
"Karin... Kamu nggak papa..."
Masih terdengar suara orang muntah dari dalam kamar mandi.
"Hoek..."
"Karin... tok..tok..."
Anggun mengetuk pintu kamar mandi.
Ceklek...
Pintu kamar mandi terbuka nampak Karina yang mengusap mulutnya habis muntah.
"Karin kamu pucat banget, kita ke rumah sakit ya."
Anggun menuntun Karina keluar dari kamar mandi.
"Aku cuma muntah Gun."
Mereka duduk di bangku.
"Karin, kamu sakit. Muka kamu pucat kita ke Dokter ya atau aku telepon Mas Gama aja."
Karina langsung menatap Anggun dan menggelengkan kepalanya.
"Jangan Gun, Mas Gama sibuk nanti malam mengganggu dia."
"Karin, Mas Gama kalau tahu kamu keadaannya kayak gini dia pasti langsung datang ke sini."
"Anggun please.. Jangan telepon Mas Gama."
Karina menutup mulutnya lagi dan berlari ke kamar mandi kembali.
"Karin.."
Anggun mengikuti Karina ke kamar mandi lagi.
Terdengar lagi suara orang muntah di dalam.
"Karin..."
Kemudian Karina keluar dari kamar mandi, badannya lemas dan pucat mukanya.
"Kita ke klinik sekarang."
Anggun memapah Karina yang sudah lemas dengan meminta tolong kepada temannya untuk membantu.
"Silahkan tidur di bed."
Seorang perawat yang sedang bertugas akan memeriksa Karina.
"Tadi pagi sudah sarapan."
Tanyanya.
"Sudah."
Jawab Karina lemah, Anggun pun menemaninya.
"Sepertinya asam lambungnya naik dan tensi darahnya rendah. Ini harus di rawat tapi kalau disini hanya ada obat saja."
Anggun menatap Karina yang sudah lemas lalu mengambil ponselnya dan menghubungi Gama.
"Mbak, kasih obat saja dulu."
Ucap Anggun setelah menelepon Gama.
"Tolong dibantu dengan minum teh hangat manis ya." ucap perawat itu.
Seorang temannya segera mencarikan teh hangat untuk Karina.
__ADS_1
Karina lemas tidur di bed, kepalanya pusing perutnya terasa mual seperti diaduk-aduk dan badannya lemas.
"Kamu harus ke rumah sakit Karin."
Anggun membantunya minum teh hangat untuk meredakan badannya lalu minum obat.
Sekitar setengah jam kemudian datang Gama yang masih mengenakan jas Dokter dengan buru-buru masuk ke klinik, tadi Anggun sudah pesan kalau karena sudah dirawat di klinik.
"Sus, dimana Karina."
"Silahkan masuk Pak."
Gama melihat Karina yang memejamkan matanya di atas bed ditemani Anggun.
"Mas Gama."
Ucap Anggun lalu berdiri memberi tempat kepada Gama.
Gama menghela nafasnya yang dia takutkan terjadi juga.
"Sejak kapan Karina muntah Gun."
"Setelah dari ruangan Dosen Mas."
Gama sayu menatap ke arah Karina yang terlihat lemas.
Karina menggerakkan badannya dan membuka mata mendengar orang berbicara.
"Mas..."
Gama rasanya mau marah tapi kasihan, Karina kalau dibilangin sulit banget.
"Kita ke rumah sakit sayang."
Karina menggelengkan kepalanya.
"Kamu sakit, kamu harus dirawat."
"Obat jalan aja Mas."
"Anggun, buka mobil Mas di depan."
"Baik Mas."
Anggun menerima kunci mobil Gama dan keluar duluan. Sedangkan Gama tidak meminta persetujuan Karina langsung mengalungkan tangan Karina ke lehernya dan mengangkat tubuhnya.
"Mas... Karin bisa jalan."
Tolak Karina walaupun sudah lemas.
Gama sama sekali tidak menggubris Karina, Dia membopong tubuhnya keluar dari klinik.
Beberapa pasang mata melihat adegan itu dan pasti berbisik di belakang apalagi Gama masih memakai jas Dokternya.
Anggun melihat Gama membopong karina dia dengan sigap membukakan pintu mobil.
"Anggun ambil tas dan sebagainya kamu ikut ke rumah sakit."
Ucap Gama, Dia mendudukkan Karina di jog tengah.
"Iya Mas."
Anggun masuk ke dalam klinik lagi mengambil barang miliknya dan juga Karina.
"Dingin Sayang."
Gama merasakan badan Karina agak menggigil.
Karina merasakan tubuhnya semakin lemas dan dingin. Gama melepas jas putihnya dan menyelimuti tubuh Karina.
"Tahan sebentar ya sayang."
__ADS_1
Anggun datang dan langsung masuk ke dalam mobil menyenderkan tubuh Karina ke tubuhnya. Gama masuk ke mobil dan menjalankannya menuju rumah sakit.
"Buat merem aja Karin."
Anggun menjadikan dirinya sandaran Karina. Gama fokus menyetir sesekali melihat ke belakang melihat keadaan Karina.
Perjalanan memakan waktu sekitar 30 menit dan mobil Gama kini merapat di UGD rumah sakit.
"Brankar Sus."
Teriak Gama saat turun dari mobil.
Dia berlari membuka pintu samping dan mengangkat lagi tubuh Karina.
"Kenapa Karina ini Gama."
Lukman yang siang itu ada di UGD.
Gama meletakkan Karina ke atas brankar dan
"Sepertinya asam lambung dia, cepat periksa Dia."
Gama mendorong brankar itu bersama perawat masuk ke UGD.
Di dalam Karina ditangani oleh Lukman dan Gama pasti menemaninya sedangkan Anggun menunggu di luar.
"Dia asam lambung, darah rendah dan kecapean kurang istirahat juga."
Terang Lukman setelah di periksa dan sedang dipasang infus.
"Biarkan dia istirahat kita pindahkan ke ruang perawatan."
Karina diberi obat penenang agar tubuhnya beristirahat.
"Sus, rawat di ruang VIP saya yang tanggung jawab."
Ucap Gama kepada suster untuk mengurus semua administrasi Karina.
"Baik Dok."
Gama menatap Karina yang lemas tertidur di atas bed dengan tangannya sebelah kiri di infus.
"Jaga dia Gam, nggak ada keluarga lagi disini." Lukman menepuk pundak Gama.
"Ngeyel banget orangnya, susah dibilangin." Gama menghela nafasnya.
"Kamu yang harus sabar."
Gama menganggukkan kepalanya.
Karina kini sudah dibawa ke ruang perawatan dengan di temani Anggun karena Gama masih ada pekerjaan.
Ceklek...
Pintu ruangan terbuka, masuklah Gama masih mengenakan jas Dokternya.
"Karin belum bangun Gun."
"Belum Mas."
Gama mengecek keadaan Karina karena dia sendiri dokternya setelah dari UGD.
"Melihat kamu seperti ini Mas rasanya sedih Sayang tapi, kamu itu ngeyel aja."
Gama menatap Karina dalam.
"Gun, Mas nitip Karina dulu ya. Mas mau jemput Risa dan ambil baju Karina di rumah."
"Iya Mas..."
Anggun melihat Gama keluar ruangan.
__ADS_1
"Kamu beruntung banget Karin..."
ππππ