
Karina juga kembali bekerja tidak enak izin terus, walaupun sebenarnya Tante Dewi masih mengizinkannya.
"Kamu kok berangkat Karin."
Ucap Desi saat Mereka bertemu di parkiran.
"Iya Mbak, nggak enak izin terus."
Mereka sama-sama masuk ke dalam toko untuk bersiap karena pergantian sip sebentar lagi.
"Bu Dewi kan nggak papa."
Karina tersenyum.
"Saya yang nggak enak mbak ini juga sudah 3 hari dari meninggalnya Bapak. Cuma nanti aku ijin pulang agak awal."
"Ya nggak papa masih pengajian ya."
"Iya Mbak, ini malam 4 hari."
Mereka lalu bertemu dengan karyawan shift pagi dan melakukan serah terima hasil penjualan pagi.
Karina langsung bekerja di depan komputer sebagai Kasir, dan Desi masih mengecek persediaan barang.
Para pembeli bergantian, silih berganti ada yang datang dan pergi. minimarket milik Tante Dewi ini lumayan ramai karena harganya juga tidak terlalu tinggi dan semua barang tersedia di sini.
"Ting..."
Terdengar nada notifikasi pesan yang masuk ke dalam ponsel Karina namun, ia mengabaikannya saja karena masih melayani pembeli.
"Karin aku mau nambah stok shampo tolong diinput dulu ya." pinta Desi.
"Baik Mbak."
Karin membuka data stok barang di komputernya dan terdengar nada panggilan di ponsel Karina.
"HP kamu Karin, bunyi itu."
Desi yang berada di sebelahnya mendengar.
"Biarin aja Mbak, nanti juga diam sendiri. Takut salah input ini nanti bisa berabe."
"Angkat dulu nggak papa, berisik tahu mumpung pembeli itu belum ke sini."
Karina tersenyum saja dan melihat layar ponselnya yang berada di laci.
"Cie... Cowok kamu itu telepon."
"Bukan Mbak, temen aja kita."
Ucap Karina tersenyum lalu memasukan HP nya ke dalam laci lagi dan apabila mendekatinya untuk membayar belanjaan.
"Temen kok perhatian banget, dia pasti nggak tahu ya kalau kamu kerja."
"Ssstt..."
Karina meletakkan jari di mulutnya karena ada pembeli di depan mereka.
__ADS_1
"Oke.."
Desi lalu melanjutkan pekerjaan yang meninggalkan Karina.
Setelah pembeli itu pergi Karina melihat ponselnya lagi karena masih berbunyi.
"Dijawab aja."
Desi udah ada di sampingnya lagi.
Karina menganggukkan kepalanya karena kalau tidak jawab bakal bunyi terus.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, mbak Karin dimana."
Terdengar suara laki-laki yang terdengar khawatir.
"Saya kerja Dok, maaf ada apa."
"Mbak Karin sudah berangkat kerja.?"
"Iya, Nggak enak ijin lama-lama. Maaf ada apa ya Dok Saya harus kerja lagi."
"Nggak papa, oke selamat bekerja ya. Pulang jam berapa masih ada pengajian kan.?"
"Nanti mau pulang cepat Dok, iya masih ada pengajian. Maaf ya Dok sudah dulu Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Karina meletakkan ponselnya di laci kembali dan melayani pembeli selanjutnya.
"Mbak Desi, Karin tinggal nggak papa."
"Iya Karin tenang aja, kamu hati-hati pulang."
"Iya Mbak."
Karina ke belakang untuk sholat maghrib setelah selesai segera menuju ke sepeda motornya untuk pulang.
"Duluan ya Mbak Desi."
"Karin, ada yang nunggu kamu itu di depan."
Karina melihat ke arah luar ada seorang laki-laki duduk membelakanginya. Dia tadi datang saat Karina sedang sholat dan Desi yang berada di kasir.
"Siapa mbak."
"Siapa lagi, cie... Dijemput he he he.."
Ledek Desi.
"Ya udah Karin pulang dulu, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, hati-hati Karin."
Karin tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Dokter Gama."
Karina menyapa laki-laki yang duduk di depan toko dan memandang dirinya.
"Mbak Karin."
Jawabnya dengan tersenyum.
"Dokter, ngapain disini.?"
"Mbak Karin udah mau pulang ?"
"Iya." Karina menganggukkan kepalanya.
"Saya antar Mbak, sekalian mau ke rumah ikut pengajian." Tawar Gama.
"Saya bawa sepeda motor Dok."
Tolak Karina halus.
"Sepeda motor Mbak Karin tinggal di sini aja, pulang bareng Saya bawa mobil."
Karin menggelengkan kepalanya.
"Makasih Dok, besok saya gimana ngantar Risa dan ke kampusnya."
"Saya jemput ke rumah."
Karina langsung menggelengkan kepalanya, dia tipe wanita yang tidak mau merepotkan orang lain.
"Makasih Dok, saya bisa pulang sendiri dan saya nggak mau merepotkan orang lain."
Karina berjalan menuju ke sepeda motornya.
"Mbak Karin, saya sama sekali tidak merasa direpotkan."
Karina mengenakan helmnya lalu memasang kunci motornya.
"Maaf Dok, saya buru-buru dan sekali lagi terima kasih. Assalamualaikum."
Karina menyalakan mesin sepeda motornya, memang seperti tidak sopan tapi Karina memang sudah buru-buru karena pengajian akan segera dimulai.
Gama langsung berdiri menghadang sepeda motor Karina yang akan melaju.
"Mbak Karin, oke.. Ijin saya mengikuti Mbak Karin di belakang."
"Silahkan Dok, saya duluan assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Gama buru-buru menyalakan remote mobilnya dan segera masuk ke dalam untuk menyalakan mesin dan melajukannya.
Karina menaiki sepeda motor jadi bisa leluasa mencari celah jalan yang lumayan rame sedangkan Gama harus bersabar dan sesekali melihat kanan kiri mencari keberadaan Karina.
"Aku salah kalau begini cara mendekatinya, dia gadis mandiri banget." Gerutu Gama di dalam mobil.
"Aku harus pakai cara lain untuk meluluhkan dia."
__ADS_1
Gama akhirnya pasrah karena keadaan lalu lintas yang ramai dia terjebak macet dan kehilangan jejak Karina
π±π±π±π±π±