
Setelah kejadian semalam Damian enggan memperbolehkan Grace keluar dari mansion. Namun, Ara merengek memintanya untuk mengizinkan Grace pergi bersamanya. fitting baju kemarin masih belum selesai. Ara masih harus berkonsultasi dengan desainer itu.
Perdebatan terjadi, ancaman demi ancaman terlontar dari mulut Ara. Nama orang tua pun juga terbawa, semua itu Ara lakukan agar Damian mengalah dan membiarkan Grace pergi bersamanya.
Dan ya pada akhirnya Ara mengadu pada ayahnya. Membuat Damian mengalah dan membiarkan Grace pergi dengan syarat mereka harus kembali sebelum malam hari.
Ketiga orang itu asik berceloteh di dalam mobil kini. Xavier, Abigail, dan Alessio di asuh oleh maid mansion. Ketiga wanita itu sudah bebas melakukan apapun sekarang.
"Kak, bekerja sebagai desainer perhiasan. Apa itu menyenangkan?" tanya Ara pada Belle.
Mereka asik membicarakan pekerjaan masing-masing. Tapi tidak dengan Grace, wanita itu hanya menyimak sesekali tersenyum tipis. Tidak ikut menyahuti, mengingat profesinya sekarang adalah sebagai ibu rumah tangga saja.
"Sangat menyenangkan, selain mendapat banyak uang. Aku bisa menuangkan ide dalam bentuk sebuah gambar!" jawab Belle lembut di iringi senyum lebar.
"Grace, kau tidak berniat pergi bekerja?" tanya Ara. Beralih pada kakak iparnya kini.
Mendengar pertanyaan Ara, Grace terdiam seketika. Boro-boro pergi bekerja, untuk keluar dari mansion saja Grace harus memohon pada Damian. Apalagi untuk pergi bekerja, yang ada Grace bisa di bunuh suaminya nanti.
"Sebenarnya aku ingin pergi bekerja. Tapi, kau tau sendiri kakak mu tidak akan mengizinkan aku bekerja!" sahut Grace santai.
Bohong jika Grace tidak ingin bekerja. Hanya saja, Grace sudah sangat menikmati hidupnya sekarang. Rebahan, berbelanja, dua hal itu cukup menarik untuk di lakukan.
"Ya, kau benar kakak ku tidak akan mengizinkan mu bekerja. Jadi nikmati saja pekerjaan mu sebagai ibu rumah tangga sekarang. Lagi pula uang kakak ku tidak akan habis meskipun kau membeli sebuah perusahaan sekalipun." ujarnya menyombongkan harta milik kakaknya.
Belle dan Grace hanya menggelengkan kepala. Tidak bisa menyanggah atau melayangkan protes. Sebab semua yang di katakan Ara benar adanya.
Hening, tidak ada suara yang terdengar setelah percakapan itu. Bahkan setelah sampai di butik mereka masih diam.
"Akhirnya kalian sampai. Aku lelah menunggu kalian, sialan!" Rachel langsung berteriak kesal kala melihat tiga wanita itu berjalan dengan santainya.
Selain mengajak Belle dan Grace, Ara juga mengajak Rachel. Karena itu Ara mati Matian memohon pada kakaknya untuk mengizinkan Grace pergi agar mereka bisa berkumpul dan menghabiskan waktu bersama.
"Maaf! ini semua salah Grace, karena dia terlalu lama berdandan!" Ara menumbalkan Grace. Tidak ingin menjadi sasaran kemarahan Rachel.
"Hei bukan aku saja, kak Belle juga!" sanggah Grace,mendelik kearah Ara. Belle mengusap dadanya sabar, tidak berniat menyahuti perdebatan tidak berguna itu.
"Teruslah berdebat, aku dan Belle akan masuk kedalam!" Rachel menggandeng tangan Belle, meninggalkan Grace dan Ara yang masih berdebat.
"Tunggu kami!"
Ara berlari meninggalkan Grace, menyusul Belle dan Rachel yang sudah masuk kedalam ruangan VIP.
__ADS_1
Desainer menyambut mereka dengan ramah. Mengambil katalog dan membiarkan keempat wanita itu membolak-balikkan kertas tersebut dan memilih gaun yang diinginkan.
Ara memilih sebuah gaun berwarna putih. Gaunnya tidak terlalu besar, namun di penuhi dengan Payet kristal. Belle juga menyimak pembicaraan antara Ara dan desainer tersebut. Ingin menyesuaikan desain perhiasannya dengan gaun yang di pilih Ara.
"Sempurna, aku sangat menyukai semua rancangan mu kak!" pekik Ara. Memegang kertas gambaran Belle sambil tersenyum lebar memperlihatkan gigi rapinya.
"Aku akan menyuruh Daddy mengirimkan berliannya padamu nanti!"lanjutnya. Belle menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Bukan sembarang berlian yang akan di pakai Ara nanti. Berlian itu sangat langka. Hanya bisa Hans Wilson dapatkan dari dunia gelap, tentu saja dengan bantuan Dominic.
Harga berlian itu sangat fantastis setara dengan harga dua mansion berlantai 3. Bayangkan berapa banyak uang yang dikeluarkannya demi membuat putrinya tampak cantik di hari pernikahannya nanti.
Sementara itu, Rachel dan Grace melihat pakaian jadi. Grace melihat banyak pakaian yang dipakai artis papan atas.
“Grace coba ini!”
Memberikan sebuah baju bewarna Milo. Seperti biasa Rachel yang memilihkan Grace baju. "Apa ini?" tanya Grace seraya mengamati dress tersebut.
"Jangan banyak tanya, coba dan perlihatkan pada ku!" perintah Rachel ketus.
Tidak ingin terkena amukan dari sahabatnya, Grace pun menurut. Masuk kedalam ruang ganti dan mencoba dress pilihan Rachel.
"Wah! kau terlihat cantik memakai gaun ini!” pujinya ketika Grace keluar dari ruang ganti, warna gaun yang sesuai dengan kulit Grace seperti menyatu menjadi perpaduan yang sempurna.
“Aku ambil yang ini?” Rachel menoleh memegang dagunya, menatap Grace sekali lagi. Namun, kali ini lebih detail dan rinci.
“Aku rasa kau harus mencoba semua ini, baru aku bisa menentukan mana yang paling cocok untukmu!” menimpa Grace dengan setumpuk pakaian.
Lelah, itu pasti. Tapi Grace merindukan suasana ini. Dimana Rachel akan mengambil ini itu dan menyuruhnya mencoba semuanya.
Sekarang mereka sudah tidak sebebas dulu, masing-masing sudah memiliki suami yang posesif. Lebih jengkelnya mereka suka menggunakan hukuman sebagai ancaman
Tidak di pungkiri mereka bahagia akan semua cinta dan perhatian yang diberikan oleh suami masing-masing. Rachel yang dulunya menolak keberadaan Peter dan tidak mengakui pernikahannya. Kini memilih menerima takdir dengan lapang dada.
Rachel menjalankan semua kewajiban seorang istri dan menantu dengan baik. Bisa dibilang cukup sempurna. Walaupun beberapa waktu lalu, seorang wanita datang mengaku sebagai tunangan Peter.
Keberanian membuat Rachel berhasil mendepak pelakor itu. Rachel berhasil menjaga rumah tangganya agar tetap utuh.
“Re, aku tidak sekuat dulu. Ingat aku sedang hamil muda.” Rengek Grace. Tidak ingin mencoba semua pakaian itu.
“Maafkan aku Grace, aku lupa kau sedang hamil sekarang. Ya sudah, pilih gaun ini saja warnanya kalem di kulit mu.” Grace mengangguk setuju.
__ADS_1
“Sekarang kau cari dress untuk dirimu sendiri!” Rachel mengangguk, melangkah pergi menuju pakaian yang didominasi warna gelap.
“Serius, kau mau pakai baju warna hitam?” Rachel cekikikan mendengar pertanyaan sahabatnya.
“Tentu saja, aku harus menyesuaikan pakaian ku dengan pakaian Peter. Kau tau sendiri, dia gemar memakai pakaian serba hitam. Mungkin karena dia seorang pemimpin mafia!” Grace memajukan bibirnya membentuk huruf o.
"Aku akan mencoba gaun ini. Tunggu aku dan berikan pendapatmu!” Grace mengangguk, melihat sepatu sembari menunggu Rachel.
"Bagus, tapi aku tidak bisa memakainya. kakiku pasti bengkak!" gumamnya seraya memperhatikan sepatu heels setinggi 12cm bewarna gold.
“Grace lihat penampilanku, apa cocok?”
Grace menolehkan kepala, melihat Rachel dari atas sampai kebawah. Menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, kemudian menyuruh Rachel berganti.
“Tidak, gaun itu membuatmu terlihat gemuk!” sarkas Grace jujur.
“Okey tidak masalah, masih ada dua gaun lagi yang perlu ku coba!” sedikit kecewa. Namun, Rachel masuk kembali kedalam ruang ganti.
Setelah mencoba semua baju. Rachel meminta pendapat sahabatnya, “sudahkan, menurutmu mana yang paling cocok?” jengah Rachel, lelah karena bolak-balik ke ruang ganti.
“Jujur saja aku suka gaun yang kedua, sangat pas di tubuh mu. Tapi keputusan terakhir berada ditangan mu, Re!”
Sebenarnya aku juga suka baju yang kedua, tapi belahan dadanya sangat rendah. Bukannya pergi ke pesta pernikahan, Peter mungkin menyeret ku ke kamar nanti.
“Aku akan pakai yang ketiga saja, itu lebih tertutup dari pada yang lain!”
“Yah terserah kau saja, apa sekarang temanku ini jadi istri yang penurut?" ejek Grace diakhiri gelak tawa kecil.
"Kau seharusnya mengaca Grace, kau juga takut pada Damian kan karena itu kau selalu memakai pakaian tertutup. Padahal dulu kau gemar sekali memakai pakaian minim dan minum alkohol!"
"Hahaha... Ef berhasil mengubahku menjadi lebih baik dan aku tidak menyesal karena berhasil meninggalkan Dunia tidak terpuji seperti itu!" jelas Grace.
"Aku tahu, kau begitu mencintai suamimu?" Grace tersenyum, Pipinya merona merah.
"Tentu saja bagiku Ef adalah suami terbaik di dunia ini!" lirihnya menunduk menatap lantai licin dibawahnya.
"Hm dasar bucin, ayo kita masuk kedalam Ara dan Belle pasti sedang menunggu kita!" menarik tangan Grace masuk kedalam ruangan VIP.
TBC
warning!
__ADS_1
cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius. 🙏