dilaksanakan lusa. Apakah anda sudah berbaikan dengan nyonya muda. Anda harus membawa pasangan sir." Damian diam, menatap kosong gelas minuman yang berada didepannya.


"Sir!" Adam menjentikkan jari, menyadarkan Damian yang termangu. Diam seperti patung.


"Kau bicara apa tadi?" Adam menghembuskan napas panjang. Sebelum akhirnya mengulangi pertanyaan yang sama.


"Lusa, anda dan nyonya muda harus datang ke tempat peresmian mall xx. Apakah kalian sudah berbaikan?" lucu sekali, seandainya mereka berbaikan tidak mungkin Damian repot-repot pindah ke kamar tamu.


"Entahlah, wanita itu makhluk aneh. Rasanya aku jadi gila menghadapi istri ku sendiri." Adam tidak mengira bosnya akan depresi hanya karena menghadapi seorang wanita.


"Mudah saja Sir, akui saja kesalahan anda. Saya pastikan masalah anda selesai dalam sekejap." Damian mengernyit.


"Tapi aku tidak bersalah, aku tidak pernah mengkhianati istri ku. Kenapa aku harus minta maaf dan mengakui kesalahan?"


"Karena wanita selalu benar Sir dan laki-laki selalu salah." Damian menatap Adam cengo. Apakah hukum alam memang seperti itu.


"Terus aku harus bagaimana?" Damian melontarkan pertanyaan tanpa henti seolah-olah sedang berkonsultasi.


"Bawakan sebuket bunga dan minta maaf. Saya jamin nyonya muda akan luluh. Jika dia tidak luluh berarti istri anda bukan wanita!"


"Kalau bukan wanita terus dia apa?"


"Wanita jadi-jadian!" sebuah pena melesat mengenai jidatnya. Pelakunya adalah Damian, tidak terima jika istri tercintanya di hina.

__ADS_1


"Maafkan saya sir, tapi bukankah istri anda memang wanita yang berbeda. Terkadang manja, terkadang pemberontak, terkadang mengerikan dan gila. Bagaimana bisa anda tahan dengan wanita tidak normal semacam itu." entah mendapat keberanian dari mana Adam mengatai Grace di depan Damian.


"Kau tidak akan mengerti karena kau masih jomblo. Lagi pula wanita galak lebih menantang dari pada wanita lembut. Setiap mereka marah, itu berarti mereka masih memperhatikan kita. Setiap mereka berceloteh kau tidak akan bosan dan merasa ketagihan. Suara cempreng mereka membuat hari-hari mu tidak akan pernah sepi. Wanita kalem, tidak ada asyik-asyiknya sama sekali. Jadi ku sarankan cari wanita galak untuk di nikahi!" Adam menggelengkan kepalanya, seleranya tidak seaneh Damian.


"Yah terserah anda sir, saya lelah!" Adam pergi tanpa berpamitan. Damian tidak bermasalah dengan sikap Adam, sekarang yang terpenting adalah membeli bunga kesukaan Grace yaitu mawar merah.


"Dam pesankan aku sebuket mawar merah, ingat suruh mereka membingkainya dengan secantik mungkin!" teriak Damian. Padahal jelas-jelas disebelahnya terdapat telfon kabel. Beginilah efek samping jatuh cinta, membuat orang menjadi bodoh.


...🦋🦋🦋🦋...


Setengah hari penuh Grace lalui dengan duduk memandang taman dari balik jendela. Ia sudah tidak menangis lagi, tapi bukan berarti dia sudah memaafkan Damian. Rencana perceraian masih ingin dia lanjutkan.


"Mami!" Seketika Grace ingat dengan Xavier.


"Maafkan aku Ellie, karena sudah merepotkan dirimu. Sekarang biar aku saja yang bermain bersamanya." Ellie mengangguk, kemudian kembali menutup pintu pamit undur diri.


"Mi mi mi." menunjuk kebawah kolam renang.


"Baiklah, mommy akan berganti pakaian." Grace masuk kedalam dan mengambil sebuah bikini yang seksi. Hanya ini yang Grace temukan dalam lemari.


"Terlalu terbuka, tapi tidak papa lagi pula kolam renang tidak bisa dimasuki sembarangan pelayan ataupun penjaga." tak ambil pusing Grace memutuskan memakai bikini tersebut.


Decitan mobil membuat para penjaga langsung berdiri siaga. Adam bergegas membuka pintu mobil. Damian keluar membawa sebuket mawar merah, dengan beberapa paper bag berisikan coklat.


Adam mengintruksikan beberapa maid segera datang membawa barang bawaan bosnya. Namun Damian menolak, mengatakan jika ia akan membawanya sendiri.


Ini semua hadiah untuk Grace. Dia harus berusaha mendapatkan perhatian dan maaf dari wanitanya. Ya meskipun Damian tidak bersalah. Sesuai dengan ucapan Adam wanita selalu benar. Mungkin sebentar lagi Damian menggunakan motto tersebut.


"Dimana istri ku?" heran mendapati kamar tidur kosong tidak berpenghuni.


"Nyonya muda berenang di kolam renang tuan." menunjuk kolam renang dari atas balkon.

__ADS_1


Damian meletakkan bunga dan paper bag itu di atas sofa. Lalu melepaskan jas dan berganti pakaian. Ingin bergabung bersama dengan keluarga kecil mereka.


Grace sedang mengandung dia tidak berenang sungguhan. Hanya bermain air di pinggiran kolam renang bersama Xavier. Sesekali menenggelamkan kakinya kedalam sana, lagi pula kolam renang tersebut tidak terlalu dalam hanya setinggi dada saja.


"Kemari nak, dad akan mengajarimu berenang!" suara berat Damian mengejutkan Grace. Segera Grace menutup dadanya sendiri. Malu kepergok memakai bikini seksi.


Damian tergelak, mengambil bathrobe dan memakaikan pada tubuh seksi Grace. Damian mengambil Xavier dan mengajaknya masuk kedalam kolam renang. Tantu saja Damian menyangganya agar anak kecil itu tidak tenggelam ke dasar kolam.


Grace duduk di kursi panjang sebelah kolam. Mengamati interaksi antara ayah dan anak itu. Xavier tidak takut sama sekali, malah menikmati dinginnya air kolam.


Gelak tawa yang begitu menangkan hati Grace. Sesaat Grace melupakan semua penghianatan Damian.


"Grace! ambil Xavier, aku ingin berenang sebentar. Sudah lama aku tidak melakukannya." menyerahkan Xavier pada Grace, kemudian kembali terjun ke dalam kolam.


Damian berenang bak mermaid. Grace senang melihat pemandangan tersebut, mengagumi kehebatan suaminya. Bukan hanya memasak, bercinta, berenang pun Damian juga bisa. Multi talenta sekali dia.


Dua kali Damian berenang akhirnya menyudahinya. Kemudian naik keatas dan menerima handuk dari tangan Grace. Damian terkekeh, dalam keadaan merajuk pun Grace masih memberikan perhatian.


"Jangan salah paham, aku tidak ingin merawat orang sakit." gengsi mengakui bahwa dirinya mengkhawatirkan sang suami.


Damian mencubit hidung Grace gemas, "aku tahu." serunya singkat sambil mengusap punggung dan dada bidangnya yang basah dengan handuk.


Grace pergi membawa Xavier masuk, sudah cukup untuk hari ini. Sekarang Xavier harus segera mandi dan berganti pakaian. Jika tidak Xavier bisa sakit nanti.


"Nyonya biar saya yang memandikan tuan muda Xavier. Anda juga harus segera ganti pakaian!" ujar Ellie penuh pengertian.


"Terimakasih Ellie!" kata Grace sebelum pergi meninggalkan kamar Xavier. Hari ini dia belum makan apapun, perutnya terasa lapar sekali.


"Aku akan makan setelah mandi."


TBC

__ADS_1


__ADS_2