
Sebuah tangan merentang keluar dari jendela mobil. Menikmati semilir angin dingin yang menyejukkan. Grace berdiri dari kursi, menyembulkan kepalanya keatas. Yang kebetulan atap mobil terbuka atas permintaannya.
Berulang kali teriakan tegas juga ancaman Damian lontarkan. Berharap Grace menghentikan aksi gilanya itu. Namun, bukannya berhenti, Grace malah berjoget kecil sembari mengalunkan sebuah lagu. Cuaca pagi ini benar-benar sangat mendukung.
Di belakang sana, Adam dan Lucas hanya bisa menggelengkan kepalanya ngeri. Melihat sifat bar-bar Grace membuat mereka takut sendiri. Tapi keduanya juga tertawa kecil saat melihat Damian kewalahan.
"Duduk dan nikmati perjalanan dengan tenang. Yang kau lakukan sekarang sangat membahayakan, sayang!"
Setelah berusaha cukup lama, akhirnya Damian berhasil meraih pergelangan tangan Grace. Pria itu menarik Grace duduk, lalu menggenggam jari jemari Grace dengan kuat. Tidak akan membiarkan wanita itu berdiri untuk yang kedua kali.
Tidak ingin mendatangkan masalah dengan memancing kemarahan Damian. Lantas Grace duduk tenang, kemudian membenahi sabuk pengaman yang dia lepas beberapa saat lalu.
Langit biru dipadukan dengan burung berterbangan. Juga bukit menjulang tinggi diselimuti rerumputan tampak memanjakan mata Grace. Tidak dengan Damian, pria itu tidak suka melihat ke sana kemari, lagi pula ini bukan pertama kalinya Damian datang kemari.
Grace berceloteh panjang sesekali mengambil foto Selfi untuk dipamerkan pada Rachel. Tidak sabar melihat ekspresi sahabatnya itu. Pasti seru mendengar hujatannya nanti.
...🦋🦋🦋🦋...
Selama satu jam penuh Damian mengendarai mobilnya. Grace terduduk lesu karena lelah dan bosan. Hingga akhirnya mereka tiba di sebuah resort besar dengan arsitektur bangunan yang mewah dan megah. Damian sengaja membeli resort ini dengan harga tiga kali lipat dari harga semula.
Banyak yang mengincar resort itu, siapa yang tidak ingin tinggal disini. Resort mewah yang di kelilingi padang rumput seluas samudra dengan bunga-bunga bewarna warni ikut menghiasi. Bukan hanya itu saja, tetapi karena letak resort itu jauh dari hiruk pikuk keramaian kota. Tempat ini cocok di pakai untuk menenangkan diri.
"Sayang! kau menyewa resort?" tanya Grace. tubuhnya membatu memperhatikan, mengagumi keindahan resort mewah minimalis dengan bunga mawar merah putih berjajar rapi di sekitar hamparan halaman.
Melihat kepolosan Grace membuat Damian gemas ingin menciumi kedua pipi yang mengembang dan empuk itu.
"Tidak, ini millik mu. Aku membelinya khusus untuk mu!" Grace mengusap bekas ciuman Damian, membuat pria kejam itu mendelik dan kembali menghujam Grace dengan kecupan basah.
"Kenapa membeli resort. Kita tidak menetap di sini hanya tinggal sampai dua pekan saja. Kita bisa menyewa hotel, tidak perlu sampai membeli tempat tinggal. Jangan membuang uangmu untuk ku Ef." omel Grace panjang lebar, sama seperti kebanyakan wanita pada umumnya. Mengomeli suami jika mengeluarkan keperluan yang tidak perlu.
"Membeli resort sekecil ini bukan apa-apa untukku. Jika kau mau aku bahkan bisa membelikan lima resort sekaligus." mengusap lembut kepala Grace dan mencium punggung tangan wanitanya.
Sombong sekali tapi aku tetap cinta. Apa semudah ini suamiku membeli barang. Kenapa aku merasa dia membeli barang mahal dengan mudah, semudah membalik telapak tangan.
__ADS_1
"Ayo masuk! aku akan membuatkan secangkir coklat panas untuk mu!" ajak Damian, menarik Grace. wanita itu terhenyak dan mau tak mau mengikuti Damian.
"Selamat datang tuan, saya akan membantu merapikan barang-barang anda."
Dua pasang suami istri yang sepertinya pekerja di resort ini datang menyambut dengan hangat dan penuh keramahan.Mereka mengambil semua koper dan memasukkannya kedalam kamar masing-masing.
"Aku akan menggunakan dapur, sementara itu bersihkan kamar kami!" perintah Damian pada pelayan tersebut.
"Baik tuan!" menunduk hormat sebelum melangkah perlahan menjauh dari tempat. Damian berjalan kearah dapur, menyiapkan dua cangkir gelas dan satu bubuk coklat.
Sedangkan Grace duduk bersama dengan Adam dan Lucas memperhatikan interaksi Damian serta bercengkrama ria.
"Aku ada kabar baik untuk kalian!" Lucas berteriak heboh, memulai pembicaraan.
"Apa kak?" tanya Grace penasaran. Dia menopang dagu dengan telapak tangan menunggu berita yang akan disampaikan oleh sahabat suaminya ini.
Bola mata Lucas memutar, melihat Adam diam mendengarkan. Namun, tak berniat menyahuti. Karena kesal Lucas menyiku perut Adam.
"Kenapa kau diam saja. Apa kau bisu? sariawan? panas dalam? ataukah suaramu habis?"
"Kak apa kau butuh obat?" sontak Adam dan Damian sama-sama tergelak. Berbeda dengan Lucas dokter malang itu menatap Grace datar dan mencebikkan bibir.
"Aku seratus persen waras!"
"Iya waras dari segi fisik tapi tidak dengan kejiwaan mu!" jawab Grace polos. Lucas menautkan alisnya, malas menanggapi.
"Aku hanya bercanda kak, jangan diambil hati. Oh iya katakan kau punya berita baik apa!" Lucas tersenyum, mengangguk paham. Dia bukan tipikal orang yang mudah tersinggung dan marah. Lagi pula Lucas tahu semua yang dikatakan Grace candaan semata. Lucas pun menikmatinya.
"Satu bulan lagi aku akan menikah!"
Uhuk! uhuk! Grace terbatuk-batuk, tersedak air liurnya sendiri. Kaget akan berita yang disampaikan Lucas. Padahal Grace merasa baru kemarin dia mengeluh karena dipaksa menikah oleh ibunya.Tapi sekarang malah sudah menyebar undangan.Takdir yang tidak terduga.
"Kau serius kak? "
__ADS_1
"Kenapa aku harus berbohong, lihat wajahku apa aku terlihat sedang mengarang? lagi pula aku capek mendengar omelan ibuku yang terus mendesak ku menikah!" walau setelah mendengar penjelasan Lucas. Grace masih tidak percaya.
Bagaimana dokter konyol itu bisa memikat wanita. Grace akui Lucas cukup tampan juga memiliki pekerjaan yang cukup keren, tapi sikapnya yang konyol dan lawak membuat siapa pun jengkel jika berlama-lama bersama dengannya.
"Siapa gadis malang yang mau menikah dengan penjahat kelamin seperti mu?"
Sahut Damian dari arah dapur. Bertanya tanpa mengalihkan pandangan. Pria itu terlihat fokus. Namun, ternyata telinganya terbuka lebar mendengar pembicaraan tiga beban keluarga tersebut. Siapa sangka jika dia doyan gosip juga.
"Hei apa maksud mu penjahat kelamin, kau tidak punya kaca? lagi pula dia beruntung mendapatkan pemuda tampan dan mapan seperti ku." sewot Lucas, wajahnya tampak garang melihat Damian mencebik mengejek dirinya.
"Aku hanya menyentuh wanita setelah menikah, tidak seperti mu yang membuka segel anak orang tanpa status yang jelas!"
"Ya terserah kau saja, dasar kau psikopat sok suci!"
“Jangan bicara begitu. Semua yang kau katakan benar adanya, tapi kak Lucas tidak seburuk itu. Lihat wajahnya bisa dibilang tampan dan pekerjaannya cukup keren. Diusia muda dia menjadi seorang dokter umum dan spesialis bedah. Terbukti bahwa kak Lucas tidak bodoh-bodoh amat." jelas Grace membela tapi juga secara tidak sengaja mencemooh Lucas.
"Sebenarnya kau membela atau ikut menghina ku sih kakak ipar? kenapa perkataan mu tadi mengandung banyak hinaan didalamnya." cibir Lucas tak terima. Damian tergelak, ia mendekat membawa dua cangkir coklat panas.
"Maaf kak, aku hanya bicara mengenai fakta yang tertera. Tapi aku paling suka pada mu dibanding dengan suamiku ataupun kak Peter. Mereka sama-sama menakutkan." seru Grace berbisik, namun masih bisa didengar oleh pendengaran tajam Damian.
Tawa Lucas pecah, "benarkah? aku jadi makin sayang padamu!" sahutnya santai tak mempedulikan sorot mata tajam milik Damian. Meskipun kasih sayang hanya sebatas kakak dan adik tapi tetap saja Damian tidak suka mendengar pria lain berkata demikian.
"Tutup mulut kalian, jika tidak aku akan menghabisi kalian sekarang juga." dingin Damian.
Grace menoleh, menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Sekedar menenangkan hati karena takut melihat tatapan mematikan suaminya.
“Benarkah kau akan membunuhku Ef?” tersenyum manis, mengedipkan matanya nakal.
"Tentu saja, di atas ranjang pastinya!" Damian tersenyum smirk.
TBC
warning!
__ADS_1
cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius🙏