
Aktivitas Karina sekarang bekerja sambil kuliah, setelah mendapat bantuan dari Anggun akhirnya dia bisa bekerja di minimarket milik Tantenya dan diperbolehkan sambil kuliah dengan mengambil jam kerja di sore hingga malam.
Karina menjalankan semua itu dengan ikhlas selama dirinya masih mampu dan dia beranggapan jika itu memang tugas dia sebagai anak pertama.
Sehabis menemani Bapaknya untuk cuci darah sore hari itu Karina pamit untuk berangkat bekerja.
Bapaknya memperhatikan sepeda motor Karina yang pergi meninggalkan rumah. Kini hanya Bapaknya dan Risa yang menemani di rumah.
"Bapak kenapa."
Risa memperhatikan Bapaknya yang terlihat sedih memandang sepeda motor kakaknya pergi meninggalkan rumah.
"Kasihan Mbak Kamu, Dia harus bekerja sambil kuliah." ucap Bapaknya.
"Bapak nggak usah mikir itu yang penting sekarang Bapak sehat dulu. Mbak Karina ikhlas menjalankan itu semua." jawab Risa.
"Harusnya Bapak yang bekerja dan kalian berdua tinggal sekolah saja."
Nampak wajah bersalah tergambar di raut muka Pak Heri.
"Pak, Mbak Karina melakukan itu semua atas kemauannya sendiri."
"Maafin Bapak ya. Kalian jadi hidup susah begini gara-gara Bapak."
"Pak, jangan bilang begitu kita bahagia kita nggak merasa hidup susah."
"Bapak mau masuk dulu."
Risa memandangi Bapaknya yang berjalan masuk ke dalam rumah. Dia merasakan jika Bapaknya sangat merasa bersalah dengan dirinya serta Kakaknya yang harus bekerja sambil kuliah untuk memenuhi kehidupan mereka sehari-hari.
"Beri kesehatan kepada Bapak ya Allah." Doa Risa melihat Bapaknya masuk ke dalam kamar.
Hari makin malam, setelah melaksanakan sholat Maghrib Karina membuka bekal yang di bawanya dari rumah tadi untuk makan malamnya. Dia sangat beruntung ketemu dengan teman-teman kerjanya yang sangat baik, mereka makan bersama.
"Karin, HP kamu bunyi."
Temannya yang sedang beristirahat bersama Dia mengingatkan ponselnya karena Karina tadi ke kamar mandi.
"Iya Mbak Desi, makasih."
Karina mengambil ponselnya dan di sana terdapat nama Dokter Gama yang memanggil.
"Assalamualaikum Dok."
Jawab Karina.
"Waalaikumsalam, Saya ganggu Mbak Karin." terdengar suara di seberang telepon.
"Maaf ya Dok, ada perlu apa karena saya sedang ada pekerjaan."
Karina jujur saja daripada nanti terlalu lama ngobrol dan jam istirahatnya juga sudah habis.
"Mbak Karin bekerja.? ."
Padahal Gama aslinya sudah tau.
"Iya Dok, maaf apa ada hal penting yang harus disampaikan mengenai bapak."
"Bukan soal Bapak, Mbak Karina kerja dimana." Sebenarnya Dia juga sudah tahu dari cerita Anggun tapi berpura-pura aja.
"Saya di minimarket Jaya Dok, maaf Dok sudah dulu saya harus kerja."
__ADS_1
"Oke, selamat bekerja maaf mengganggu."
"Baik Dok, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Percakapan mereka berakhir dan Karina kembali bekerja.
Sedangkan Dokter Gama yang tadi berada di rumah bergegas mengambil jaketnya lalu keluar meninggalkan rumah.
"Ma, Pa. Gama keluar dulu ya."
Gama menghampiri Papa dan Mamanya yang berada di ruang keluarga sedang bersantai habis makan malam.
"Mau kemana malam begini, baru juga pulang." Protes Mamanya.
Gama memang terus sampai di rumah saat adzan maghrib lalu sholat dan makan malam bersama.
"Bentar aja Ma, ada urusan."
"Sama Lukman, kayaknya beberapa hari ini kamu sering deh ke rumah dia."
"Biarin aja Ma, yang penting dia tahu istirahat dan tahu waktu. Jangan pulang malam-malam besok ke rumah sakit lagi." Kata Papanya yang juga profesi sebagai dokter tapi beda rumah sakit.
"Baik Pa."
"Papa ini, jangan pulang malam loh istirahat manfaatkan waktu." Ingat Mamanya.
"Iya Mama Ku Sayang, pergi dulu ya Ma, Pa. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, hati-hati."
"Siap..."
"Gama nggak bawa mobil Pa."
Mamanya mendengar suara motor milik Gama keluar dari garasi.
"Biarin aja Ma, kita kasih kepercayaan sama dia kalau dia memang sudah berubah." Ucap Papa.
"Mama kadang masih khawatir dengan pergaulan dari Gama Pa."
"Mama tenang aja, Gama paling nongkrong sama Lukman. Papa kadang wa sama Lukman Dia sudah tidak pernah keluyuran lagi."
"Syukur Pa."
"Mama jangan terlalu kepikiran nanti malah drop lagi."
Mamanya sampai sakit memikirkan sikap Gama.
Sepeda motor Gama melaju ke suatu tempat lalu Dia menghentikannya di depan minimarket dimana Karina bekerja.
"Itu Dia. Kasihan harus bekerja sampai malam."
Ucapnya melihat Karina dari kaca minimarket Karina sedang berada di kasir.
Gama memperhatikan Karina dari luar, lalu berniat masuk untuk membeli sesuatu agar bisa menyapa Karina.
"Selamat Datang."
Sapa Karina tapi Dia tidak memperhatikan dengan jelas siapa yang masuk karena sedang menghitung belanjaan pelanggan sedangkan Gama juga mengenakan topi.
__ADS_1
"Terima kasih Mbak, selamat berbelanja kembali."
Karina selalu ramah dengan siapapun pelanggannya supaya mereka kembali lagi belanja di sana.
"Ini Mbak."
Gama berdiri di depan kasir di mana Karina berada di depannya.
"Baik Mas."
Karina menerima botol minuman dari Gama lalu terdiam begitu mereka saling bertatap.
"Dokter."
Gama tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Kok bisa disini ."
"Iya tadi kebetulan lewat terus mampir mau cari minum."
"Ini Dok, jadinya 35 ribu."
Gama mengeluarkan dompet lalu memberikan uang kepada Karina dan Karina mengembalikan kembalinya.
"Makasih Dok, selamat berbelanja kembali."
"Kamu pulang jam berapa." Tanya Gama.
Karina menatap Gama dan mereka saling pandang.
"Jam 09.30 Dok."
"Baiklah."
Gama tersenyum lalu keluar dari minimarket karena tidak enak mengganggu pekerjaan Karina.
"Siapa Karin."
Tanya Desi temannya.
"Dokter yang merawat Bapak Mbak."
Jawab Karina singkat dan Desi menganggukkan kepalanya.
"Dia menatap kamu terus dari masuk tadi." ucap Desi.
"He he he.. Bisa aja Mbak Desi."
Pukul 9 malam tiba dan Karina sudah menutup gerbang depan tapi dia masih di dalam melakukan penghitungan, lalu setengah kemudian Dia bersiap pulang dan tinggal mengambil sepeda motornya.
"Karin dijemput ya."
Ledek temannya Desi.
"Nggak ada Mbak, siapa yang mau jemput."
"Itu, Pak Dokter tadi."
Karina membalik badannya dan sudah ada Gama di atas sepeda motornya sambil tersenyum memandangnya.
ππππ
__ADS_1
Cie.... Cie....