
Ara menenteng koper besarnya keluar dari kamar. Siang ini, Ara berniat pulang ke Milan. Namun, sebelum itu Ara berniat mengajak Alessio jalan-jalan keliling kota dan menghabiskan waktu bersama.
Sedangkan Belle, wanita itu sedang berkemas sekarang. Sama seperti Ara, Belle tidak langsung pulang. Melainkan bertemu dengan Keenan terlebih dulu.
"Kemari nak, mommy akan memakaikan mu bedak!" seru Belle. Abigail berlari mendekat kearah Belle dengan senyum dan memegang boneka Barbie pemberian Steven.
"Mam dad mana?"
"Dad sedang bekerja sayang, sebentar lagi kita akan bertemu!" usapan-usapan lembut Belle berikan di kepala putrinya.
"Yee kita ketemu daddy!" soraknya senang. Belle tertegun melihat kebahagiaan putrinya. Kebahagiaan ini hanya sesaat, bagaimana dengan hari-hari berikutnya. Akankah senyum putrinya itu menghilang.
Belle menggandeng tangan mungil Abigail. Lalu menghampiri Damian dan Abigail untuk berpamitan.
"Grace, aku pergi ya!" pamit Belle. Memeluk Grace singkat.
"Kabari aku saat kakak sampai di London." balas Grace. Lalu beralih pada Abigail, mencium pipi gembul itu secara bergantian dan memeluknya erat.
Kepergian Ara dan Belle membuat mansion sepi seketika. Bahkan detik jarum jam terdengar bergema di seluruh penjuru ruangan.
Damian pergi bekerja sedangkan Grace bermain bersama Xavier di taman belakang. Melihat Ellie datang membawa jus melon dan buah-buahan. Mata Grace berbinar senang.
Grace menyuruh maid mansion bermain bersama Xavier. Sedangkan dia sendiri akan menikmati buah-buahan dan jus tersebut.
...🦋🦋🦋🦋...
Sementara itu,
Setibanya Belle di halaman depan apartemen Keenan. Belle memberi beberapa lembar uang pada sopir taksi itu.
"Terimakasih nona!" ucap sopir itu setelah menerima uang pemberian Belle.
Belle mengangguk singkat dan tersenyum ramah. Kemudian menggandeng tangan Abigail dan masuk kedalam.
Kamar Keenan berada di lantai dua, karena itu Belle mengajak Abigail masuk kedalam lift. Ting! begitu pintu lift terbuka. Hingar-bingar kemewahan tampak memanjakan mata.
"Kau datang!" suara berat Keenan menyapa telinganya. Rambut basah itu menandakan bahwa Keenan baru saja selesai membersihkan diri.
__ADS_1
"Ya, sesuai perjanjian aku datang bersama putri ku." balas Belle. Keenan menurunkan tatapannya, melirik gadis cantik yang bersembunyi dibalik kaki Belle.
"Sayang, sapa daddy mu!" bujuk Belle. Mendengar panggilan Daddy, lantas Abigail menyembulkan kepala.
"Daddy!" panggil Abigail. Tersenyum lebar, menampakkan dua gigi kelincinya.
Abigail berlari memeluk kaki Keenan. Lalu merentangkan kedua tangannya, minta di gendong. Keenan tertegun melihat tingkah menggemaskan Abigail.
Keenan bagai melihat fotocopy dirinya sendiri tapi dalam wujud perempuan. Sempat terdiam di tempat, namun tidak lama kemudian Keenan menggendong Abigail.
"I miss you dad!" seru Abigail, memeluk erat tubuh Keenan dan mencium pipi sang ayah.
"Dad kenapa tidak pernah pulang?" terus bertanya. Tetapi tidak di pedulikan Keenan. Belle yang melihat itu geram dan menyahut Abigail dari gendongannya.
"Sayang, ayahmu sariawan. Dia tidak bisa menjawab mu sekarang. Tanya pada mommy saja, mommy akan menjawab semua pertanyaan mu." ketus Belle. Menatap tidak suka kearah Keenan.
"Tapi aku mau digendong Daddy hiks hiks!" mulai merengek, menangisi hal-hal kecil. Tidak tahan mendengar tangisan putrinya Keenan langsung menyahut Abigail kembali.
"Cup! don't cry princess. Daddy ada disini!" serunya seraya menepuk-nepuk punggung bergetar itu. Tidak lupa menciumi kedua kelopak mata basah Abigail.
"Dad, aku mau tinggal bersama mu, boleh yah!" Belle mematung, mereka harus kembali ke bandara 10 menit lagi, pesawat akan segera lepas landas.
“Baiklah Abigail akan tinggal bersama dad!”
Mendengar itu mata Belle melebar seketika. Terkejut dengan pernyataan Keenan.
Matanya menatap dalam Keenan, seolah meminta jawaban. Bukankah Keenan menolak bertanggung jawab. Lalu kenapa sekarang berubah pikiran. Jangan bilang Keenan benar-benar terpesona dengan putrinya.
“Apa yang kau katakan tuan, aku harus membawanya pulang ke London sekarang juga.” kata Belle kesal karena sifat plin-plan Keenan.
"Kau pergi saja, aku akan merawat Abigail sampai pernikahan Steven dan Ara di selenggarakan." Ujarnya dengan nada memerintah.
Hei siapa kau berani memerintah ku, Abigail adalah putriku, aku ibunya. Aku tidak bisa meninggalkan Abigail bersama orang jahat seperti mu.
“Tidak Abigail harus ikut bersamaku, dia putriku dan aku ibunya.” menyahut Abigail, sedetik kemudian gadis kecil itu menangis histeris merengek minta bersama Keenan.
“Aku ingin bersama dad, mom!” teriaknya berulang-ulang, mengayunkan tangan meminta gendong pada Keenan.
__ADS_1
“Nak, mommy harus pulang ke London. Kakek mu sendirian di sana!” mulai menjelaskan situasinya yang tidak mungkin di pahami oleh Abigail, anak kecil berusia 3 tahun.
“Elle pergilah, aku akan menjaga putriku dengan baik, dan datanglah ke acara pernikahan Steven dua minggu lagi. Aku akan mengembalikannya padamu!”
Dia bilang putrinya, siapa yang dulu tidak mau menganggap kehadirannya. Dasar aneh, putriku akan selamanya menjadi putriku.
itu masih sangat lama, bagaimana bisa belle meninggalkan Abigail bersama ayahnya. Belle tidak bisa hidup tanpa Abigail, dan pikirannya hanya tertuju pada putrinya saja.
Namun saat melihat senyuman terbit dibibir mungil putrinya. Belle memutuskan mengalah dan membiarkan Keenan membawa putrinya selama dua Minggu.
Biarkan Keenan menghabiskan waktunya bersama Abigail selama dua Minggu terakhir. Lagi pula Keenan ayah biologisnya, berhak menghabiskan waktu bersama putrinya.
“Aku pergi sekarang, jaga Abigail baik-baik. Awas saja jika dia terluka. Walaupun hanya satu goresan saja, aku pastikan kau akan mati ditangan ku!" kata Belle sarkas.
Sebelum meninggalkan kamar Keenan. Wanita itu menciumi pipi Abigail dan berpamitan padanya. Sesaat Abigail tidak mau Belle pergi. Namun, setelah Belle memberikan penuturan serta Keenan ikut membujuk. Membuat anak kecil itu mengerti dan membiarkan Belle pergi.
"Sampai bertemu dua Minggu lagi, sayang!"
"Tunggu, aku akan menyuruh salah satu anak buah ku mengantarkan mu!"
"Cepat kalau begitu, aku sudah sangat terlambat."
Keenan memutar bola matanya malas. Lalu meminta bodyguardnya mengantar Belle sampai ke bandara dengan selamat.
Sepanjang perjalanan Belle merenung. Selama ini dialah yang mengandung Abigail selama sembilan bulan. Membesarkan Abigail seorang diri.
Tapi kenapa dengan entengnya Keenan meminta Abigail tinggal bersama selama dua Minggu. Sedangkan kemarin Keenan menolaknya mentah-mentah.
Tidak ikhlas, itu pasti. Siapa yang sudi membiarkan anaknya bersama dengan orang yang menghinanya habis-habisan.
"Nona kita sudah sampai!" Belle membuka matanya, mengangguk membuka pintu keluar dari mobil. Ia meminta bodyguard menurunkan koper.
"Terimakasih pak!"
"Sama-sama nona!" jawabnya sebelum menghilang dari pandangan Belle.
Tapi sebelum bodyguard itu pergi, dia benar-benar memastikan Belle benar-benar menaiki pesawatnya.
__ADS_1
TBC