Mr Billioneire Wife

Mr Billioneire Wife
Penculikan Grace 1(Revisi)


__ADS_3

Begitu mobil mereka sampai di hamparan hotel. Semua wartawan bergegas menyorot mereka berdua. Beberapa bodyguard berusaha menghandle situasi dengan menahan wartawan agar tidak menghalangi jalan para tamu undangan.


"Welcome Mr Wilson!" sapa seorang pengusaha paruh baya berambut pirang. Di sampingnya terdapat seorang wanita paruh baya yang sepertinya adalah istri dari pengusaha tersebut.


Mereka adalah Mr dan Mrs Grey. Mitra bisnis Damian yang bekerja sama membangun mall ini. "Terimakasih atas sambutannya Mr!" Damian menjabat tangan keriput itu tanpa mengulum senyum.


Tatapan Mr Grey beralih pada Grace kini. "Ini....?" menggantungkan kalimat. Membiarkan Damian menjawab.


"Dia istri ku dan ini anak pertama kami!" balas Damian memperkenalkan istri dan putranya.


"Kalian pasangan yang serasi! dan maafkan saya Mrs. Karena pekerjaan saya harus membawa suami anda setiap malam untuk mengikuti rapat." ujar Mr Grey. Menggoda pasangan suami istri itu.


Grace tersenyum tipis. "Tidak masalah Mr! saya mengerti!"


Jadi Damian tidak berbohong, pria itu tidak mengkhianati dirinya. Rasa bersalah menghampiri, tidak sanggup berkata-kata. Merasa tak pantas bersanding dengan Damian. Pria sejuta pesona dengan kesetiaan yang luar biasa.


"Kalau begitu mari kita mulai acaranya!" ajak Mr Grey. Damian mengangguk lalu menggandeng Grace ke dekat pita merah yang membentang dari ujung ke ujung.


Acara pemotongan di lakukan oleh Damian dan Mr Grey. Para reporter mengarahkan kameranya ke arah mereka berdua. Grace berdiri di samping Damian. Ikut senang melihat kesuksesan suaminya.


"Apa acaranya masih lama Ef?" tanya Grace dengan dahi berkerut. Seolah sedang menahan sesuatu.


"Sebentar lagi selesai Grace. Kenapa? apa kau sakit?" tanya Damian khawatir, langsung mengarahkan punggung tangannya menyentuh dahi Grace untuk mengecek suhu.


"Aku tidak sakit Ef. Hanya saja aku ingin buang air kecil." menjawab dengan nada tercekat sebab sudah tidak tahan ingin buang air kecil.


"Kenapa kau tidak bilang dari tadi. Ayo, aku akan mengantarmu!" tertawa konyol. Lalu memandu Grace dengan perasaan dongkol.


"Kau tunggu didepan saja!"


"Aku akan masuk dengan mu." suara tawa terdengar dari beberapa wanita yang ada disini. Seketika mereka menjadi bahan pembicaraan.


Grace menundukkan kepalanya, menyembunyikan perasaan marah bercampur malu. Tidak bisakah suaminya ini bersikap normal sebentar saja.


"Ef, apa kau sudah tidak waras, tunggu di luar saja. Kau mau menjadi bahan gosip ibu-ibu disini." bisik Grace menekankan setiap kata, kesal dengan sikap tidak tahu malu Damian.


Damian tersenyum menggoda, keluar sembari tergelak lucu. "Sir, bisa anda ikut saya sebentar. Ada telfon dari ibu anda!" Damian mengangguk mengambil telepon dan mendengarkan suara ibunya.

__ADS_1


Tok! tok! tok!


"Sebentar Ef, aku masih belum selesai." geram Grace.


Tok! tok! tok!


Ketukan berulang tiada henti, membuat Grace marah-marah sendiri. "Ck, iya-iya aku keluar!" Grace membuka pintu. Melihat siapa yang datang membuat Grace membulatkan matanya lebar-lebar.


Belum sempat dia berteriak, sebuah tangan membungkamnya dengan sapu tangan yang sudah diberi obat bius.


Awalnya Grace menahan napas dan meronta-ronta. Berusaha untuk melepaskan diri. Namun, pertahanannya runtuh kelopak matanya mulai tertutup hingga akhirnya kesadarannya pun menghilang sepenuhnya.


Akhirnya aku mendapatkan mu!


"Bawa dia!" perintah seorang pria misterius.


Tak lama setelah itu, dua pria berbadan tambun mengangkat Grace keluar dari kamar mandi melalui jendela tanpa diketahui Damian yang sibuk mengobrol di telepon. Sebelum itu mereka mengunci pintu dari dalam guna menyita waktu Damian.


"Mom, aku tutup teleponnya. Aku rasa Grace sudah selesai!" menekan tombol merah, mengakhiri pembicaraan.


"Grace, apa kau sudah selesai?" teriak Damian dari luar. Ini sudah lebih dari 15 menit kenapa Grace tak kunjung membuka pintu.


Jendela terbuka, apa Grace melarikan diri. Tubuh Damian memanas, tangannya terkepal kuat, darah di dalam tubuhnya seakan mendidih.


Rasanya Damian tidak yakin Grace melarikan diri setelah menyatakan cintanya. "Dam!" teriak Damian memanggil sang sekertaris.


"Ya Sir!" Adam membungkuk hormat. Melihat betapa kelamnya tatapan mata Damian. Pria itu yakin telah terjadi sesuatu di sini.


"Periksa cctv dan cari di mana Grace berada!"


Seakan tidak percaya mendengar Grace melarikan diri. Adam terdiam sejenak, "kenapa kau masih ada di sini? cepat cari." teriak Damian memerintah. Adam mengangguk singkat sebelum akhirnya menapakkan kakinya pergi menuju ruang keamanan.


...🦋🦋🦋🦋...


"Sir, nyonya muda tidak melarikan diri. Seseorang membawanya pergi tanpa sepengetahuan anda." hardik Adam menunjukkan layar laptop. Terpampang jelas wajah Alex, bodoh sekali dia tidak memeriksa ataupun menghapus rekaman CCTV.


"Lacak keberadaan mereka." Adam mengerti. Kembali mengotak-atik laptop, memasukan kunci-kunci seolah dia benar-benar seorang hacker profesional.

__ADS_1


Yah setelah menemukan Grace beberapa bulan lalu. Damian melekatkan alat pelacak semacam chip dibelakang leher Grace. Tidak ingin kehilangan Grace untuk yang kesekian kali. Karena itu Damian memesan alat canggih tersebut.


Mata katarak milik Alex mana mungkin menemukannya. Jika CCTV sebesar itu saja tidak dia perhatikan. Apalagi chip sebesar kutu rambut. Pria bodoh itu tidak akan menyadarinya.


Damian menyandarkan punggungnya ke kursi. Memejamkan mata, mencoba menenangkan Amarah yang terus bergejolak. Helaan napas berat terdengar berulang kali. Tentang Grace, secantik itukah istrinya sampai-sampai menjadi rebutan para pria diluar sana.


Jika sampai terjadi sesuatu yang buruk pada istri dan calon anaknya. Damian bersumpah akan melenyapkan Alex detik itu juga.


Baru saja mereka berbaikan. Tetapi masalah tak henti-hentinya membanjiri rumah tangga mereka. Jalan yang mereka tempuh tidaklah semulus aspal Korea. Begitu tajam dan penuh dengan lika liku. Damian hanya menginginkan kebahagiaan. Mengapa Tuhan menuliskan takdir mereka dengan sedemikian rupa. Tidak ada tanda-tanda ketenangan ataupun kedamaian dalam hubungan rumah tangga mereka.


Sembari berkutat dengan gadget, Adam sesekali melirik bos-nya. Ia berdehem singkat sebelum melaporkan keberadaan nyonya mudanya. Ya Adam berhasil melacak Grace dalam waktu beberapa menit saja.


"Sir, sepertinya Alex membawa nyonya muda menjauh dari pusat kota." jelas Adam seraya menunjukkan peta dengan satu titik merah yang menerangkan keberadaan Grace.


Tunggu sebentar, jalur ini adalah jalur yang di lintasi pesawat. Alex berhasil mengulur waktu, sial semuanya sudah terlambat. Alex cukup pintar begitu mendapatkan Grace langsung membawanya pergi jauh dari jangkauan Damian.


"Kita tidak bisa menyusul mereka sekarang sir. Kita harus menunggu mereka sampai di tempat tujuan." Ujar Adam, kepala Damian semakin berdenyut nyeri.


Bibirnya terangkat membentuk senyum smirk. Ia menendang kursi sebelum pergi meninggalkan mall baru miliknya. Kesal, Alex benar membuat amarahnya meledak kali ini. Lihat saja nanti, Damian pasti menghabisi mantan tunangan istrinya itu.


...🦋🦋🦋🦋...


Suasana hangat menyelimuti bumi akibat munculnya bulatan berkilau dari arah timur. Pertanda pagi yang cerah telah di mulai. Grace membuka mata, awalnya semua nampak buram hingga akhirnya terlihat jelas kamar mewah yang terlihat asing di matanya.


Dimana aku, mencoba bergerak namun tangan dan kakinya terikat sempurna di kursi besi. Mulutnya tersekat lakban, membuatnya tidak bisa bicara atau berteriak dengan leluasa. Seingatnya setelah buang air kecil, seseorang datang membekap mulutnya kemarin.


Grace hanya bisa menangis pasrah, perutnya terasa kram. Sakit sekali akibat duduk terlalu lama. Tidak bisakah penculik itu membaringkan tubuhnya di atas kasur saja.


Ceklek! Pintu terbuka memperlihatkan wajah familiar paling dibencinya, masuk dengan seringai kemenangan.


"Akhirnya kau bangun sayang, kau tidur lama sekali. Aku lelah menunggu." serunya sok akrab seraya membelai lembut wajah Grace.


Tidak sudi disentuh, Grace memalingkan wajah. Mengelak sentuhan Alex. Tidak terima dengan perlakuan Grace, Alex mengapit kuat kedua pipi Grace.


"Jangan menolak sentuhan ku, sayang. Kau adalah milik ku sekarang." dinginnya. Lalu melepaskan cengkraman itu dengan kasar dan meninggalkan bekas kemerahan. Alex meninggalkan kamar,tanpa melepaskan ikatan ataupun memberikan makanan.


Ef tolong aku, perutku sakit. Aku mohon datanglah Ef lindungi anakmu. Aku tidak mau menjadi milik bajingan gila itu.

__ADS_1


Menangis menumpahkan semua kesedihan berharap Tuhan kasihan dan membawakan suaminya kesini.


TBC


__ADS_2