Mr Billioneire Wife

Mr Billioneire Wife
Penculikan Grace 2(Revisi)


__ADS_3

Damian terlonjak kaget tatkala memimpikan Grace berteriak meminta tolong. Damian terdiam sesaat, mengacak-ngacak rambutnya dengan kasar sebelum beranjak dari tempat tidur. Semalam Damian menemani Xavier dan tidak sengaja tertidur karena kelelahan.


Setelah mandi dan selesai bersiap-siap. Damian membawa Xavier ke lantai dasar. Menitipkan Xavier pada kepala pelayan.


Sebelum itu Damian bersiap dilantai bawah, tak membuang waktu untuk naik keatas kembali. Adam berdiri tegap di ruang tamu menunggu kedatangannya. helikopter telah disiapkan, dan keberadaan Grace ditemukan.


"Selamat pagi Sir!" sapa Adam.


Damian mengangguk singkat lalu kembali melangkahkan kakinya menuju ruang kerja. "Kau sudah menemukan keberadaan istri ku?" tanya Damian seraya duduk santai di kursi kebesarannya.


"Sudah Sir! tuan Alex membawa Nyonya ke kastil pribadi milik keluarga." balas Adam memberitahu.


Ya, seperti yang kita kira Alex anak tunggal kaya raya. Seluruh harta keluarga di wariskan pada pria itu. Termasuk pulau pribadi yang terletak jauh dari pusat kota. Di sana ayah Alex membangun kastil mewah untuk di berikan pada istrinya sebagai hadiah pernikahan.


"Kita berangkat ke sana sekarang." perintah Damian. Adam mengangguk mengerti, keluar dari ruang kerja untuk menyiapkan helikopter dan puluhan bodyguard mansion.


Kebenciannya pada Alex kian membuncah. Damian ingin segera menghabisi pria itu. Belum selesai dengan paman John, musuhnya bertambah satu lagi kini. Musuhnya terlalu banyak sampai-sampai membuat Damian bingung harus menyingkirkan yang mana. Tidak masalah, setelah mengatasi Alex maka giliran John Emilius tiba.


...🦋🦋🦋🦋...


Setelah meninggalkan Grace semalaman. Alex kembali datang dengan membawa nampan berisi makanan dan minuman. Alex mencampur sesuatu pada minuman itu berharap anak yang di kandung Grace tiada.


"Makan ini!" meletakkan nampan itu di depan Grace. Lalu melepaskan lakban yang merekat di sekitar bibirnya.


"Aku tidak mau!" tolak Grace tanpa berpikir panjang.


"Kau belum makan dari kemarin malam. Kasihanilah bayi yang ada di dalam perut mu!" ucap Alex.


Grace tertawa kecil kemudian meludahi Alex. "Melihat mu bersikeras, aku yakin kau mencampur sesuatu ke dalam makanan dan minuman itu." tebak Grace tepat pada sasaran. Raut wajah Alex sangat mudah di tebak.


"Kau memang sangat pintar Grace. Karena itu rasa cinta ku padamu tidak pernah berkurang sedikitpun." Alex mencium dahi Grace.


"Tidakkah kau tertarik pada wanita di luar sana. Kenapa kau tidak mencoba mencari wanita lain. Kenapa harus aku, kenapa kau terobsesi pada ku!" teriak Grace di iringi isak tangis.


"Pada awalnya kau adalah milik ku Grace. Tapi si Damian itu makah merebut mu dari genggaman ku!" sarkas Alex. Masih dendam karena tidak jadi menikah dengan Grace.

__ADS_1


"Sadarlah Alex, aku sudah menikah. Aku sudah punya suami dan aku sangat mencintainya. Kita tidak mungkin bersama." geram Grace. Berusaha menjelaskan bahwa di dunia ini mereka berdua tidak bisa bersama seperti dulu. Mereka menempuh jalan yang berbeda sekarang.


Plak! satu tamparan mendarat sempurna di pipi Grace. Sangat kencang sampai membuat sudut bibirnya berdarah.


"Cinta atau tidak aku tidak peduli. Kau harus menjadi istri ku. Harus, aku akan melenyapkan Damian jika perlu."


"Suami ku tidak selemah itu, sebelum kau menghabisinya mungkin dia lebih dulu bertindak, sialan!" teriak Grace dengan sisa tenaga yang dia punya.


"Benarkah, kita lihat saja nanti!" tersenyum smirk, menatap Grace dengan tatapan mencemooh sebelum akhirnya pergi meninggalkan kamar.


Grace terdiam, rasa perih dan panas menyerang pipi kirinya. Grace tidak menangis lagi. Dia lelah dan ingin istirahat dengan nyaman. Perut buncitnya semakin sakit.


Ef aku menunggumu!


Grace memejamkan mata mengistirahatkan pikirannya. Mungkin karena kondisinya sekarang, Grace mudah lelah hanya karena hal-hal kecil.Tenaganya juga terkuras akibat menangis dan memberontak. Apalagi dari kemarin dia belum makan ataupun minum sama sekali. Tidak ada asupan sebagai sumber energi.


...🦋🦋🦋🦋...


"Grace bangun, jangan tidur terlalu lama." menarik Grace dari kursi. Terpaksa Grace memaksakan dirinya mengikuti keinginan Alex. Entah sejak kapan ikatan dikedua kaki dan tangannya terlepas.


Tunggu bukankah ini kesempatan, Grace mengucek mata berusaha memperjelas penglihatannya. Akh! teriak Alex tatkala Grace menendang bagian bawahnya. Melihat Alex melilit kesakitan Grace langsung berlari menjauh.


Dua pintu terpampang jelas didepan mata, senyum kebanggaan Grace perlihatkan di bibir tipisnya. Namun begitu pintu itu terbuka Grace kaget dengan hingar-bingar pemandangan luar. Harapannya memupus tatkala mendapati puluhan bodyguard berdiri di sepanjang koridor sampai ke gerbang dengan membawa senapan.


Jangankan melewati gerbang untuk keluar dari pintu utama rasanya sangat mustahil. Harapannya terakhirnya adalah Damian. Tetapi perasaan takut menyelimuti hati. Grace tidak yakin Damian bisa melewati penjagaan seketat ini


"Kenapa diam? ayo pergi dan lihat bagaimana aku akan melenyapkan mu dan juga bayi yang ada dalam perut mu." ucap Alex sarkasme. Bibirnya menyunggingkan senyum kemenangan saat melihat Grace tidak berkutik.


"Ayo kembali ke tempat asal mu babe!" Alex mencium dahi Grace sebelum akhirnya menarik wanita itu dan mendorongnya ke ranjang kamar dengan kasar.


Alex mengikat kedua tangannya di belakang. Grace tidak bisa melakukan apapun selain terbaring lemas di atas ranjang. Setidaknya setelah duduk semalaman penuh akhirnya Grace bisa berbaring dan istirahat.


Nyaman dengan posisinya sekarang. Rasa kantuk mulai datang menyerang. Mata Grace mulai menyipit. Tidak membutuhkan waktu lama akhirnya Grace tertidur pulas dengan menahan rasa lapar.


...🦋🦋🦋🦋...

__ADS_1


Sementara itu, di dalam pesawat Damian dan Adam menyusun rencana untuk menyusup masuk ke dalam kastil yang sudah pasti di jaga dengan sangat ketat.


Mereka harus mempunyai persiapan yang matang agar tidak ada korban yang berjatuhan. Dan mereka bisa pulang bersama dengan selamat nanti.


"Dam bawa dua puluh lima orang bersama mu. Lalu alihkan perhatian mereka dan hancurkan mereka tanpa sepengetahuan Alex. Sisanya ikut bersama ku menyelinap masuk." Sedikit beresiko tapi ini adalah satu-satunya cara membuat celah.


"Anda yakin sir?" Damian mendongak, menarik sebelah alisnya keatas.


"Kau meragukan rencana ku?"


"Tentu tidak, Sir!"


"Kalau begitu lakukan seperti yang aku minta!" datar Damian.


"Baik Sir, maafkan saya."


Damian tak memperdulikan, matanya asik menelusuri pemandangan langit dengan ditemani satu botol anggur merah yang mengandung 50% alkohol.


Sudah berapa lama sejak pernikahan mereka. Grace tidak pernah memperlihatkan senyum ceria. Semua kegiatan dan sikapnya tergantung pada perintahnya.


Grace begitu takut dengan hukuman sampai-sampai menjadi sosok wanita sesuai dengan apa yang Damian inginkan. Memang bukan hanya dampak negatif, tetapi ada dampak positif atas ketegasan Damian berhasil mengubah Grace menjadi wanita bebas alkohol.


Namun dampak negatifnya Grace sering mengeluhkan ini itu. Merengek bak bayi kelaparan karena tidak bisa melakukan hal-hal yang dia impikan.


Haruskah setelah ini aku memberikan kebebasan padanya. Ataukah aku harus berpisah dan membiarkan dia hidup sesuai dengan yang dia inginkan.


Entahlah aku bingung, tidak mungkin bagi ku melepaskan wanita itu begitu saja. Apalagi aku bersabar menunggunya selama 5 tahun. Aku pun bersabar menghadapi sikap kekanakannya.


Hidupku tergantung pada ocehannya, wajahnya, perilakunya, aku membutuhkan semua yang berhubungan dengannya. Aku sangat bergantung padanya.


Damian menegak wine, sembari memikirkan rencana ke depan. "Dam pastikan Ellie menjaga putraku dengan benar. Aku tidak Xavier sakit ataupun kurusan!"


Adam melirik sekilas, "baik Sir." mengetik pesan singkat, lalu kembali menonaktifkan benda pipi tersebut.


TBC

__ADS_1


warning!


cerita ini hanya fiksi yang author buat sesuai dengan imajinasi author jadi mohon untuk tidak dianggap serius 🙏


__ADS_2