
Begitu sampai di mansion Damian membawa Grace ke kamar dan menitipkan Xavier pada kepala pelayan. "Sekarang ceritakan apa yang terjadi di mansion Peter tadi?"
Grace terdiam sejenak sebelum akhirnya mulai membuka suara. "Aku berdebat dengan Keenan tadi!"
"Kenapa?"
"Keenan ingin memberi kompensasi pada Belle. Dia menolak bertanggung jawab Ef." jelas Grace singkat. Namun, mampu membuat Damian memahami segalanya.
"Aku sudah bilang kan. Keenan bukanlah orang yang mudah di bujuk atau di hadapi. Tapi kau tidak mempercayai ku dan memaksa ku untuk mempertemukan kalian!"
"Ya aku menyesal, sekarang apa yang harus aku katakan pada Belle. Dia menaruh harapan pada ku. Dia pasti kecewa setelah mendengar penolakan Keenan."
"Kau yakin tidak ingin mengatakan penolakan Keenan pada Belle? akan lebih baik jika dia mendengar berita ini dari mulut adiknya dari pada mulut orang lain!" ujar Damian bertanya. Sedikit ragu dengan keputusan Grace.
βAku takut Belle kembali membenci ku seperti dulu Ef!" pikiran-pikiran negatif mulai bermunculan di benaknya. Damian sendiri Sampai di buat heran dengan cara berpikir Grace.
"Itu tidak akan terjadi Grace. Belle berubah menjadi wanita dewasa yang tangguh!"
"Tapi..."
"Kau tidak percaya pada kakak mu sendiri? ayolah Grace, biarkan dia menghadapi masalahnya sendiri. Katakan yang sebenarnya dan biarkan dia mengambil keputusan." potong Damian. Mulai jengah berdebat dengan sang istri.
Hening, tidak ada jawaban yang terdengar. Grace merenung di tempat duduknya. "Baiklah, aku akan mengatakan segalanya pada Belle nanti!" akhirnya setelah terdiam cukup lama. Grace membuka suara dan melontarkan keputusannya dengan tekad yang kuat.
...π¦π¦π¦π¦...
Malam telah usai, sang Surya mulai menaiki tahta. Awan-awan berarak, menandakan alam telah berganti rupa.
Di bandara, seorang wanita cantik bertubuh persis seperti gitar spanyol keluar seraya menarik satu koper besar dan menggandeng seorang anak kecil.
Seluruh tatapan terarah pada mereka. Tidak ada yang tidak terpesona dengan kecantikan ataupun ketampanannya. Apalagi banyak yang tahu wanita itu adalah putri dari pebisnis terkenal yaitu Hans Wilson.
Ara dan Alessio datang ke New York tanpa memberitahu Damian. Dia memang sengaja melakukannya, berharap Damian dan Grace terkejut setelah melihatnya ada di mansion.
Ara datang juga bukan tanpa alasan. Desainer yang merancang gaun pernikahan tinggal di sini. Akibatnya Ara harus berpisah dengan Steven berpuluh-puluh kilometer jauhnya selama beberapa hari.
Tapi tidak masalah, yang terpenting gaun pernikahannya jadi. Tidak hanya itu, Ara juga bisa mengajak Grace dan Rachel untuk pergi bersama.
Belle, tentu saja Ara memanggilnya kemari. Bukan hanya untuk menemaninya fitting baju. Namun, juga untuk merancang satu set perhiasan yang akan dipakainya saat hari pernikahan.
__ADS_1
Karena itu Belle perlu datang dan melihat gaun pengantin yang diinginkan Ara untuk menyesuaikan warna perhiasan dan gaun Ara.
Rasanya Ara sudah tidak sabar ingin memberikan kejutan pada kakak dan kakak iparnya dengan tanpa memberi kabar.
Untuk sekolah Alessio, Ara sudah mengizinkannya selama 1 Minggu. Tiga hari akan mereka habiskan untuk fitting dan sisanya Ara habiskan untuk berlibur bersama Alessio di kota itu.
Mereka belum pernah liburan bersama, maka dari itu Ara menggunakan kesempatannya untuk berlibur bersama Alessio berdua saja sebelum hari pernikahan.
"Tunggu sebentar, mommy akan memanggil taksi." Alessio mengangguk. Lalu duduk di kursi panjang bewarna putih yang terletak di halaman bandara sembari menunggu Ara memanggil taksi.
Dan setelah dapat, Ara langsung membawa Alessio masuk kedalam mobil. Menyuruh sopir taksi itu mengantarkan mereka ke alamat rumah Damian.
...π¦π¦π¦π¦...
Pagi itu, semua orang di hebohkan dengan tingkah sang tuan muda. Bagaimana tidak, Damian sibuk memasak sedangkan Grace duduk santai sembari menatap senang ke arah Damian.
"Ef, kau terlihat seksi saat memakai celemek!" puji Grace, terus memotret Damian tanpa izin. Wanita itu berlaku seenaknya sendiri, seolah ia ratu yang paling berkuasa di semesta alam.
Mungkin akibat perbuatan Damian yang selalu memanjakannya. Grace menjadi wanita yang cukup nakal dan susah diatur. Namun, tetap saja Grace tidak bisa berkutik kala Damian mengancamnya dengan hukuman satu malam penuh.
Tentu saja Grace langsung takut, seketika ia menjadi penurut dan langsung bergelayut manja, mengeluarkan jurus andalannya yaitu menggoda ataupun merayu Damian.
"Baunya enak sekali, seharusnya kau merubah profesi mu menjadi tukang masak saja. Pasti banyak pelanggan yang datang mengunjungi mu!" Grace mengalihkan pembicaraan.
"Kau yakin mereka datang untuk mencicipi masakan ku!" Grace berdecak kesal, tentu saja kebanyakan dari mereka akan datang melihat wajah tampan yang di miliki Damian.
"Kalau begitu tidak jadi, kau jadi presdir saja." Sahut Grace cepat, tidak rela suaminya dilirik wanita lain. Apalagi setelah mencicipi masakan Damian, Grace semakin tidak ingin kehilangan suaminya itu.
"Ara dan Steven akan menikah, sebaiknya hadiah apa yang akan kita berikan pada mereka?"
"Keponakan!" plak! sebuah tomat besar mendarat sempurna di wajah Damian. Membuat wajah pria itu memerah.
"Aku sedang tidak bercanda Ef,"
Tidak ada jawaban, dengan sabar Damian membersihkan sisa tomat yang mengenai wajahnya. Lalu kembali fokus pada masakan.
"Ef ingin berapa anak dariku?" senyuman nakal Damian terbitkan seketika. Tentu saja sebanyak mungkin sampai ia mendapatkan anak perempuan yang bisa dimanjakan dan di lindungi setiap saat.
"10 mungkin!"
__ADS_1
Segala macam umpatan Grace ucapkan dalam hati. Wajahnya memerah padam antara malu bercampur geram dengan perkataan Damian. Bagaimana bisa ia melahirkan anak sebanyak itu. Apa Damian pikir dia mesin fotocopy, sampai-sampai bisa membuat anak sebanyak itu.
"Aku tidak mau, kau tahu melahirkan itu sakit." bibirnya mengerucut sebal.
"Baiklah bagaimana jika 5 anak?" Damian tersenyum merekah.
"Tidak!"
"4!"
"Tidak!"
"3!"
"Tidak!"
"Kenapa kau terus mengatakan tidak, aku tidak mau tahu sebelum punya anak perempuan aku tidak mau berhenti membuat anak!" Damian menatap dingin kearah Grace. tangannya masih setia memotong berbagai macam bumbu-bumbu dapur.
"Terserah kau saja, sekarang hidangkan makanannya, anakmu sudah lapar. Jangan protes jika aku menyuruhmu ini itu, kau sendiri kan yang mau anak banyak!" lalu menatap mata Damian yang mengintimidasinya.
Damian mulai terbiasa dengan sikap memerintah Grace, ia sama sekali tidak merasa kesal ataupun marah. Menurutnya ini hal yang wajar.
Tidak lama setelah itu makanan pun siap, Damian menghindarkannya di atas meja depan Grace.
"Suapi aku!" seru Grace, menatap Damian berbinar. Bibirnya mengerucut imut.
"Kau mau di suapi pakai apa sendok atau tangan. Apa bibir? Aku sarankan kau memilih bibir Grace, sensasinya sangat berbeda. Kau pasti ketagihan!" memandang Grace nakal.
"Aku mau pakai sendok saja!" Grace tertawa renyah. Merasa tidak nyaman dengan perkataan Damian.
Ting! Damian sengaja menjatuhkan sendok yang berada di genggaman tangannya sedari tadi"Sendok terjatuh, aku akan menyuapi mu dengan bibirku ya!" terselip nada marah yang ketara.
"Aku sudah merasa kenyang Ef. Aku akan pergi ke kamar!" Grace hendak melarikan diri, namun tangan kekar Damian mencekal pergelangan tangannya.
"Aku hanya bercanda Grace, aku akan mengambilkan sendok yang baru untuk mu!" berdiri, melangkah masuk kedalam dapur guna mengambil sendok baru.
TBC
warning!
__ADS_1
cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap seriusπ