Mukena Merah Muda

Mukena Merah Muda
MMM #53


__ADS_3

"Maafin Mas Sayang."


Gama menggenggam tangan Karina yang tidak diinfus.


"Karin yang minta maaf Mas."


Gama menganggukkan kepalanya.


"Mas..."


"Iya Sayang."


"Karin mau keluar kerja aja, Karin mau nurut sama Mas Gama."


Terbit senyum di bibir Gama.


"Mas seneng banget sayang dengar itu, kamu jangan khawatir ya masalah biaya kamu sama Risa, Mas siap mencukupi semuanya. Jangan merasa sungkan Kamu tanggung jawab Mas walaupun kita belum menikah Mas tetap akan mencukupi semua kebutuhan kamu sama Risa."


Karina tersenyum menatap Gama.


"Karina juga punya tabungan kok Mas."


"Simpan tabungan kamu sayang, kalau kamu butuh apapun bilang sama Mas."


"Makasih banyak Mas, Karin akan segera selesaikan kuliah ini."


Gama malah tersenyum menggodanya.


"Udah nggak sabar kita nikah ya."


"Apa sih Mas, biar Karina nggak merasa menjadi beban Mas terus." Ucap Karina cemberut.


"Jangan cemberut gitu, tambah gemes Mas."


"Mas istirahat aja sudah malam."


Gama malam ini menemani Karina di rumah sakit bersama Risa.


Anggun sudah pulang bareng Lukman sedangkan Mama Dina pulang dengan Tika diantar supir karena Papa Eko sedang ke luar kota.


Gama tersenyum saja memandangi Karina, kemana Risa.?..


Risa sudah terlelap di tempat tidur yang tersedia di ruang VIP.


"Mas, tidur dimana.?"


Gama mengarahkan pandangannya ke sofa di samping.


"Itu Sofa ada."


"Nanti badannya pegel kalau tidur disitu, kenapa nggak tidur di ruangan saja Mas."


Gama malah menggelengkan kepalanya.


"Nanti yang nemenin kamu siapa."


"Itu ada Risa."


"Dia molor gitu kalau kamu butuh sesuatu gimana Sayang. Mending sayang buat tidur biar besok bisa pulang."


Karina berbinar besok bisa pulang.

__ADS_1


"Besok sudah boleh pulang Mas.?"


"Nunggu cek tensi dulu ya, kalau kamu sudah nggak mual lagi boleh pulang."


Karina tersenyum senang, dia memang sudah merasakan badannya yang semakin membaik karena Gama memberi obat yang bagus juga.


"Karin sudah merasa lebih baik Mas."


Gama memandanginya dan mengusap kepala Karina yang tertutup hijab.


"Jangan sakit lagi."


Karina tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Maaf Mas, harusnya Karina nurut apa kata Mas Gama."


"Sussttt.. Sudah yang penting sekarang kamu sehat dan bisa beraktivitas kembali."


"Karina nyesel Mas."


"Buat pelajaran ya sayang, tubuh itu juga butuh istirahat jangan diforsir terus."


"Iya Mas, makasih banyak Mas."


Gama tersenyum dan memandangi Karina sambil masih mengusap kepalanya.


"Nggak sabar rasanya mau nikahin kamu sayang, buat dosa terus kalau kayak gini."


"Ya udah lepasin ini."


Karina menggerakkan tangan yang digenggam oleh Gama.


"He he he... Sulit mau lepas sayang."


"Ya kamu sayang."


"Karin kan nggak bisa bukan Dokter juga."


"Kamu dokternya Mas."


Mereka saling pandang lalu ada suara orang berdehem.


"Ehem...Hem..."


Risa yang terbangun dari tadi merasa seperti obat nyamuk mereka berdua.


Karina lalu menarik tangannya dan Gama berdiri.


"Kamu bangun Dek."


Risa turun dari tempat tidurnya.


"Mau ke kamar mandi malah ada yang pacaran malam gini."


Gama tersenyum saja dia sudah beralih ke sofa.


"Nanti Risa bilangin ke Bude biar cepat dinikahin." Ucap Risa sambil membuka pintu kamar mandi.


Karina melirik kearah Gama yang hanya senyum saja.


"Mas Gama malah seneng, cepetan bilang ke Bude ya."

__ADS_1


Kelakar Gama dan Risa mengacungkan jempolnya sebelum menutup pintu kamar mandi.


Karina menatap tajam ke arah Gama.


"Tadi katanya mau cepetan nikah."


"Ya nggak mendadak juga Mas, nanti disangka Karina kenapa-kenapa lagi sama Bude."


"Mau kenapa-kenapa juga nggak papa sayang.." Gama malah semakin menjadi.


"Mas..."


"Itu ngapain lagi."


Risa pas keluar kamar mandi.


"Mbak mu udah nggak sabar mau nikah Risa." Goda Gama.


"Jaga image dikit Napa Mbak, Risa tau Mas Gama itu cakep tapi ya nggak gitu juga."


"Apa sih Dek... emang Mbak ngapain..."


Karina jengkel di kerjain mereka berdua.


"Ha ha ha..."


Risa dan Gama malah tertawa.


"Tau.. Mau tidur."


Karina memiringkan badannya.


"Sayang, infusnya."


Gama mendekati Karina dan membenarkan kabel infus Karina takut darahnya nanti malah naik.


"Jangan ngambek gitu, tambah gemesin." Gama masih saja menggodanya.


"Itu kan minta diperhatikan terus."


Tambah Risa lagi.


"Udah Risa bisa kabur ini nanti Mbak Mu." Gama membela Karina.


"Heleh. Mau kabur kemana Mbak Karin Mas, mana bisa jauh dari Mas Gama."


Risa memposisikan tidur lagi dirinya.


"Cerewet tidur sana."


Bentak Karina.


"Susstt.. Kamu tidur juga sayang."


"Itu aslinya Mbak Karin, hati-hati mas kalau nikah sama Mbak Karin bisa di terkam. Hauuuu..... Ha ha ha..."


Risa puas membuat Karina menatapnya tajam.


"Jadi nggak sabar pengen diterkam sama kamu sayang."


Karina memanyunkan bibirnya dan membuang muka dari Gama.

__ADS_1


πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


__ADS_2