
"Kak.."
Anggun duduk di samping Lukman yang serius melihat layar HP nya.
"Hmmm..."
Hanya itu yang keluar dari mulut Lukman.
"Kak.. Dengerin bentar."
Anggun menggoyangkan badan Lukman karena tidak mendapat respon dari Kakaknya itu.
"Kenapa sih Dek, ganggu aja."
Lukman yang serius melihat video di hp-nya jadi merasa terganggu oleh Anggun.
"Kak, sebenarnya Mas Gama itu suka nggak sih sama Karina."
Lukman menatap ke arah Anggun.
"Kenapa.?"
"Kasihan Karina tau Kak, diberi perhatian terus sama mas Gama tapi tidak diberi kepastian."
Anggun jadi ikut kesal dia melipat tangannya di depan dada.
"Kenapa kamu yang sewot."
"Karina itu temen aku Kak, katanya Mas Gama serius tapi sampai saat ini belum menyatakan perasaannya. Kalau cuma mau mainin perasaan Karina udahlah nggak usah diterusin."
"Kamu kenapa mikir gitu, mungkin si Gama lagi mencari waktu yang tepat untuk menyatakan perasaannya. Dia itu menyadari saat ini Karina itu masih dalam keadaan berduka, dia juga nggak mau dikatakan memanfaatkan situasi atau hanya cuman kasihan sama Karina."
"Kamu itu kalau mikir jangan hanya sekarang pikir kedepannya."
Lukman gemas sambil mengacak rambut Anggun.
"Ah.. Kak Lukman rese."
Anggun nggak terima rambutnya jadi berantakan lagi.
"Lagian kamu kenapa ngotot banget harus nembak sekarang."
__ADS_1
"Ya nggak sekarang juga Kak tapi kan mereka udah deket Mas Gama sering ke rumah kadang juga ngapelin tuh ke tempat kerjanya."
"Tapi Gama kan juga nggak ngapa-ngapain Karina. Sudahlah Dek urusan mereka berdua nggak usah terlalu khawatir Gama udah aku pegang itu nggak akan macam-macam dia tenang aja kamu."
"Tapi Mas Gama beneran suka kan kak sama Karina."
"Sepertinya."
Lukman mengambil ponselnya lagi dan melanjutkan menonton video.
"Dibujuk dong Kak supaya segera menyatakan perasaannya, Kalau aku lihat nih ya Karina juga suka tuh kayaknya sama Mas Gama."
Lukman menatap ke arah Anggun lagi.
"Gama juga serius sama Karina. Doain aja kenapa sih Dek."
"Iya tapi, Karina itu kalau ditanya soal Mas Gama dia seperti nggak mau bahas gitu Kak. Katanya dia nggak mau berharap takut kecewa."
"Ya jelas dong, dia sadar diri siapa Gama dan keluarganya."
"Aku kasihan aja Kak sama Karina, tapi dia nggak mau tuh pacaran."
"Terus maksudnya langsung mau nikah.?"
"Dia cuman bilang pacaran cuman nambah ribet aja sedangkan dia juga harus fokus dengan kuliah dan juga kerjanya untuk ngumpulin tabungan."
"Sepertinya kalau hal itu Gama juga sudah memahaminya, Kalau Kakak lihat Gama beneran serius sama Karina sampai dia berusaha mencari cara bagaimana bisa mendekati temanmu itu."
"Karina itu sederhana kok Kak, dia pasti nggak mau kalau diajak model kayak cewek-cewek yang suka dengan segala hal yang diberi sa cowoknya."
"Lah.. Itu yang masih dipikirkan sama Gama. Teknik yang tepat untuk bisa mendapatkan hati Karina."
"Karina Kalau diberi perhatian dengan tulus dia akan mudah luluh tapi logika Karina juga akan jalan dia pasti nanti akan berpikir kalau dia nggak sepadan dengan Mas Gama."
"Sepertinya itu tantangan untuk Gama."
"Hufft.. Semoga Karina bahagia dengan Mas Gama."
Anggun menghela nafasnya dan meletakkan kepalanya di sandaran sofa.
"Di doakan."
__ADS_1
Lukman kembali serius menonton video.
πΉπΉπΉπΉπΉ
"Pak Bu, Karin kangen."
Karina memandangi foto Bapak dan Ibunya di dalam kamar.
Air matanya meleleh begitu saja membasahi pipi mulusnya lalu dibacakan surat al-fatihah untuk kedua orang tuanya.
"Pak, Karin masih ingat dengan pesan Bapak. Apa maksud dari pesan Bapak kepada Dokter Gama."
Karina memang setelah sholat tadi seperti terlintas di pikirannya dan teringat kembali dengan pesan Bapaknya yang disampaikan kepada Dokter Gama sebelum beliau menghembuskan nafas terakhirnya.
"Apa karena pesan Bapak itu yang membuat Dokter Gama baik sama Karina dan Risa."
"Beri Karin petunjuk Ya Allah, sebenarnya Karin merasa aneh dengan semua kebaikan dari Dokter Gama. Kita yang awalnya tidak saling kenal kenapa sekarang dia begitu baik dengan Karina dan Risa."
"Karina hanya merasa tidak mau menjadi beban untuk Dokter Gama sekaligus berhutang Budi kepadanya."
Karina merebahkan tubuhnya di atasnya tempat tidurnya sambil memeluk foto kedua orang tuanya yang ia dekap erat.
Alarm Karina berbunyi yang telah dia setel pukul 03.00 dini hari.
Dia menggeliatkan badannya, mengumpulkan nyawa untuk bangun.
"Alhamdulillah ya Allah."
Karina mengucapkan syukur masih diberi kesempatan untuk bisa bangun dan bersujud kepada Rob-Nya."
Dia kamu dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Sajadah di gelarnya dan mukena ia kenakan mulai memanjatkan takbir dan melaksanakan sholat malam.
Karina berdoa supaya diberi kekuatan dan keikhlasan untuk menerima semua takdir yang telah digariskan untuknya.
Air matanya meleleh memohon dengan sepenuh hati untuk mendapatkan keridhoan Allah.
"Karina ikhlas menerima takdir mu Ya Allah, karena hamba semua rencana Mu yang terbaik."
πππππ
__ADS_1