
Damian menghentikan tawanya, menyandarkan punggung lebarnya pada kepala kursi. Damian memang menyukai tantangan,tapi bukan berarti pria itu tidak merasa takut.
Jujur saja perasaan gelisah mulai menghampiri. Damian bisa melihat tekad Alex lewat tatapan matanya. Dan Alex pasti bersungguh-sungguh dengan peringatannya.
"Kepalaku sakit, buatkan aku kopi!"
"Baik Sir!" jawab Adam sedikit menyunggingkan senyum. Senang Damian tidak membawa pekerjaannya pulang. Biasanya saat moodnya sedang buruk seperti saat ini. Damian selalu ingin pulang.
...🦋🦋🦋🦋...
Sementara itu,
Alex melajukan mobilnya ke arah pinggiran kota. Di mana sebuah bangunan tua berdiri kokoh dengan penjagaan yang sangat ketat.
Dari luar terlihat seperti bangunan tua yang usang. Tetapi begitu Alex masuk kedalam, dia di buat kagum oleh desai interior setiap ruangan.
Langkah terhenti begitu mendapati seorang pria paruh baya duduk membelakanginya. "Aku sudah melakukan semua yang kau perintahkan. Sisanya terserah padamu, aku tidak peduli!"
Pria paruh baya memutar kursinya menghadap Alex."Bagus! Senang bekerja sama dengan mu anak muda!"
Pria itu mengulurkan tangan, sesaat Alex sempat terdiam dan hanya memandangi tangan yang terjulur itu. Namun kemudian ia menjabat tangannya dan tersenyum tipis.
"Senang bekerja sama dengan mu juga tuan!"
...🦋🦋🦋🦋...
Damian mengerjakan dua dokumen saja, menghadiri satu rapat penting dan setelah itu pulang lebih awal. Semakin lama, kepalanya semakin berdenyut.
Damian butuh istirahat, rasa sakit ini akan menghilang setelah Grace menciumnya. Sayangnya Damian tidak menemukan Grace begitu Samoa di rumah.
Sepi, di mana wanita itu pikirannya. "Di di di!" Xavier berjalan menghampiri. Di susul Ellie di belakang sana. Wanita paruh baya itu senang menjadi baby sister Xavier.
"Kemari sayang!" Damian berjongkok di bawah lantai. Merentangkan tangan, menunggu Xavier datang. Begitu anak itu memeluk tubuhnya erat-erat. Damian langsung menggendongnya.
"Di mana istri ku?" tanya Damian, beralih pada Grace kini.
"Nyonya muda tertidur di kamarnya tuan!" jawab Ellie sopan.
"Tidur? jam segini?" melirik sekilas ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan. Keheranan tatkala mendapati Grace masih tidur di siang hari.
"Aku akan membawa Xavier ke kamar. Lanjutkan pekerjaan mu!" tanpa menunggu balasan Ellie. Kaki jenjang Damian berjalan masuk kedalam lift.
Tiba di kamar Damian menurunkan Xavier di atas karpet tebal di depan ranjang. Setelah itu, Damian duduk di pinggiran ranjang.
Sesekali mengusap lembut kepala Grace dan mendaratkan kecupan singkat. Bagi Damian Grace adalah hidupnya, Damian tidak siap jika harus kehilangan wanita itu.
__ADS_1
"Aku sangat mencintaimu Grace. Aku tidak akan membiarkan bajingan Alex itu merebut mu dari ku." bisik Damian, kemudian meraih punggung tangan Grace dan menciumnya.
Grace sama sekali tidak terganggu dengan perlakuan dan sentuhan Damian. Wanita itu malah semakin tidur nyenyak karena rasa aman yang diberikan Damian.
"Di play!" teriak Xavier. Mencoba mengajak bicara Damian.
"Play?" tanya Damian memastikan. Kata demi kata mulai bisa Xavier ucapkan.
"Ya ya!"
Damian mengulum senyum teduh, senang melihat pertumbuhan Xavier. "Baiklah dad akan menemani mu bermain!"
Damian melepaskan sepatu, jas dan dasinya. Kemudian duduk di samping Xavier. Ikut menggerakkan robot-robotan yang ada.
...🦋🦋🦋🦋...
"Dor! dor! dor!" Damian membuat suara. Sedangkan Xavier menodongkan pistol mainan ke arahnya.
"Boom!" teriak Xavier. Damian pun berlagak seperti orang tertembak. Dan Xavier tertawa kencang, seolah senang sudah menghabisi ayahnya sendiri.
Suara mereka terdengar kencang sampai-sampai mengganggu waktu istirahat Grace. Perlahan wanita itu mengerjapkan mata, menyesuaikan cahaya lampu dengan netra indahnya.
"Hoaam!" menguap panjang. Matanya melotot lebar saat melihat jarum jam menunjukkan jam 2 Siang.
Gelak tawa terdengar nyaring di bawah sana. Grace mencari sumber suara tersebut, melihat Damian bermain bersama Xavier membuatnya tanpa sadar menerbitkan senyum sumringah.
"Aku sudah pulang Grace!" jawab Damian, kembali bermain dengan Xavier.
"Kenapa pulang lebih awal?"
"Aku sedang tidak enak badan Grace! kepala ku pusing!" jelas Damian. Sontak Grace membuang selimutnya ke sembarang arah.
"Kenapa tidak bilang dari tadi, aku akan memanggil dokter!" ujar Grace.
"Tidak usah Grace! aku merasa lebih baik setelah bermain bersama putra kebanggaan ku ini!" menunjuk Xavier lewat isyarat mata.
"Kalau begitu kau harus minum obat!"
"Tidak perlu Grace, aku sudah punya obat sendiri. Lebih mujarab dari obat-obatan yang diresepkan dokter." ucap Damian, tersenyum nakal.
"Apa itu?" tanya Grace was-was. Melihat bias kenakalan di mata tajam Damian membuatnya takut.
"Ciuman mu! kemari ciup bibir ku!" benar prespektif Grace. Damian menginginkan hal-hal mesum.
"Tidak mau!"
__ADS_1
"Kau ingin aku memaksa mu?" sahut Damian cepat. Sontak Grace mengerucutkan bibir, berjalan mendekati sang suami. Dan mendaratkan ciuman singkat dibibir seksi itu.
Cup!
"Puas?" Damian tersenyum,lalu menarik pergelangan tangan Grace kuat. Sampai membuat wanita itu terjatuh di pangkuannya.
"Sekarang apalagi? aku sudah memberi mu ciuman. Lepaskan aku dan biarkan aku pergi ke kamar mandi. Aku belum mandi sejak pagi tadi!" rengek Grace. Meronta-ronta berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Damian.
"Aku akan membantu mu membersihkan diri, babe!" bisik Damian. Menghempaskan napas di daun telinga Grace. Sampai-sampai membuat wanita itu merinding.
"Ef!" pekik Grace malu. Memukul dad bidang Damian. Melihat cela yang ada langsung melepaskan diri dan masuk kedalam kamar mandi.
Damian sendiri tidak tinggal diam. Menggendong Xavier, bergegas turun ke bawah. Di mana Ellie? Damian harus segera kembali dan membantu Grace mandi.
Damian menyapu pandangannya ke
seluruh penjuru ruangan, namun tidak dapat menjumpai keberadaan Ellie. Entah kemana wanita tua itu.
Kini penglihatannya terkunci pada satu objek. Adam, pria itu terlihat fokus membaca dokumen di ruang tengah atau ruang keluarga.
"Bawa dia, aku akan mengambilnya setelah selesai membantu Grace mandi!" tanpa menunggu persetujuan Adam, Damian meletakkan Xavier di atas paha kekar Adam.
"Seharusnya aku saja yang menjadi ayah mu nak!" gumam Adam, kasihan pada majikan juniornya ini. Sebab di abaikan oleh orang tuanya sendiri.
Adam yakin pasangan konyol itu tidak akan sebentar, mengingat pikiran mesum bosnya yang melebihi batas normal.Setelah menitipkan Xavier, Damian kembali menapakkan kakinya masuk kedalam kamar.
Mendobrak pintu kamar mandi dan masuk kedalam tanpa izin. "Apa yang kau lakukan Ef?" sentak Grace, saat melihat Damian masuk tanpa izin.
Damian menaikkan sebelah alisnya, "tentu saja memandikan mu Grace!" Grace memukul kuat lengan Damian, pipinya mulai memerah.
"Aku tidak mau, aku masih bisa mandi sendiri!" sarkas Grace.
"Tidak! aku akan membantumu mandi, lagi pula aku sudah melihat seluruh bagian tubuhmu. Bahkan aku juga sudah merasakannya. Kenapa kau harus malu?" seketika wajah Grace semakin memerah.
"Aku bisa melakukannya sendiri, keluar dan bermainlah bersama Xavier." Usir Grace.
"Tidak ada penolakan, apa kau mau membantah ku lagi. Kau mau ku hukum seperti semalam?"
"Pijitan itu? baiklah aku akan memijat mu lagi nanti. Jika perlu sampai tubuh mu hancur!" kata Grace santai.
"Kali ini bukan pijatan biasa, tapi pijatan plus-plus!"
"Ef!"
TBC
__ADS_1
warning!
cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius 🙏