
"Keenan!"
Seorang pria bertubuh kekar atletik. Dengan ketampanan yang melebihi Damian dan Peter berjalan menghampiri mereka. Setiap langkah yang di ambil terlihat tegas dan berwibawa.
Namun keadaan pakaiannya terlihat kacau. Bagian kerah dan lehernya terkena percikan darah. Dari sini bisa Grace bayangkan betapa kejamnya Keenan saat menyiksa musuh.
"Saya sudah menyingkirkan pengkhianat itu tuan!" memberi laporan tanpa memberi hormat ataupun sekedar menyapa. Kurang ajar, tapi itulah Keenan.
"Bagus! aku akan memberi mu cuti selama beberapa hari untuk beristirahat." ujar Peter seraya menyunggingkan senyum sinis.
"Terimakasih tuan, kalau begitu saya akan pulang ke apartemen saya!" pamit Keenan. Hendak berbalik dan berjalan keluar.
Namun terhenti sejenak saat melihat Damian dan Grace duduk berdampingan di ruang tamu. "Jangan pulang dulu! Grace ingin bertemu dengan mu!"
Rachel menghentikan langkah Keenan. Lantas pria itu berbalik dan menatap Grace kembali. Alisnya sedikit terangkat seolah tertarik dengan bias ketakutan di wajah Grace.
"Ikut aku!" Grace menarik pergelangan tangan Keenan dengan sisa keberanian yang dimilik. Membawa pria itu menjauh dari kerumunan.
Damian tidak rela, tapi dia tidak bisa menghentikan langkah mereka berdua. Masalah ini harus selesai hari ini juga. Karena itu Damian terpaksa membiarkan mereka berbicara empat mata.
"Ada urusan apa nona? kenapa anda ingin bertemu dengan saya?"Keenan melepaskan cengkeraman tangan Grace dengan mudah.
Merasa sudah jauh dari kerumunan. Grace pun berbalik dan menatap Keenan marah. Yang di tatap justru semakin bingung. Pasalnya Keenan tidak merasa akrab dengan Grace. Bahkan bertegur sapa saja tidak pernah mereka lakukan saat bertemu.
"Kalung ini! kau yang memberikannya kan?" menunjukkan liontin milik Belle. Sontak Keenan menyahut liontin itu dan merubah ekspresinya menjadi gugup.
"Melihat bagaimana reaksi mu, aku yakin liontin itu adalah milik mu!" lanjut Grace lagi. Semakin lama ucapannya semakin mengintimidasi Keenan.
"Dari mana anda mendapatkan liontin ini, nona?" tanya Keenan tenang.
"Dari wanita yang kau ambil kehormatannya!" jawab Grace lantang. Penuh penekanan dan emosional.
"Asal kau tau, wanita yang sudah kau tiduri itu kakak ku. Belle!" teriak Grace membuat Keenan tersentak kaget.
Wanita jahat berambut pirang itu putri sulung Daniel Elard. "Jadi pelacur itu kakak anda, nona?" tanya Keenan dengan nada mengejek.
__ADS_1
"Baiklah, saya akan memberi kompensasi atas pelayanan spesialnya."
Plak! satu tamparan Grace layangkan ke pipi Keenan. Berani sekali sampah sepertinya menghina Belle- kakaknya.
"Tutup mulut mu itu! Belle bukan pelacur. Apa kau pikir kehormatan kakak ku bisa kau tukar dengan uang yang tak seberapa itu?" sungut Grace marah.
"Tapi dia juga menikmati sentuhan saya nona. Kenapa anda berkata seolah saya penjahat yang sudah mengambil kehormatan Belle secara paksa?" tanya Keenan. Satu alisnya tertarik ke atas, menandakan jika dia mulai tertarik dengan pembicaraan ini.
"Kau memang memperkosanya dungu!"
“Saya tidak memperkosanya, tapi saya membantu memadamkan pengaruh obat perangsang yang masuk kedalam tubuhnya. Lagi pula dia menikmati semua sentuhan saya! anda tidak bisa menyebut hal ini sebagai pelecehan seksual!"
"Alih-alih membantunya dengan membawa kakak ku ke rumah sakit. Kenapa kau malah menidurinya? aku yakin dokter mempunyai obat penawarnya."
Grace semakin gencar menyerang Keenan dengan kata-katanya. Pria itu mulai tersudut. Bahkan sekarang tidak bisa menjawab pertanyaan Grace lagi.
Sebab semua yang di katakan oleh Grace benar adanya. Secara tidak langsung dia sudah memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.
"Aku jadi kasihan pada kakak ku. Dia sangat tidak beruntung dengan bertemu dan melahirkan darah daging mu! kau pria brengsek yang tidak patut untuk di perjuangkan."
"Kau tidak pantas menjadi seorang ayah. Kau terlalu hina dan rendah, aku tidak ingin Abigail memiliki ayah seperti mu. Enyah dari dunia ini sialan!" Berbagai jenis umpatan Grace lontarkan pada Keenan.
Penolakan dan tingkah Keenan membuat kemarahannya sampai di ubun-ubun. Keenan pria arogan yang tidak ingin berkorban.
Belle harus menyudahi perjuangannya dan mencari ayah baru untuk Abigail. Hidup mereka harus berlanjut tanpa kehadiran Keenan. Karena pria itu menolak untuk bertanggung jawab.
Setelah Grace pergi Keenan mencoba menenangkan diri dengan duduk di kursi pojok ruangan.
Pria itu mengacak rambutnya kasar. Lalu merenung sejenak, memikirkan masalah yang menimpa. "Aku mempunyai anak perempuan? bagaimana bisa? hubungan semalam itu membuahkan hasil? lalu mengapa dia mempertahankan kandungannya?"
Keenan bertanya pada dirinya sendiri. Perasaan bersalah semakin menyelimuti hati. Tidak menyangka dia sudah menjadi seorang ayah. Kabar gembiranya Belle memberinya seorang putri. Lalu apa yang harus dia lakukan sekarang?
...🦋🦋🦋🦋...
Lain halnya di ruang tamu. Damian dan Peter sibuk membincangkan hal-hal yang berbau bisnis. Sedangkan Rachel sendiri asik bermain bersama Xavier.
__ADS_1
Awal mula semua orang terlihat santai. Sebelum Grace datang dan membawa Xavier pergi. "Grace, kau mau kemana?" teriak Damian.
Menyusul wanitanya tanpa lupa untuk berpamitan. Rachel mengedipkan matanya berulang kali, terkejut dengan tingkah Grace.
"Ada apa dengan wanita itu. Kenapa tiba-tiba dia marah?" tanya Rachel pada Peter.
"Pasti ada hubungannya dengan asisten mu itu!" lanjut Rachel kesal.
"Kee! Dimana kau?" teriak Rachel memanggil Keenan. Beberapa menit kemudian Keenan datang dengan wajah yang sulit di artikan.
"Apa yang kalian bicarakan sampai-sampai membuat sahabat ku marah?" tanya Rachel. Keenan terdiam, tidak tahu harus menjawab apa.
"Karena tidak ada pekerjaan lagi. Saya pamit undur diri Tuan!" pamit Keenan, lalu melangkah keluar tanpa menjawab pertanyaan nona mudanya.
"Dasar bedebah sialan, kurang ajar sekali dia tidak menjawab pertanyaan ku!" marah Rachel. Peter hanya menggelengkan kepalanya singkat sebelum akhirnya pergi meninggalkan Rachel sendiri.
Sepanjang perjalanan Grace terdiam di tempat duduk. Dia terlarut dalam lamunannya sendiri.
Apa yang harus aku katakan pada kak Belle, aku tidak ingin menambahkan luka baru pada hatinya dengan memberitahu tentang penolakan bajingan sialan itu.
“Grace ada apa denganmu, kenapa kau diam saja dari tadi. Apa Keenan menyakitimu, jika iya biarkan aku menebas kepalanya!”
ingin sekali Grace menyetujui perkataan Damian yang terakhir kali. Tapi apalah dayanya, Grace harus mendengar keputusan Belle terlebih dulu.
“Ucapkan sesuatu! jangan hanya diam seperti batu!” Damian geram dengan tingkah lagu Grace yang selalu mengabaikan pertanyaannya.
"Biarkan aku menenangkan pikiran ku dulu, Ef. Aku tidak ingin melampiaskan kekesalan ku padamu dan melontarkan kata-kata kasar yang menyakiti hati mu. Nanti setelah kita sampai di rumah aku akan menceritakan semuanya." suaranya terdengar sesak. Seolah wanita itu sedang menahan tangis..
Damian mengusap lembut kepala Grace sambil tersenyum penuh pengertian. Dengan kecepatan sedang hot daddy itu melajukan mobilnya dan pulang ke mansion.
TBC
warning!
cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius. 🙏
__ADS_1