
Usai memberi kabar pada Grace, Damian dan petinggi-petinggi perusahaan mengadakan rapat kini. Hendak membahas masalah pembangunan ulang pabrik yang sudah terbakar kemarin.
"Aku serahkan masalah ini padamu. Hubungi aku jika ada masalah, hari ini juga aku akan pulang. Masih banyak pekerjaan yang harus ku selesaikan!" kata Damian pada orang kepercayaannya di kota Y.
"Baik tuan!"
"Dam siapkan jet pribadi ku. Hari ini kita pulang ke New York!"
"Baik tuan," seru Adam kemudian membuka layar ponselnya, dan mengirim pesan pada bawahan. Untung saja Adam membawa beberapa bodyguard semalam. Jadi dia tidak perlu mengerjakan semuanya sendiri.
Di sisi lain Grace tengah menikmati pancake buatan Ellie, sambil menonton kartun kesukaannya yaitu Spongebob. Sedangkan Xavier di bawa pergi Ellie entah kemana.
"Kapan Damian pulang? aku ingin pergi jalan-jalan mengelilingi kota. Mana nomornya tidak aktif lagi, aku tidak bisa keluar dari mansion tanpa izin darinya." entah sampai kapan Damian memperlakukannya seperti tahanan. Awalnya Grace tidak ada masalah. Tapi lama kelamaan Grace merasa gerak ruangnya semakin di batasi.
Haruskah aku menyelinap keluar? batin Grace bertanya-tanya. Ragu, Grace takut Damian marah dan menghukumnya seperti biasa. Namun, Grace benar-benar ingin pergi keluar.
"Aku punya ide!"
...🦋🦋🦋🦋...
Sementara itu, di kota Valencia. Tepatnya di sebuah rumah minimalis modern. Dua orang tengah bertengkar hebat, keduanya memperdebatkan sekolah yang cocok untuk Alessio.
Berkat bujukan Ara, bocah berusia 7 tahun itu mau pergi sekolah. Alessio tidak mau terus-terusan takut dengan keramaian, karena itu dia memutuskan menyetujui permintaan Ara untuk mengirimnya ke sekolah.
"Al harus sekolah di sini!" putus Ara tidak bisa diganggu gugat. Steven menggeleng kepala menandakan tidak setuju dengan keputusannya.
"Aku tidak setuju, sebaiknya Al sekolah di sini saja. Sekolahnya lebih luas dan memiliki reputasi yang baik. Kebanyakan murid berasal dari keluarga elite. Alessio pasti lebih nyaman sekolah di sini!" jelas Steven tidak mau kalah.
"Dad, mom, berhenti berdebat." Suara Alessio membuat keduanya membisu. Ara merendahkan tubuhnya, berusaha menyamakan tingginya dengan tinggi Alessio.
"Al, kau saja yang memilih. Jangan hanya menurut pada kami nak!" seru Ara lembut. Sesekali membelai kepala Alessio dengan penuh kasih sayang.
"Aku ingin bersekolah di tempat yang mommy pilihkan. Aku tidak mau berteman dengan anak orang kaya yang sombong dan arogan." putus Alessio. Ara menatap Steven sinis, bibirnya terangkat membentuk senyum penuh kemenangan.
Lantas usapan demi usapan mendarat sempurna di dada bidang Steven. Sedikit kesal, melihat Alessio lebih menuruti Ara yang tidak memiliki hubungan apapun dengan mereka.
"Mom, aku ingin menanyakan sesuatu." Alessio menatap Ara ragu. "Tanyakan saja sayang, tidak usah ragu!" balas Ara seraya mencium kedua punggung tangan Alessio.
"Apakah daddy dan mommy tidak akan menikah?" sontak Ara membulatkan matanya lebar-lebar. Bibirnya merapat, Ara tidak memiliki jawaban untuk menjawab pertanyaan Alessio. Sesaat Ara melirik Steven lewat ekor mata. Pernikahan, Ara tidak pernah memikirkan hal sejauh itu.
__ADS_1
"Nanti sayang, setelah kau sudah besar mom akan menikah!" jawab Ara berbohong. Yang sebenarnya terjadi Ara tidak akan pernah menikah sampai kapanpun itu.
"Aku ingin memiliki orang tua lengkap seperti anak-anak di luar sana mom. Jika mommy tidak menikah dengan daddy, sampai kapanpun kau tidak bisa menjadi mommy ku!" Alessio berlari masuk ke dalam kamar. Membanting pintu, marah pada Steven dan Ara.
Ara menatap pintu kamar Alessio dengan tatapan sendu. Pernikahan, mana bisa Ara menikah dengan Steven. Seorang pria yang baru di kenalnya beberapa minggu lalu.
"Ikut aku, kita harus membicarakan sesuatu!" Steven mencengkeram pergelangan tangan Ara dan menariknya menjauh dari kamar Alessio.
Merasa sudah jauh, Steven melepaskan cengkeramannya lalu menatap mata Ara dalam-dalam. "Kau tidak berniat menikah dengan ku?" tanya Steven.
"Apa karena aku tidak sekaya keluarga mu, karena itu kau menolak permintaan putra ku?" tanya Steven lagi. Semua pertanyaannya seolah menuding Ara seolah dia wanita gila harta.
"Bukan itu alasan ku Steve!"
"Lalu?"
Hening sejenak, Ara berdiri mematung. Sorot matanya menatap ke depan. Tatapannya terlihat kosong, di isi dengan kilatan-kilatan samar yang menyiratkan kesedihan.
"Aku bukan wanita sempurna Steve. Aku memiliki kekurangan yang mungkin membuat mu paham mengapa aku tidak menikah sampai sekarang!" setelah terdiam cukup lama akhirnya Ara membuka suara.
"Kekurangan? di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna Ara. Semua orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, kenapa kau harus minder?" tanya Steven lagi.
"Sama seperti wanita di luar sana. Aku juga memimpikan sebuah pernikahan mewah dan meriah, tapi kekurangan ku membuat semua pria yang mendekat langsung mundur dan memilih pergi meninggalkan ku. Aku lelah Steve, setiap kali mereka mengetahui fakta ini. Hinaan dan cacian selalu aku dapatkan."
"Mereka tidak pernah memikirkan perasaan ku, juga tidak pernah bertanya bagaimana cara ku bisa bertahan sampai di titik ini. Yang mereka tahu aku wanita tidak sempurna yang lahir dari keluarga kaya raya. Parahnya, beberapa orang mendekati ku karena ingin usahanya maju!" jelas Ara panjang lebar. Steven terdiam di tempat, mendadak perasaan bersalah menyeruak masuk menyelubungi hati.
"Ara aku-"
"Aku tidak Papa, jangan merasa terbebani karena aku sudah terbiasa dengan semua ini. Sepertinya aku sudah terlalu lama berada di rumahmu. Sebaiknya aku pulang, daddy pasti sedang menunggu ku sekarang!" pamit Ara. Lalu berjalan melewati Steven.
"Damn! aku butuh pelampiasan sekarang!"
Steven mengusap wajahnya kasar, sebelum akhirnya masuk kedalam rumah dan menemui asisten rumah tangga. "Aku ingin pergi ke klub malam. Jaga Alessio dan temani dia tidur, malam ini!"
"Baik tuan!" setelah itu Steven mengambil kunci mobil dan melaju pergi mengunjungi bar terdekat.
Sepanjang perjalanan Steven melamun. Setiap pernyataan Ara tadi terngiang-ngiang di telinganya. Sebenarnya Steven tidak ada masalah dengan kekurangan Ara.Tapi kenapa bibirnya selalu tertutup tadi.
Steven memarkirkan mobilnya di halaman klub. Dengan langkah tegas, Steven berjalan melewati kerumunan orang-orang yang sibuk berjoget menikmati alunan lagu.
__ADS_1
Steven duduk di depan meja bartender, memesan Cocktail dan mematik rokok sembari menunggu. "Rupanya penggoda istri orang berada di tempat yang sama dengan ku!" sebuah suara mengagetkannya.
Steven menolehkan kepalanya ke samping. Melihat Peter duduk santai di sebelahnya membuat moodnya semakin buruk. "Tukang fitnah ternyata!"
"Aku tidak menggoda istri mu asal kau tahu. Rachel sudah ku anggap seperti adik ku sendiri. Aku ingin menikah dengan wanita lain!" lanjut Steven.
"Ya terserah kau saja. Ngomong-ngomong siapa wanita itu, mungkin aku bisa membantu mu mendapatkannya!" Steven menautkan kedua alisnya. Menatap remeh ke arah Peter.
"Setelah kau mendengar namanya, aku yakin kau akan marah!" sahut Steven santai. Bersamaan dengan itu bartender datang membawa pesanan. Steven menyesap minumannya sedikit demi sedikit. Menikmati setiap sensasi dan rasa dari cocktail tersebut.
"Jangan membuatmu ku penasaran sialan. Katakan, siapa nama wanita itu!"
"Ara!"
"Damn! kenapa kau mengincar adik ku?" tanya Peter ketus. Sorot matanya berubah tajam tangannya mengepal kuat. Sudah siap memukul Steven kapan pun itu.
"Alessio mau aku menikah dengan Ara. Putra ku sangat menyayangi adik mu!" jawab Steven jujur.
"Aku tidak setuju kau menikah dengan Ara. Aku tidak ingin melihatnya menangis karena di campakkan seorang pria. Kau tahu, semua keluarga yang datang melamar terlihat senang dan bangga karena menjadi besan keluarga ternama, namun setelah mendengar kekurangan Ara mereka langsung membatalkan dan menolak Ara mentah-mentah. Kau tahu aku menghabisi semua keluarga itu tanpa sepengetahuan paman tercintaku!" seru Peter membuat Steven bergidik ngeri.
"Tapi aku tidak begitu, aku menerima Ara dengan semua kekurangannya. Aku tidak masalah jika Ara tidak bisa memberikan keturunan, yang terpenting putraku Alessio memiliki orang tua yang lengkap!"
"Ara sudah memberitahu mu rupanya?" ucap Peter.
"Ya, tadi Ara memberitahu ku!" jawab Steven.
"Kalau begitu aku mendukung apapun keputusan Ara nanti. Tapi ingat jika kau menyakiti adik kesayangan ku, aku pastikan seluruh keluarga mu mati di tangan ku!" ancam Peter. Tatapannya kembali mendatar, menandakan bahwa Peter serius dengan ucapannya.
"Kau yakin mau membunuh seluruh keluarga ku? aku tidak yakin kau bisa melenyapkan Grace. Ingat, kau harus menghadapi bedebah itu. dia begitu terobsesi dengan adikku, sebelum kau menyentuh adikku, pasti bedebah sialan itu sudah membunuhmu lebih dulu. Aku jadi penasaran bagaimana jika kalian bermusuhan, pastikan akan menjadi drama yang menarik!"
"Aku tidak akan membunuh kakak ipar, karena sekarang wanita itu bukan lagi bagian dari keluarga mu. Tapi bagian dari keluarga Wilson!" ucap Peter, membuat Steven diam membisu.
"Pekerjaan ku sudah selesai, aku akan kembali ke Las Vegas. Malam ini minumlah sampai puas, aku yang akan membayarnya. Anggap saja ini restu ku untuk mu!" Peter tersenyum miring, kemudian menepuk pundak Steven beberapa kali sebelum pergi meninggalkan meja bartender.
TBC
warning!
cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius 🙏
__ADS_1