
Resepsi berjalan dengan lancar, banyak rekan kerja, teman dekat serta keluarga besar yang ikut berbahagia dengan pernikahan mereka.
Tak terkecuali Susan, Dia pun diundang karena Gama tidak membedakan teman kerja yang pernah kerja sama semua diundang tanpa terkecuali.
Tadi saat bersalaman diatas pelaminan Susan manis banget saat mengucapkan selamat kepada Gama namun saat dengan Karina nampak jutek dan tak suka.
Gama melihat itu dan meraih tangan Karina lalu menggenggamnya.
"It's oke Sayang."
Ucapnya untuk memastikan istrinya baik - baik saja.
Karina tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Susan belum turun, Gama meraih dagu Karina dan mencium keningnya. Jelas Susan melihat itu karena semua tamu undangan sengaja bersorak begitu melihat kemesraan kedua pengantin tapi di balik semua itu ada Lukman dan Anggun yang memulainya.
"Rasain kamu.."
Umpat Anggun melihat ekspresi wajah Susan yang tak suka melihat kemesraan mereka berdua.
Kini semua tamu telah pulang dan tinggal keluarga, sahabat dan saudara yang masih bercengkrama sambil menikmati suasana senja.
"Bro.. Gimana.."
Tiba - tiba Lukman yang berada disampingnya Gama berbisik ke telinganya.
"Gimana apanya."
Gama tak paham.
"Masa nggak paham sih."
Lukman memberikan kode dengan matanya yang melirik ke arah Karina yang bersama Anggun, Risa, Tika dan saudara perempuan lainnya.
Gama tersenyum saja.
"Malah senyum, asik dong."
Lukman menggerak-gerakan kedua alisnya dan pasti otaknya sudah nggak bener.
"Apaan sih, sana kamu nikah sendiri biar nggak mesum."
Gama merangkul sahabatnya itu sambil sesekali melihat ke arah Karina memastikan istrinya masih disana.
"Aku kan nunggu dia wisuda, gimana sih kamu. Maunya juga sekarang."
"Kamu kebanyakan khayal."
"Tapi, beneran ya enak."
Lukman masih aja pingin tahu urusan pribadi orang lain.
"Bener nih mau denger ceritanya, entar nggak susah sendiri itu nggak ada pasangannya." Ledek Gama gantian.
__ADS_1
"Kurang asem kamu, iya yang sudah merasakan.."
Lukman tersenyum kecut.
"Ha ha ha.."
Gama tertawa saja membuat yang lain memandang ke arah mereka tak terkecuali Karina juga yang heran dengan suaminya itu.
Setelah hari makin gelap Gama mengajak Karina untuk pulang ke rumah Mama Dina setelah semua keluarga juga bergegas kembali ke rumah masing masing.
"Mas.. Fokus nyetir."
Gama yang memegang setir mobil dengan satu tangannya menggenggam tangan Karina hanya tersenyum saja.
"Mas.."
Suara Karina terdengar merdu di telinga Gama dan membuatnya mencium tangan istrinya itu.
"Iya sayang."
Tak lama mobil sudah memasuki perumahan menuju ke rumah Mama Dina.
"Sayang, jangan turun duluan oke."
Pinta Gama setelah mobilnya terparkir sempurna di halaman rumah dan Karina nurut aja apa kata suaminya.
Gama turun dari mobil lalu berputar dan membuka pintu sampingnya.
"Silahkan sayang."
"Cie....cie..."
Ledek Risa dan Tika, dia adiknya itu memang suka jahil.
"Anak kecil masuk udah mau maghrib."
Titah Gama membuat Risa dan Tika menjulurkan lidahnya mengejek Kakaknya itu.
"Sayang, kita masuk yuk."
Gama membawa Karina masuk ke dalam rumah lalu meminta satpam rumahnya untuk membawakan koper milik Karina ke kamar.
"Gama ajak Karin ke kamar, kalian bersihkan diri dulu nanti kita jamaah sholat maghrib." Kata Mama Dina.
"Siap Ma."
Gama menggenggam tangan Karina dan membawanya ke arah kamarnya.
"Mas, kamar Karin kan di sana."
Karina menunjuk kamar yang pernah digunakannya waktu menginap dulu.
"Sayang, sekarang kamar kamu bersama Mas nggak disana."
__ADS_1
Gama meraih pinggang Karina dan membawanya ke kamar miliknya.
"Iya Mas, Karin bercanda kok."
Gama mencubit pelan hidung Karina yang menggemaskan.
"Silahkan masuk Sayang."
Gama membukakan pintu kamar dan Karina masuk ke dalam.
Karina takjub melihat hiasan di kamar itu sudah layaknya kamar pengantin yang di hotel - hotel penuh dengan hiasan pengantin baru.
Gama yang ada di belakang Karina tersenyum lalu memeluk istrinya itu dari belakang.
"Sayang suka."
Karina senang dan menganggukkan kepalanya.
"Mas yang siapin ini semua."
"Mana ada waktu Mas nyiapin ini dari kemarin kan sama kamu sayang."
"Cantik banget Mas."
Gama membalikkan badannya Karina hingga mereka saling menatap.
"Masih cantik istri Mas ini."
Gama mencolek hidung Karina.
"Sayang..."
Gama menangkup wajah Karina dengan kedua tangannya.
"Sayang, doa Mas untuk memperistri kamu sudah terkabul. Sekarang Mas punya doa baru."
Karina menatap penasaran.
"Apa Mas."
"Mas ingin kamu menjadi ibu dari anak-anak Mas."
Kata Gama lembut sambil tersenyum dan memandangi wajah Karina yang bersemu merah.
Karina tak mampu menjawabnya.
"Kamu mau kan sayang menjadi ibu dari anak-anak Mas."
Karina dengan mantap tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Gama bahagia sekali dia mendekatkan wajahnya ke arah Karina, semakin dekat hingga nafas mereka terasa namun.....
"Allahu Akbar.... Allahu Akbar...."
__ADS_1
Adzan berkumandang
πππππ