
"Terus kamu mau menunggu dia berapa lama, sampai mengorbankan cita-cita kamu."
"Ma, Gama sayang dia kalau memang tidak bisa memilikinya yang penting dia bahagia Ma dengan orang yang tepat. Baru setelah itu Gama akan melepaskannya dengan ikhlas."
Mamanya memandang dengan sayang, kepada putra kebanggaannya itu.
"Apa kamu bahagia sayang.?"
Tanya Mama Dina melihat Gama menundukkan kepalanya.
Gama mengangkat kepalanya dan menganggukkan kepalanya.
"Mama akan dukung apapun keputusan kamu, asal kamu bahagia Sayang."
Disini Mama Dina masih memiliki trauma dia takut jika Gama akan melakukan hal yang sama seperti waktu itu.
"Makasih Ma."
Gama memeluk Mamanya dengan erat, Papanya dan Tika hanya memandang mereka berdua.
"Kalau kamu bahagia Mama akan merestuinya Sayang, bawa dia ke sini."
Mama Dina sambil mengusap punggungnya Gama.
"Tunggu sebentar lagi ya Ma, Gama akan berusaha meyakinkan Karina."
Tika mendekati Papanya.
"Pa, seperti apa sih gadis yang disuka sama Mas Gama."
"Papa juga belum tau Dek. Pastinya istimewa di mata Kakak kamu sampai rela melepaskan beasiswa S3 nya."
Tika menganggukkan kepalanya penasarannya semakin tinggi sampai kakaknya itu rela melepaskan kesempatan yang sudah ada di depan mata.
~Flashback On~
Hari yang ditunggu oleh Gama pun tiba setelah menunggunya selama kurang lebih 2 minggu.
Hari dimana hasil seleksi untuk mendapatkan beasiswa S3 ke luar negeri di umumkan.
Gama harap - harap cemas, karena posisinya saat ini Karina juga belum memberikan kejelasan.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya Gama kembali ke ruangannya, Dia duduk di kursi dan membuka laptopnya untuk mengecek hasil seleksi.
__ADS_1
Nomor registrasi ia masukan dengan berdebar Gama melihat kata LULUS di layar laptopnya.
Ada rasa senang tapi ada rasa sedih, berat hati rasanya untuk memilih salah satu diantara keduanya.
"Aku harus bagaimana."
Gama menelpon Lukman untuk ke ruangannya dia ingin mengajaknya berdiskusi.
"Ini kan yang aku takutkan, dan sebelum kamu daftar aku sudah pernah bertanya sama kamu. Sekarang semua keputusan ada di dirimu sendiri Bro, pikirkan dengan matang dan jangan sampai ada yang terluka."
Gama menengadahkan kepalanya rasanya berat sekali.
"Bingung aku tapi, jujur di dalam hatiku lebih berat memilih Karina daripada beasiswa ini. Namun, bagaimana dengan perasaan Papa dan Mama."
"Kamu pikirkan dulu sebelum mengambil keputusan."
Gama memijat kepalanya yang terasa berat.
"Mending kamu temui Om, kamu jelaskan semuanya sama Om dan masalah Tante nanti kalau dirumah."
Saran Lukman.
"Papa apa masih menghubungi kamu."
"Kamu jawab apa."
"Aku bilang Karina gadis baik-baik dan aku sudah mengenalnya dia teman dari Anggun."
"Respon Papa."
"Sepertinya Om, cuma waspada aja supaya kamu tidak mengulangi kesalahan yang sama dulu."
"Kemungkinan besar Papa setuju."
"Sepertinya."
Kemudian Gama mengikuti syarat dari Lukman untuk menemui Papanya dulu dan membicarakan masalah beasiswa S3 ini.
"Papa dan Mama itu cuma mau kamu bahagia dan jangan salah pilih wanita yang akan menjadi pendamping hidup kamu."
"Iya Pa, maafin Gama ya Pa sudah mengecewakan Papa."
"Papa percaya sama kamu, kalau kamu itu sudah dewasa dan bisa mengambil keputusan sendiri dan pastinya bisa mempertanggungjawabkannya."
__ADS_1
"Makasih Pa."
~Flashback off~
Gama berbicara dengan Mamanya dengan halus supaya Mama Dina tidak kaget dan bisa menerimanya.
"Mama cuma mau kamu bahagia Sayang."
Mama Dina mengusap tangan Gama.
"Maafin Gama ya Ma, sudah mengecewakan Mama dan juga Papa."
"Mama memang kecewa dengan keputusanmu untuk melepas beasiswa ini, tapi Mama akan lebih sedih kalau kamu menjalankan ini dengan terpaksa."
"Gama akan mencoba lagi nanti Ma tapi, setelah Gama bisa memastikan Karina."
Mama Dina menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
"Mama jadi tambah penasaran seperti apa gadis istimewa itu."
"Cantik Ma."
Ucap Gama tersenyum.
"Cantikan mana sama Aku."
Tika nggak mau kalah.
"Cantikan Karina pastinya, dia anggun, baik dan Solehah."
"Gadis seperti apa sih, yang bisa membuat anak Papa ini sampai luluh mempertahankannya."
"Istimewa Pa."
Gama tersenyum membayangkan wajah Karina jika tersenyum mampu membuat hatinya porak poranda.
"Jadi penasaran, ya nggak Dek."
Papa Rudi mengalungkan tangannya di pundak Tika.
"Iya, korban Bucin itu Kakak Pa."
ππππ
__ADS_1
Bonus malam biar tidur nyenyak πΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ