Mr Billioneire Wife

Mr Billioneire Wife
Mengerti(Revisi)


__ADS_3

Satu Minggu berlalu, Grace masih di tahan dalam mansion. Damian jarang datang ke kamar, hanya sesekali datang saat meminta haknya sebagai seorang suami.


Hubungan rumah tangganya berada di ujung tanduk. Retakan kian melebar membentang jurang dalam perpisahan. Damian masih mempertahankan hubungan rapuh itu meskipun Grace tidak menginginkannya.


Damian tahu perceraian itu tidak hanya berdampak buruk bagi mereka berdua tapi juga pada ketenangan anak-anaknya nanti. Cukup sekali Grace bersikap egois. Sekarang tidak lagi. Xavier dan calon anaknya membutuhkan sosok figur seorang ayah. Karena Damian memutuskan untuk mempertahankan pernikahannya.


Damian menempelkan ibu jarinya ke pendeteksi sidik jari. Pintu ini bisa dibuka dengan sidik jari ataupun manual menggunakan kunci. Aroma maskulin menyeruak masuk kedalam indra penciuman Grace.


"Dandani dia!" perintah Damian pada beberapa pelayan yang berdiri di belakangnya. Setelah itu Damian pergi meninggalkan kamar tanpa sepatah katapun.


Grace tercengang melihat Damian mengabaikannya seperti ini. Bukankah seharusnya pria itu memohon untuk tidak di ceraikan dan minta maaf. Tapi kenapa pria itu tidak melirik ke arahnya sedikitpun.


Seorang pelayan muda mempersilahkan Grace masuk kedalam kamar mandi. Mereka memulai perawatan kecantikan, mulai dari lulur, masker, manicure dan pedicure.


Sedikit merasa aneh tapi Grace senang mendapat perawatan gratis seperti ini. Tubuhnya benar-benar lembab dan terlihat lebih cerah. Begitu pula raut wajahnya terlihat lebih segar dari sebelumnya.


"Apa ada acara yang harus ku hadiri? kenapa kalian mendadani ku?" tanya Grace memecah keheningan yang menyelimuti.


"Saya tidak tahu nyonya, saya hanya diperintahkan untuk menyiapkan anda. Namun, tidak diberi tahu untuk acara apa!" jawabnya lembut disisipi senyum ramah.


"Lalu Ellie dimana?"


"Kepala maid mansion sedang menyiapkan tuan muda Xavier!" Grace menepuk dahinya pelan. Satu Minggu berlalu dan dia melupakan Xavier. Entah bagaimana keadaan Xavier sekarang.


"Silahkan ikuti saya nyonya!" pinta pelayan itu dengan sopan. Grace mengangguk paham. Melangkahkan kakinya mengikuti pelayan tersebut keluar kamar mandi.


Sebuah paper bag bertuliskan brand ternama. Dalam paper bad itu terdapat 3 kotak. Kotak pertama berisi gaun sederhana bewarna putih. Namun membuat si pemakai terlihat anggun dan elegan. Kotak kedua berisi satu set perhiasan berlian. Sedangkan kotak terakhir berisi sepatu tanpa heels.


"Silahkan pakai gaun tersebut nyonya. Saya akan menunggu di luar!" ucap pelayan itu. Lalu menapakkan kakinya keluar kamar.


Grace tidak membutuhkan waktu lama untuk berganti pakaian. Hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit saja. Setelah itu Grace keluar kamar dan menghampiri pelayan tersebut.


"Aku sudah selesai. Bagaimana penampilan ku sekarang?" tanya Grace. Meminta pendapat pelayan tersebut.

__ADS_1


"Anda terlihat sangat cantik nyonya. Tetapi ada satu hal yang kurang!" ujar pelayan tersebut. Membuat Grace mengernyitkan dahinya tidak mengerti.


"Apa?" tanya Grace penasaran.


"Make up, biarkan saya memoles wajah anda nyonya. Malam ini, anda harus terlihat seperti ratu." ucap pelayan itu.


"Tapi..."


"Tidak papa nyonya. Saya sudah menyiapkan semuanya. Anda tinggal duduk dan melihat hasilnya saja." Grace mengangguk pasrah dan membiarkan pelayan itu mengerjakan pekerjaannya.


...🦋🦋🦋🦋...


Make up kali ini tidak terlalu tebal sebab wajah Grace memang sudah cantik. Namun, teknik yang digunakan lebih sulit dari merias wajah pengantin. Bahkan mendadani wajah Grace membutuhkan waktu lebih lama dari mandi dan perawatan-perawatan lainnya.


"Apa masih belum selesai?" tanya Grace dengan tatapan jengah. Mulai merasa lelah duduk bersandar tanpa boleh bergerak sedikitpun.


"Sudah nyonya. Tinggal memakai parfum saja!" jawab pelayan itu. Tidak enak hati setelah membuat majikannya kelelahan.


"Apa masih lama?" Suara Damian terdengar dari ambang pintu. Pria itu tampak gelisah seraya menatap jam tangan yang melingkar apik di pergelangan tangannya.


"Ayo kita berangkat!" ajak Damian.


Tanpa menunggu jawaban dari wanitanya. Damian meraih tangan mungil itu. Lalu menggenggam jari jemari Grace dan menggandengnya keluar.


Grace masih bungkam tidak menanggapi semua perkataan Damian. Perasaan takut masih menyelimuti hati apalagi satu Minggu menjadi tahanan membuat Grace merasa kesal.


Begitu pintu lift terbuka. Grace bisa melihat Adam menggendong Xavier. Sesekali bermain bersama seolah Xavi adalah putranya.


"Ayo kita berangkat!" ajak Damian. Melewati sekertaris itu tanpa merasa bersalah sama sekali. Adam menghela napas panjang sebelum mengikuti bos-nya dari belakang.


"Kau mau membawa ku kemana?" tanya Grace akhirnya memutuskan membuka suara setelah terdiam cukup lama.


"Aku mau membawa mu pergi ke peresmian mall XX!" jawab Damian. Senang mendengar Grace membuka suara.

__ADS_1


Seandainya Damian tidak diwajibkan membawa istri. Sudah pasti ia akan datang sendiri. Di sana banyak awak media mencari berita panas, mereka berdua akan menjadi pusat perhatian mereka. Terlebih Damian tidak suka foto Grace beredar luas di khalayak umum dan di saksikan banyak orang.


Adam membuka pintu mempersilahkan mereka masuk ke dalam mobil. Setelah itu Adam bergegas duduk di kursi depan. Kali ini bukan adam yang menyetir. Tapi salah satu bodyguard mansion. Sebab Adam sibuk menggendong Xavier.


kecanggungan menyelimuti mobil hitam BMW yang melaju sedang melewati jalanan kota New York. Grace mengamati pemandangan dari balik jendela. Merindukan kebebasannya seperti saat remaja.


Matanya memanas mengingat kebebasan yang sangat diharapkan itu harus dia tanggalkan jauh-jauh. Cinta Damian bagai rantai yang membelenggu lehernya. Tak ingin ketahuan. Segera Grace menyapu buliran bening yang hampir jatuh dari kelopak mata.


"Kau pasti mendapatkan kebebasan mu lagi. Tapi nanti saat sudah waktunya." seakan mengerti perasaan Grace. Damian menyahuti dan merangkul pundak Grace.


Grace mengulum senyum tipis. Damian memang tidak memberikan kepastian. Tapi kata-katanya terdengar cukup menghibur.


"Kenapa kau membunuh mereka Ef, apa kau seorang psikopat?" tanya Grace mengalihkan pembicaraan. Bukan lagi tentang kebebasan yang dia inginkan lagi kini. Kesehatan jiwa Damian lebih penting.


"Psikopat tidak memiliki perasaan Grace. Tetapi aku bisa jatuh cinta padamu. Aku masih memiliki rasa belas kasihan. Aku bukan monster seperti yang kau pikirkan." jelas Damian di iringi dengan gelak tawa.


"Tapi kenapa kau melenyapkan mereka?" rasa penasarannya terlalu tinggi. Karena itu berbagai macam pertanyaan Grace lontarkan pada Damian.


"Aku membunuh mereka juga bukan tanpa sebab. Aku tidak akan bertindak jika mereka tidak mengusik ku terlebih dulu." balas Damian menjelaskan.


Grace manggut-manggut. Merasa tidak nyaman duduk di samping Damian apalagi dengan posisi sedekat ini. Grace bahkan bisa merasakan detak jantung sang suami.


"Aku mohon jangan tinggalkan aku Grace. Berhentilah meminta perceraian karena aku tidak bisa melepaskan mu!" pinta Damian. Suaraku terdengar sendu di tambah dengan tatapan sayu Damian membuat Grace rapuh.


Hening...


Grace terdiam di tempat duduknya. Tanpa sadar menggigit bibirnya sendiri. Tampak sedang memikirkan sesuatu.


"Aku tidak tahu aku harus menjawab apa. Tapi untuk sekarang aku tidak akan meminta perceraian Ef." Grace menatap dalam-dalam mata Damian.


"Dan maafkan aku karena bersikap egois. Seharusnya aku mendengar penjelasan mu dulu. Kita sudah menikah begitu lama dan aku masih belum mengerti diri mu." ucap Grace dengan raut wajah lesu. Merasa bersalah sudah membangkang.


Damian mengangguk singkat lalu membawa wanitanya masuk kedalam pelukan. "Aku mencintaimu babe!" seru Grace lirih. Damian mengulas senyum tipis. Semakin mengeratkan pelukan hingga mereka tiba di tempat acara.

__ADS_1


TBC


__ADS_2