
"Dokter... Dokter Gama."
Susan mengikuti Gama yang baru saja keluar dari ruangannya.
Gama masih berjalan saja, bukannya dia nggak denger tapi dia tau Susan yang memanggilnya.
"Dokter Gama tunggu sebentar."
Akhirnya Gama memberhentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.
"Tunggu sebentar Dok."
Susan nampak mengatur nafasnya.
"Ada apa Dokter Susan, saya buru-buru."
Ucap Gama to the poin saja.
"Saya denger Dokter Gama akan resign.?"
Gama hanya menganggukkan kepalanya.
"Alasannya.?"
Gama menghela nafasnya dan tersenyum.
"Maaf ini privasi dan biar menjadi rahasia saya dan pihak rumah sakit."
Jawab Gama cukup jelas karena tak mau lama-lama dengan Dokter Susan.
"Apa bener Dokter Gama akan melanjutkan S3 ke luar negeri.?"
Kepo banget ini Susan.
Gama tersenyum saja.
"Maaf Dokter Susan bukan menjadi urusan Anda juga. Saya permisi."
Dokter Ga melenggang pergi meninggalkan Susan yang menatapnya jengkel.
"Sok jual mahal banget, kamu Gama."
Susan tersenyum licik.
Gama menekan remote mobilnya lalu membuka pintu dan masuk ke dalam.
Dia menyalakan mesin mobilnya karena panas di dalam lalu membuka ponselnya.
"Assalamualaikum Sayang, dimana."
Gama menghubungi siapa lagi kalau bukan Karina.
"Oke Mas kesana."
Setelah selesai menelpon Karina, Gama melajukan mobilnya menuju ke rumah Karina untuk menjemputnya.
Perjalanan sore itu lumayan padat seperti biasa jam kantor jadi jalanan macet.
Butuh waktu lebih untuk bisa sampai di rumah Karina hingga adzan maghrib berkumandang baru memarkirkan mobilnya di halaman rumah Karina.
"Tok... Tok.. Assalamualaikum."
__ADS_1
Gama mengetuk pintu dan mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam."
Suara Karina dari dalam rumah dan membukakan pintu untuk Gama.
"Maaf ya Sayang Mas terlambat."
Karina yang mengenakan mukena tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Nggak papa Mas pasti macet, Mas udah sholat."
Gama menggelengkan kepalanya.
"Mas mau sholat di masjid."
"Iya sayang nanti kalau udah sah sholat di dalam sama kamu."
Goda Gama membuat Karina bersemu merah.
"Pakai sepeda motor Karina ya Mas, capek kalau jalan kaki."
"Iya sayang."
Karina masuk ke dalam rumah mengambilkan kunci motornya.
"Ini Mas kunci motornya."
"Ini kunci mobil Mas taruh dalam ya Sayang."
"Iya Mas, hati-hati."
Gama tersenyum dan menganggukkan kepalanya lalu menyalakan sepeda motor Karina yang berada di teras menuju ke masjid sedangkan Karina masuk ke dalam rumah untuk sholat juga.
"Mas, makan dulu ya. Mas belum makan kan.?"
Gama menggelengkan kepalanya dan masuk ke ruang tamu ada Risa juga.
"Ayo Mas kita makan."
Ajak Risa.
"Oke."
Karina mengambilkan nasi dan sayur serta lauknya di atas piring lalu menghilangkannya di hadapan Gama.
"Makasih ya Sayang."
"Iya Mas, ini teh hangat nya."
Mereka menikmati makan malam, walaupun menu sederhana tapi rasanya seperti di restoran memang Karina pandai memasak seperti Ibunya.
"Nambah lagi Mas."
Tawar Karina.
"Sudah Sayang, makasih Mas udah kenyang."
Karina membereskan alat makan mereka dibantu Risa, Gama menunggu di ruang tamu.
"Mas, kita berangkat sekarang."
__ADS_1
Karina keluar dari dalam membawakan buah untuk cuci mulut.
"Iya Sayang, Mas udah buat janji sama Jeni."
Jeni pihak WO yang akan mengurus pernikahan mereka.
"Risa ikut ya Mas."
Usul Risa dia bosan di rumah sendiri.
"Iya kamu boleh ikut."
Mereka lalu bersiap karena nggak mau juga terlalu malam. Awalnya mau ketemu siang tadi tapi ternyata Gama nggak bisa masih ada pekerjaan di rumah sakit.
Perjalanan lancar saja menuju ke sebuah restoran dimana mereka membuat janji.
"Ayo turun sayang."
Ajak Gama dan Karina lalu membuka pintu ikut turun juga, Risa sudah duluan dan biasa selfie dulu.
"Dek, kebiasaan."
"Momen mbak.."
Gama tersenyum saja lalu meraih tangan Karina dan menggandengnya masuk ke dalam.
Mereka bertiga masuk ke dalam lalu datang sebuah mobil dan terparkir di sebelah mobil Gama.
"Kayaknya ini mobil Dokter Gama deh."
"Siapa Dokter Gama."
Susan tersenyum senang.
"Kalau jodoh emang tak kemana ya."
"Siapa gebetan lho."
Temannya Susan heran memandang temannya itu.
"He he.. Entar tak kenalin sama Dia."
Mereka berdua turun dan masuk ke dalam. Sesampainya di dalam Susan memberhentikan langkahnya melihat Gama menggenggam tangan Karina dan mereka duduk bersebelahan.
"Perempuan itu lagi."
Ucapnya dengan nada tak suka.
Temannya menatap ke arah mata Susan memandang dan mengamati Karina dan Gama.
"Cowok itu.."
"Iya, kenapa Lo kenal."
"Itu mantan teman gue."
Susan menatapnya heran dan kaget.
"Berati Lo tau siapa dia."
"Gama kan..? Yang sampai frustasi di tinggal teman gue..."
__ADS_1
Susan tersenyum licik..
ππππ