
Tujuh tahun berlalu, erangan seorang wanita terdengar di sebuah ruangan khusus. Damian terlihat duduk sembari menggenggam erat tangan Grace.
Hari ini buah hati mereka yang keempat akan segera lahir. Kate dengan beberapa perawat membantu persalinan dan menyuruh Grace melakukan semua instruksinya.
Grace mengejan, tenaganya mulai terkuras habis. Sampai teriakan panjang menjadi dorongan terakhir. Sebuah tangisan nyaring menggelegar ke seluruh penjuru ruangan. Kate tersenyum dan menyerahkan bayi merah itu pada perawat untuk di mandikan.
"Selamat tuan, anak anda perempuan lahir dengan keadaan sehat dan selamat!" ujar Kate dengan senyum merekah.
Damian terdiam beberapa saat. Dinaikkan kedua ujung bibirnya membentuk senyuman tipis. Kedua kelopak matanya memanas, terharu akan berita yang didengarnya barusan.
Di luar kamar, Xavier beserta kedua adiknya duduk menunggu di kursi panjang. "Kak Xavi, apa mom baik-baik saja?" tanya Derrick, dengan wajah polos imutnya.
Derrick Wilson, anak kedua Grace. Dua tahun setelah menjalani program kehamilan. Ia dikaruniai dua orang anak laki-laki.
"Erick, mom pasti baik-baik saja. Apa kalian mengantuk?" tanya Xavier, pada kedua adiknya yang tampak menguap berulang kali. Mengingat hari semakin larut.
"Kak, aku ingin minum!" ucap seorang anak kecil, yang tak lain adalah Darren Wilson, anak ketiga Grace dan saudara kembar Derrick. Mereka beda 10 menit saja.
"Tunggu disini kakak akan mengambilkan mu minum!" baru Xavier melangkah, Adam datang mengajak mereka beristirahat.
"Tuan muda, mari ikuti saya!"
"Paman, Darren haus!"
"Paman akan mengambilkan mu minum dan makanan di sana. Ayo, ini sudah malam nak, kalian harus beristirahat!" Adam berjongkok, menyamakan tingginya dengan tinggi ketiga bocah cilik itu.
"Baiklah ayo!" kata Darren, kemudian menggandeng tangan Adam sebelah kiri, sedangkan tangan kanannya digandeng oleh Derrick. Xavier mengikuti dari belakang.
...π¦π¦π¦π¦...
"Tuan! putri anda kami letakkan di kamar khusus yang telah anda siapkan!" Damian mengangguk paham.
Ucapan terimakasih berulang kali keluar dari bibir, di tunjukkan pada sang istri yang masih mengatur nafas. Grace tersenyum samar sebelum menutup mata, tak sadarkan diri.
"Kenapa dia menutup matanya?"
"Itu hal yang wajar tuan, Grace kelelahan karena mengejan. Saya akan membersihkan dan menjahit lukanya. Sementara itu silahkan anda keluar dari sini!" selama ini Kate selalu menggunakan bahasa formal saat berbicara Damian, namun tidak dengan Grace. Karena keduanya sudah akrab.
Tak banyak bicara Damian pun menampakkan kakinya keluar. Di Sana ia terkejut karena tak mendapati ketiga putranya.
"Xavier, Derrick, Darren, kalian dimana nak?" teriak Damian. Adam yang baru membeli minum, bergegas mendekat dan memberitahukan keberadaan ketiga tuan mudanya.
"Sir! saya membawa tuan muda istirahat di samping kamar nyonya muda!" Damian bernafas lega, kemudian masuk kedalam kamar.
"Dad, apa mommy baik-baik saja. Apa adikku sudah lahir?" Xavier membanjiri ayahnya dengan sederet pertanyaan.
"Mommy baik-baik saja boy, adik mu perempuan!"
"Apa Xavi bisa melihatnya?"
"Besok ya nak, sekarang tidurlah. Dad akan menemani kalian disini!" Xavier mengangguk, dan membaringkan tubuhnya di samping kedua adiknya. Ia mulai memejamkan mata.
Damian menatap dalam ketiga putranya, tak pernah membayangkan jika dirinya mempunyai anak sebanyak ini. Apalagi dengan kepribadian yang berbeda-beda.
Xavier, bijaksana dan cuek. Derrick, si pembuat onar. Dan juga Darren, si cengeng yang manja. Lengkap sudah kebahagiaan yang ia inginkan. Apalagi kedatangan seorang putri menambah warna dalam kehidupannya.
__ADS_1
"Putri ku, sebaiknya nama apa yang pantas ku berikan untuknya?"
Tidak mungkin Sky, karena nama itu Damian berikan pada putrinya yang sudah tiada. Sampai kapanpun itu tidak akan pernah berubah. Karena Sky jugalah putrinya.
Besok aku harus membahasnya dengan wanita ku, karena dia adalah ibunya. Lebih berhak atas princess kecil ku!
...π¦π¦π¦π¦...
Matahari tampak merangkak naik, memaparkan cahayanya masuk kedalam jendela, mengganggu tidur Damian beserta ketiga anaknya.
Ketiga orang itu membuka mata, tidak dengan Darren. Ia menangis mencari ibunya, setelah bermimpi buruk. Karena tak tahan, Damian membawa Darren menemui Grace.
Sebelum itu ia menyuruh Xavier dan Derrick membasuh muka.
Ceklek! pintu terbuka. Grace tersenyum menatap ayah dan anak itu. "Darren, kenapa menangis nak?" Grace mengulurkan tangan, meminta putra cengengnya duduk di pangkuannya.
"Aku bermimpi mommy pergi jauh, aku tidak mau kehilangan mu, mommy!" Darren menangis kencang, memeluk erat punggung ibunya.
Grace tergelak, selalu saja begini. Tak jarang Darren menangis dan bermanja-manja padanya karena sebuah mimpi buruk.
Diambang pintu, Xavier menggandeng adiknya- Derrick masuk kedalam kamar dimana ibunya berada. Ia berdecak, mendapati Darren terisak seraya memeluk ibunya. Dasar anak mama!
"Mommy! apa kau baik-baik saja?" tanya Xavier, memeluk lengan kaki Grace.
"Tentu saja nak, mom baik-baik saja!" Grace tersenyum, mengusap rambut putra kesayangannya.
"Lalu dimana adik ku mom?" tanya Xavier polos. Grace menunjuk ayunan kayu, yang tak jauh dari tempatnya berada.
Xavier dan Derrick berlari menuju ayunan tersebut. Mereka berdiri di samping, mengamati benda kecil yang amat cantik dan menggemaskan.
"Perempuan sayang," Xavier tersenyum menatap adiknya yang amat cantik. Mata yang sama dengannya. Berbeda dengan Derrick dan Darren, mereka berdua adalah duplikat Grace.
"Imut sekali!" gumam Xavier, tersenyum mendapati princess kecilnya menggenggam jari telunjuknya dan menatapnya tanpa berkedip.
"Namanya siapa mom?" kali ini Xavier yang bertanya. Grace melirik Damian lewat ekor mata. " Tidak tahu, tanya saja pada ayahmu!"
Damian tercengang, padahal semalam ia ingin mendiskusikan ini bersama. Tapi ternyata Grace menyerahkan tanggung jawab itu padanya.
Grace sengaja menyuruh suaminya yang memberi nama. Ia tahu Damian begitu menginginkan anak perempuan.
"Siapa dad?"
Damian terdiam cukup lama, ia menatap putrinya dalam. "Karena dia lahir bersamaan dengan mawar bermekaran di taman. Bagaimana jika Rose?" seru Damian, menatap bayi nakalnya meminta persetujuan.
"Sesuai yang kau mau sayang, lagi pula itu nama yang indah!" ucap Grace tersenyum kecil.
Tak ingin kalah, Darren berdiri dari pangkuan ibunya, dan bergabung bersama dua kakaknya. "Imut!" Darren sedikit mendorong ayunan itu.
"Kami akan memanggilnya Rosie!" sahut Xavier memandang Rose penuh kagum. Ia ingin menjadi kakak yang baik dan menjadi orang pertama yang di andalkan oleh adiknya.
"Kau menyayangi Rosie boy?" tanya Damian diakhiri dengan senyuman simpul. Xavier mengangguk, " tentu saja dad, dia adik perempuan ku satu-satunya!"
"Kalau begitu lindungi dan jaga dia, sama seperti daddy menjaga kalian!"
"Tentu saja dad, aku adalah kakak laki-lakinya!" Xavier berucap mantap.
__ADS_1
"Aku juga akan menjaganya dad!" Derrick masih gemas menoel pipi merah adiknya.
"Aku juga, dia cantik seperti boneka Barbie!" Darren ikut menyahut. Damian mengusap punggung ketiga putranya dengan lembut dan secara bergantian. Kemudian ia beranjak pergi, duduk di samping sang pujaan hati.
Damian mengupas apel untuk istri tercintanya, membiarkan ketiga putranya bermain dengan Rose.
Sampai tak lama kemudian pintu terbuka, memperlihatkan Rachel tengah menggendong seorang gadis kecil.
"Grace, sahabat ku. Aku ucapkan selamat karena kau melahirkan seorang putri. Astaga kenapa kalian cepat sekali. Aku bahkan masih mempunyai dua anak. Tapi kalian sudah mempunyai empat anak!" Rachel menurunkan Serra dan memeluk Grace singkat.
"Serra bermainlah bersama mereka!" Serra hanya diam tak bergeming.
"Tidak mau, aku benci kak Derrick. Dia selalu menjahili ku mommy!" rengek Serra, memegang erat baju Rachel.
"Tidak papa princess, jangan takut. Daddy disini, jika Derrick menjahili mu nanti. Bilang pada dad. Biar dad memotongnya menjadi perkedel!" Peter menyahut dari ambang pintu. Tangannya menggenggam seorang bocah laki-laki yang umurnya sama dengan Darren dan Derick.
"Hei dia putraku, berani sekali kau mengancamnya." Damian menatap tajam. Berkata dengan nada sengit.
"Dia yang menggangu putri ku dulu!" ketiga orang tua itu melengos, Peter masih tetap sama. Kejam tak berperasaan apalagi jika menyangkut dengan putrinya.
"Mereka hanya anak kecil, kenapa kau serius sekali. Malam ini tidur di luar jangan menyentuh atau mendekati ku!" ketus Rachel membuat Peter gelagapan.
"Aku hanya bercanda baby!" tersenyum konyol dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Serra pun memberanikan diri, ia mendekat dan melihat Rose. "Serra kenapa kau gendut sekali?" tanya Derrick dengan nada mengejek.
"Daddy!" rengek Serra memanggil sang ayah.
"Derrick, jangan mengejek sepupu mu!" kata Xavier, memperingati.
"Aku hanya bercanda saja, kenapa paman dan kakak melototi ku!" cibir Derrick melengos.
"Kak Xavier baik sekali, Serra jadi suka. Kakak mau menikah dengan Serra?" mengulurkan tangannya, meminta jawaban Xavier. Semua orang tampak tertawa. Berbeda dengan Xavier, ia menjabat tangan kecil tersebut.
"Tumbuhlah dengan baik, aku akan menikahi mu nanti!" bisik Xavier, hanya bisa didengar oleh Serra.
"Baik!" tak berselang lama Lucas beserta Kate data dengan menggendong bayi perempuan berumur satu tahun. Setelah 6 tahun menikah Kate akhirnya hamil dan dikaruniai anak perempuan.
Sempat mendapat cibiran jika Kate dianggap mandul, Lucas memilih bersabar dan setia menanti. Begitu pula dengan keluarganya tak menuntut untuk menikah lagi. Betapa beruntungnya Kate mendapatkan keluarga mertua sebaik mereka.
"Biar aku menggendong Winter!" Rachel mengulurkan tangannya. Kate tersenyum dan membiarkan Rachel mengambil alih.
"Wah cantik sekali, benarkan Samuel?" Rachel menyenggol putranya yang hanya diam tak bergeming.
"Iya dia cantik, aku jadi ingin menikah dengannya!" Samuel menjawab, namun memelankan suaranya disaat kalimat terakhir.
...π¦π¦π¦π¦...
Terimakasih buat kalian yang masih stay sampai akhir cerita. Sedih banget karena Novel author yang ini sudah tamat. sekali lagi terima kasih buat kalian yang terus menyemangati author. Maafkan author jika ceritanya nggak nyambung. Dan sampai jumpa di karya author yang lainβΊοΈβΊοΈβΊοΈβΊοΈππππππππβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Untuk cerita Peter author up akhir bulan ya, mulai besok author mau melanjutkan novel author yang " bayi kembar CEO tampan" sembari merevisi novel ini.
π€π€π€π€π
Sampai jumpa mantemanπππππ
__ADS_1