Mukena Merah Muda

Mukena Merah Muda
MMM #48


__ADS_3

"Mas, udah pulang yuk."


Karina dan Risa udah memilih pakaian di butik diantar Gama. Mama Dina tidak ikut karena Papa Eko belum pulang kerja.


"Cuma itu aja sayang, Risa nggak mau yang lain lagi."


"Emang boleh Mas."


Dasar Risa ya, mana nolak dikasih gratisan.


"Dek udah. Ayo kita pulang."


Karina malahan yang merasa tidak enak digratisi terus.


"Nggak papa Sayang, pilih lagi aja kalau masih ada yang cocok."


"Udah Mas, ayo Risa."


Karin menarik tangan Risa untuk keluar dari butik.


Gama paham apa yang ada di pikiran Karina, Dia mengikuti mereka berdua ke parkiran untuk segera pulang.


"Kita langsung pulang."


"Iya Mas, Papa pasti sudah pulang dari kantor."


"Oke."


Perjalanan sore itu lumayan padat karena berbarengan dengan jam pulang kantor. Butuh waktu lebih untuk bisa cepat sampai di rumah.


Mobil Gama sudah memasuki halaman rumah dan sebentar lagi adzan maghrib akan berkumandang.


Setelah mengucapkan salam dan masuk ke dalam rumah Mama Dina meminta kepada mereka untuk membersihkan diri karena sebentar lagi jamaah sholat Maghrib.


"Karin sama Risa kamarnya sebelah sana ya, sudah dibersihkan sama bibi."


"Makasih banyak Ma."


"Sama-sama sayang anggap rumah ini rumah kalian sendiri ya. Nanti bantu Mama untuk masak makan malam ya Karin."


"Baik Ma."


Karina dan Risa masuk ke dalam kamar tamu yang sudah disediakan sedangkan Gama masuk ke dalam kamarnya sendiri.


Mereka bersiap untuk melaksanakan sholat Maghrib berjamaah dengan Papa Eko sebagai imamnya.


Selesai sholat Karina dan Risa sibuk di dapur membantu Mama Dina untuk mempersiapkan makan malam mereka. Walaupun ada asisten rumah tangga di rumah Mama Dina senang sekali mempersiapkan menu untuk makan bersama keluarganya.

__ADS_1


Gama dan Papa Eko bercengkrama di ruang keluarga, mereka kalau sudah berdua pasti membicarakan pekerjaan karena mereka satu profesi.


"Ma, tolong cobain kurang apa capcay nya." Pinta Karina.


"Oke.."


Mama Dina mengambil sendok lalu mengambil sedikit dan meletakkannya di piring kecil lalu menyantapnya.


"Hmmm... Enak banget ini capcay buatan kamu Karin." puji Mama Dina.


"Makasih Ma."


Karina tersenyum senang masakannya bisa diterima.


"Karin emang pinter Ma kalau buat capcay." Suara Gama mengagetkan Mereka tiba-tiba masuk ke dapur.


"Emang kamu tahu."


Gama tersenyum.


"Gama udah pernah dibuatin Karina Ma, enak banget bikin nagih."


Katanya sambil tersenyum manis ke arah Karina.


"Karin, kenapa Mama nggak dibawain sih kalau Gama ke rumah kamu."


"Hmmm... Ini enak banget sayang jadi nggak sabar mau makan. Risa tolong bantu siapin di meja Mama mau panggil Papa dulu untuk makan malam."


Gama mendekat ke arah Karin yang berdiri dekat lemari pendingin.


"Mau dong tiap hari dimasakin yang enak." bisiknya sambil membuka pintu lemari pendingin untuk mengambil minum.


Karina tersenyum malu.


"Ehemmm... Ada anak kecil ini."


Celetuk Risa melihat dua Kakaknya itu saling melempar senyum.


"Emang kita ngapain Risa."


Sangkal Gama membela Karina yang pasti malu.


"Nggak tau ngapain."


Katanya sambil mengangkat kedua pundaknya.


"Ayo kita makan."

__ADS_1


Mama Dina datang bersama Papa Eko, mereka semua duduk mengelilingi meja makan untuk menyantap makan malam.


Makan malam bersama yang sangat nikmat dengan beberapa menu yang telah disajikan oleh Mama Dina dibantu oleh Karina dan Risa.


Apalagi capcay buatan Karina menjadi favorit hingga habis ludes dari piring saji.


"Sayang, besok buatin lagi ya."


Gama memang nggak punya malu memanggil karina dengan sebutan sayang dihadapan kedua orang tuanya, sedangkan Karina tentu masih merasa malu karena belum terbiasa.


Karina tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Iya Mas."


"Itu Pa, lihat anak kita harus segera dinikahkan aja bisa bahaya."


Ucap Mama Dina, lagi-lagi Karina yang malu dan menunduk saja.


"Kita siap saja Ma, tapi mereka berdua lah yang akan menjalaninya."


Jawab Papa Eko dengan bijak.


"Gama, kamu harus menjadi pelindung untuk Karina bukan justru menjerumuskannya." Tambah Papa Eko.


"Iya Pa, Gama memahami Karina Pa. Kita akan menikah setelah kuliah Karina selesai."


"Baguslah, kalian harus menjalani hubungan yang sehat dan Karin, jangan sungkan bilang sama Papa kalau Gama macam-macam sama kamu."


"Baik Pa."


Karina senang Papa melindunginya, dia punya senjata untuk menolak keinginan Gama yang dia nggak suka.


"Papa.. Emang Gama mau ngapain Karina. Gama kan sayang sama Karin."


"Justru itu dengan alasan sayang kamu nanti malah sesuka hati. Jaga nama baik Papa."


"Iya Pa."


"Kamu siap-siap lagi sana cari S3, biar nanti setelah menikah bisa berangkat."


"Gama pikir dulu Pa dan mau bicara dulu sama Karina."


Ucapnya sambil memandangi Karina yang hanya menunduk saja mendengarkan obrolan anak dan bapak itu.


πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰


Gimana lanjuttt....

__ADS_1


__ADS_2