
Gama mengantar Karina dan Raisa pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan Gama yang duduk bersebelahan dengan Karina hanya diam saja, Risa yang duduk di kursi penumpang belakang memperhatikan mereka berdua seperti orang musuhan.
"Sepi amat ini, padahal di luar terlihat ramai." Celetuk Risa dan Gama memperhatikannya dari kaca sambil tersenyum.
"Kamu mau mendengarkan musik.?"
Tanya Gama.
"Boleh Mas, asal nggak ganggu Mas Gama aja yang lagi nyetir."
"Nggak papa mau lagu apa."
Tanya Gam kepada Risa sambil menekan tombol yang ada di depannya.
"Dek, jangan ganggu Mas Gama yang lagi nyetir. Udah Mas nggak usah di ladenin si Risa." Ucap Karina.
"Nggak papa sama sekali tidak mengganggu."
Gama mencari lagu yang pas untuk di putar.
Mereka menikmati lagu itu dan Risa sesekali ikut bernyanyi.
"Dan apabila tak bersamamu
Ku pastikan kujalani dunia tak seindah kemarin
Sederhana tertawamu sudah cukup
Lengkapi sempurnanya hidup bersamamu."
Sepenggal lirik dari lagu yang diputar oleh Gama dan Karina hanya ikut mendengarkan.
"Lagunya dalam banget ya Mas."
Gama tersenyum saja sesekali melirik ke arah Karina yang menatap ke depan.
Akhirnya mobil telah berhenti di halaman rumah Karina, mereka turun dan Gama ikut keluar dari mobil.
"Mampir dulu Mas."
Tawar Karina yang merasa nggak enak dan Gama pun tersenyum walaupun ada rasa yang mengganjal di hatinya.
"Makasih Karin, Mas langsung pulang saja, jangan lupa pintu dikunci ya Kalau tidur jangan terima tamu sembarang orang sudah malam."
"Iya Mas."
Karina mengagumkan kepalanya.
"Risa, Mas langsung pulang ya."
__ADS_1
Risa meraih tangan Gama dan mencium punggung tangannya.
"Makasih Mas, sudah diajak jalan-jalan ditraktir lagi."
Gama tersenyum senang.
"Sama-sama nanti lain kali kalau Mas Gama afa waktu kita jalan-jalan lagi."
"siap."
"Kalian masuk aja dulu ke dalam, baru Mas akan pergi."
"Sekali lagi terima kasih Mas, maaf merepotkan."
"Saya senang Karin, silahkan masuk."
Karina lalu mengajak Risa untuk masuk ke dalam rumah dan setelah Gama melajukan mobilnya meninggalkan rumah itu.
πΉπΉπΉπΉπΉ
Malam makin larut dan Gama juga langsung menuju ke rumah tidak mampir lagi dari sore belum pulang.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Darimana Gama."
"Mama belum tidur."
Mama Dina menggelengkan kepalanya.
"Papa belum pulang Ma."
"Belum, mungkin sebentar lagi tadi sudah bilang perjalanan. Kamu sendiri dari mana jam segini baru pulang nggak ngasih kabar bukannya nggak ada jadwal ya di rumah sakit cuman sampai sore aja tadi."
Gama tersenyum dan duduk berdua dengan Mamanya.
"Kok malah senyum kayaknya lagi bahagia ini, cerita dong."
"Gama bingung Ma."
Gama menyadarkan kepalanya di sofa.
"Kenapa."
Mama Dia mengusap - usap lengan Gama.
"Gadis yang Gama suka nolak Gama Ma. Padahal Gama ingin serius sama dia."
__ADS_1
Mama Dina menatap serius wajah anaknya.
"Alasannya kenapa."
"Dia merasa nggak pantas untuk mendampingi Gama, katanya Gama terlalu sempurna untuk dia nggak sebanding dirinya Ma yang biasa aja."
"Kenapa begitu, apa kamu membandingkan dia dengan keluarga kita."
Gama menegakkan badannya dan menatap Mamanya.
"Gama nggak pernah menyinggung tentang keluarga kita ataupun apa yang kita miliki tapi memang dia yang merasa minder Ma."
"Kamu yakin dia lagi."
Kata Mama Dina dengan tersenyum dan mengusap lengan Gama.
"Mama setuju kalau Gama sama dia."
"Asal kamu bahagia Sayang, Mama percaya kamu bisa mencari sosok calon istri yang baik. Cuma Mama mau kenal dia dulu ajak ke sini ya."
"Ma... Mana mau Dia ketemu Mama kalau kita belum ada hubungan."
"Kamu cerita dong bilang kalau Mama mau ketemu."
"Nanti ya Ma, Gama usahain."
Mamanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
"Terus gimana kamu mau amb beasiswa juga."
"Baiknya Gama ambil nggak Ma."
"Kamu masih muda dan kesempatan ini sangat terbuka nggak ada salahnya dicoba daftar aja kamu mau ikuti seleksinya. Mama yakin kamu bisa."
"Tapi Gama tidak bisa meninggalkan Karina ke luar negeri Ma. Siapa yang jaga dia nanti."
Mamanya tersenyum dan mengusap tangan putra kesayangannya.
"Kamu coba dulu ikuti beasiswa itu dulu siapa tau nanti seiringnya berjalan waktu Karina berubah pikiran dan menerima kamu."
"Tapi Gama tadi memang tidak menganggap itu jawaban Ma. Gama nggak yakin itu dari hatinya."
"Kamu harus fokus dulu ke beasiswa ini, Mama dukung kamu dan Mama doakan gadis yang kamu suka bisa menemani kamu nanti keluar negeri."
Gama tersenyum dan memeluk Mamanya.
"Makasih Ma. Gama akan berusaha mendekati dia lagi dan membuktikan jika Gama serius sama dia."
Mamanya senang dengan semangat Gama.
__ADS_1
πΉπΉπΉπΉπΉπΉ