Mukena Merah Muda

Mukena Merah Muda
MMM #35


__ADS_3

Setelah Karina pergi Gama kembali ke ruangannya, tadi Susan juga masih mengikutinya hingga Gama memintanya untuk pergi ke ruangannya sendiri.


"Karin.. Angkat dong."


Gama mencoba menghubungi ponsel Karina dan dari tadi tidak di jawaban.


"Kamu kemana Karin..."


Kemudian Gama mengirimkan pesan kepada Karina.


"Karin, maafin Mas. Semua tidak seperti yang kamu pikirkan."


Gama sendiri masih punya pekerjaan yang harus segera dia selesaikan.


Karina sudah sampai rumah, Dia memang sengaja tidak mengambil ponselnya yang masih berada di dalam tas semenjak pulang kuliah tadi.


"Mbak..."


Risa memandangi Karina yang nampak sendu.


"Hmmm.."


Hanya begitu saja suara dari Karina,ia tetap fokus untuk memotong sayuran karena ingin memasak.


"Mbak Karin kenapa, lagi marahan sama Mas Gama."


"Nggak."


"Terus kenapa itu muka nggak enak banget dilihat."


"Males aja. Udah ini buruan di cuci."


Karina mengalihkan pembicaraan dengan memberikan sayuran kepada Risa untuk memintanya mencuci.


"Marahan ya..."


Goda Risa didepan muka Karina.


"Apa sih Dek, buruan di cuci."


Bentak Karina.


"Kalem gayss... Kalau lagi emosi mau ditelan semua. Ha ha ha..."


Karina diam saja kalau diladeni Risa akan semakin menjadi.


Setelah masakan matang mereka berdua menyantapnya dan tak lupa Karina membawa bekalnya untuk bekerja.


"Dek, mbak mau berangkat kerja jangan lupa mengunci pintu rumah."


"Oke bos.. Hati-hati Mbak jangan sambil melamun kalau naik motor."


"Iya, Mbak pergi, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Karina melajukan sepeda motornya meninggalkan rumah menuju ke tempat kerja.


Semua pekerjaan berjalan dengan lancar dan saat sore menjelang Karina baru membuka ponselnya yang sedari tadi ada di tas.


Ada banyak sekali panggilan tak terjawab dari Gama dan Anggun juga, ada beberapa pesan yang masuk juga.


Karina menghela nafasnya, entah kenapa dia tidak bisa mengontrol dirinya ketika melihat Gama bersama seorang wanita yang terlihat cantik dan seksi apalagi mereka berada di dalam mobil hanya berdua.


"Sakit Mas.."


Dalam hati Karina, ia lalu meletakkan ponselnya di dalam laci begitu saja tanpa membalas pesan dari Gama.


"Karin.. Nanti aku sholat duluan ya."


Pinta Desi.


"Iya Mbak, kebetulan Karin lagi nggak sholat kok."


"Oke.."

__ADS_1


Adzan maghrib berkumandang Desi melaksanakan sholat di belakang sekalian mau makan juga sedangkan Karina masih berjaga di depan.


"Selamat belanja."


Ucapnya kepada pembeli yang baru saja masuk tanpa dia melihatnya karena masih sibuk melayani pembeli lain di kasir.


"Karina.."


Sapa orang itu.


"Bagas, sama siapa."


Karina tengok kiri kanan.


"Sendiri, kamu kok sendirian."


"Ada Mbak Desi lagi istirahat."


Bagas nampak menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


"Kamu mau cari apa."


"Cari kamu."


Katanya sambil menatap Karina.


"Aku..? Ada perlu apa."


"Mau minta nomor kamu dari kemarin nggak di kasih."


Bagas mengeluarkan ponselnya lalu menyodorkan ke arah Karina.


Karina nampak ragu akan menerima ponsel Bagas, dia takut Gama marah kalau mengetahuinya.


"Kenapa, takut calon suamimu kemarin datang kesini dan marah sama kamu."


Karina diam saja tak mengambil ponsel Bagas juga.


"Cuma minta nomor kamu aja Karin, aku janji nggak akan ganggu kamu."


"Tapi Bagas."


"Masa ya nggak boleh silaturahmi sama temen lama, calon suami kamu posesif banget sih."


"Bukan begitu.."


Sangkal Karina.


"Permisi."


Untung ada pembeli lain yang akan membayar jadi Bagas bergeser dari hadapan Karina.


"Silahkan Mbak."


Karina melayani pembeli itu dan Bagas masih tetap berdiri disana menunggu Karina selesai.


Setelah pembeli itu pergi Bagas mendekati Karina lagi.


"Please.. Karin. Aku cuma mau berteman sama kamu."


"Hmm..."


"Ayolah Karin."


Desak Bagas terus dan Dia mendekat ke arah Karina.


"Maaf Bagas."


Karina sudah dengan halus menolaknya.


"Kenapa sih Karin, sok cantik kamu mau minta nomor aja susah amat."


"Maaf, maaf sekali Bagas."


Karina sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada.

__ADS_1


Bagas malah semakin maju dan Karina memundurkan langkahnya, kini mereka hanya berdua Desi masih di belakang.


"Ngapain kamu Bagas."


Teriak Karin.


"Hai... Beraninya sama perempuan."


Tiba-tiba sosok Gama sudah berdiri di pintu dengan muka marah.


Bagas kaget dan hendak berlari namun langsung di tarik kaosnya sama Gama.


Karina sendiri ketakutan dan Desi yang mendengar keributan langsung ke depan.


"Kamu nggak papa Karin."


"Hiks... Mbak Desi.."


Karina memeluk Desi, Gama melihat wanita yang dicintainya sampai ketakutan semakin mencengkeram leher Bagas.


"Berani kamu mengganggu Karina lagi. Mau aku patahkan tulang KAMU..!!!"


Gertak Gama dan Bagas sudah menciut nyalinya menghadapi Gama yang memiliki perawakan badan lebih tinggi.


"Ampun.. Ampun.. Lepaskan Saya."


Bagas memelas, Gama yang sudah kalap mencengkram kaos Bagas semakin kuat.


"Sekali lagi kamu ganggu karina tidak akan segan - segan saya melaporkan kamu ke polisi." Ancam Gama.


"Sa...Saya janji tidak akan mengganggu Karina lagi."


Gama menatap Karina yang masih memeluk Desi karena masih ketakutan.


"Pergi kamu dari sini, dan ingat jangan pernah lagi tampakan muka kamu ini di depan Karina." Ancaman Gama tidak main-main.


"Ba...baik, Saya janji."


"PERGI KAMU.!!"


Gama dengan kasar melepaskan cengkeraman tangannya di kaos Bagas lalu dia langsung berlari.


Gama mendekati Karina yang masih gemetaran.


"Kamu nggak kan papa Sayang."


Gama dengan lembut berucap.


Karina menganggukkan kepalanya lalu melepaskan pelukannya dari Desi.


"Sudah makan.?"


Karina hanya menggelengkan kepalanya karena memang tadi belum gilirannya istirahat.


"Karin, kamu istirahat saja biar aku disini." pinta Desi.


Karina menatap Desi yang menganggukkan kepalanya.


"Kita makan yuk."


Gama mengulurkan tangannya.


"Sana Karina cari angin segar dulu."


Desi mendorong Karina mendekat ke Gama.


"Ayo kita keluar sebentar biar kamu fresh lagi." Gama masih mengulurkan tangannya sambil tersenyum.


Karina mendekat ke Gama dan tak disangka tangannya di sambar oleh Karina.


Cie.... Cie...


Nggak papa ya pegangan bentar biar ademmm....


πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰

__ADS_1


__ADS_2