
"Astaghfirullah, badan kamu demam sayang."
Gama kaget, baru membuka mata merasakan badan Karina di pelukannya terasa hangat.
Gama menegakkan badannya agar bisa mengecek keadaan Karina.
"Sayang, apa yang dirasakan."
"Hmm.. Pusing Mas, lemas."
Karina masih mendekap Gama karena merasakan badannya tidak enak.
"Bentar Mas periksa dulu."
Gama meminta kepada Karina untuk berbaring lalu dia turun dari tempat tidurnya dan mengambil stetoskopnya.
"Mas periksa dulu ya sayang."
Karina hanya menganggukkan kepalanya dan membuka matanya sedikit.
"Kamu kecapekan ini Sayang, maafin Mas ya."
Gama mengusap kepala Karina dan mencium keningnya.
"Mas, kenapa minta maaf."
Karina memandang suaminya yang terlihat sendu.
"Mas nggak peka sama kamu sayang, Udah tau istrinya capek masih aja minta."
Gama mengusap kepala Karina dan membuat istrinya itu tersenyum.
"Mas bukan gara-gara itu juga."
Mereka sampai di bandara tengah malam tadi setelah menempuh penerbangan kurang lebih 15 jam dan langsung menuju ke tempat tinggal yang sudah disiapkan Gama untuk tinggal bersama Karina selama di sana.
Tak lupa mereka juga membeli beberapa makanan untuk dibawa kalau malam nanti lapar dan sudah mengirimkan pesan juga ke keluarga jika mereka sudah sampai.
Sesampainya di rumah, Gama dan Karina membersihkan diri mereka terus karena hari sudah malam Gama melarang Karina untuk menata barang bawaan mereka dan malah merayunya membawa ke atas tempat tidur.
"Sayang, maaf."
"Nggak papa Mas."
Karina memeluk Gama.
"Minum Paracetamol dulu ya sayang, Mas cuma bawa itu. Nanti kalau sudah siang Mas ke apotik."
Karina menganggukkan kepalanya saja.
Gama turun dari tempat tidurnya lalu membuka koper dan mencari Paracetamol yang kebetulan tadi pas dirumah ia masukkan ke dalam tas.
"Mas ambil air dulu ya sayang."
__ADS_1
Karina memandang Gama yang sibuk sendiri mencari air minum dan juga roti untuk mengganjal perut supaya bisa minum obat.
"Sayang, bangun ya."
Gama membantu Karina untuk bangun, badannya memang terasa amat lemas dan tak berdaya.
"Karin, nggak pernah merasakan sampai lemas begini Mas." Ucapnya lemah.
"Makan rotinya dulu sayang."
Gama menyuapinya namun Karina rasanya enggan menelan dan menggelengkan kepalanya.
"Kamu harus makan dulu sayang, supaya bisa minum obat."
Gama merayu Karina supaya mau, kalau tidak mau makan dia nggak bisa minum obat.
"Sayang, Mas suapin dikit aja nggak papa."
Karina merasakan mulutnya pahit dan perutnya juga enek.
"A...AA.."
Karina membuka mulutnya dan menerima suapan roti dari Gama.
"Minum sayang."
Karina menganggukkan kepalanya lalu Gama mengambil gelas yang berisi air hangat.
"Makan lagi ya."
"Sekali lagi, setelah itu udah."
Akhirnya Karina mau dan disuapi Gama lagi.
"Minum dulu sayang, terus ini obatnya."
Karina minum dengan di bantu Gama lalu menegak Paracetamol untuk meredakan panasnya.
"Oke, tidur lagi aja sayang belum subuh. Mas mengembalikan gelas dulu ya."
Gama beranjak dari tempat tidur setelah membantu Karina berbaring kembali.
"Mas, adzan nya jam berapa."
"Mas cari di hp dulu ya."
Gama mengecek hp nya dan mencari jadwal sholat di daerah itu.
"Ini Sayang, masih setengah jam lagi. Kamu tidur lagi nggak papa nanti Mas bangunkan."
Karina menganggukkan kepalanya dan karena efek obat juga dia terlelap kembali.
Setelah Karina tidur Gama beranjak dari tempat tidur menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri sembari menunggu waktu sholat subuh tiba.
__ADS_1
Setelah mandi Gama membuka koper karena semalam dia dan Karina langsung istirahat dan hanya mengambil baju tidur.
Gama menata isi koper ke dalam lemari sedangkan Karina masih terlelap di alam mimpinya.
Adzan subuh berkumandang Gama mendekati Karina dan berniat membangunkannya.
"Sayang..."
dengan halus Gama mengusap kepala Karina supaya tidak mengagetkan istrinya itu.
"Sayang..."
Panggil Gama lagi, sambil mengecek suhu badan Karina
"Hmmm.. Mas."
"Bangun Sayang, udah adzan. Kamu harus mandi wajib dulu Mas akan siapkan air hangat ya."
Karina perlahan membuka matanya dan Gama ke kamar mandi mempersiapkan air hangat untuk mandi Karina.
Setelah siap Karina ia gendong dan di bawa ke kamar mandi, Gama merasa bersalah kenapa juga tadi malam tidak bisa menahan hasratnya tanpa bertanya pula istrinya capek atau tidak.
"Maaf ya Sayang."
Hanya itu yang diucapkan Gama, kini mereka sudah selesai sholat.
Gama membuatkan minuman hangat lagi untuk Karina.
"Sayang, Mas keluar bentar ya mau cari sarapan sama obat buat kamu."
"Belinya dimana Mas."
Karina menyenderkan kepalanya di pundak Gama sambil memeluk perut suaminya.
"Nanti Mas tanya tetangga, kamu nggak papa kan Mas tinggal sebentar buat tidur aja."
Gama mengusap kepala Karina dan sesekali menciumi pucuk kepalanya.
"Jangan lama-lama Mas."
"Iya Sayang, kamu tiduran aja ya di tempat tidur."
Karina menganggukkan kepalanya, Gama membopong tubuh Karina dan membaringkannya di atas tempat tidur.
"Mas pergi bentar ya, kalau ada apa-apa langsung telepon Mas."
Karina tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Gama mengambil jaket dan juga ponselnya namun belum beranjak panggil masuk dari Mama Dina.
"Kamu apa Karina, Gama...!"
Suara Mama Dina terdengar keras begitu tau Karina sakit dan melihat menantu kesayangannya tergolek lemas di atas tempat tidur.
__ADS_1
π€π€π€
Maaf ya Author, lagi jadi pemalas update.... Capek banyak kerjaan π