
Tok... Tok...
"Sayang, kamu nggak papa kan.?"
Suara Gama sudah terdengar memanggil Karina.
"Sayang... Buka pintunya."
Gama yang tak sabar terus berteriak dan mengetuk pintu.
"Sa..."
Belum selesai memanggil Karina pintu kamar mandi terbuka dan muncul Karina dari dalam.
"Sayang.. Kamu nggak papa kan."
Gama menangkup wajah Karina dengan kedua tangannya sambil menatap wajah istrinya dengan cemas.
Karina menganggukkan kepalanya, kemudian Gama langsung mengangkat tubuh Karina menggendongnya membawa ke sofa dikamar itu.
"Mas khawatir Sayang, kamu kenapa-kenapa di dalam nggak keluar."
Gama duduk dengan memangku Karina.
"Mas, tau kamu kecewa sama Mas tapi semua itu Mas lakukan demi kebaikan kamu Sayang."
Gama menatap Karina dengan tatapan sayang namun Karina agak takut lihat wajah suaminya itu.
"Sayang..."
Gama meraih dagu Karina supaya menatapnya.
"Maafin Mas."
"Karin tau Mas semua demi kebaikan Karin. Maafin Karin Mas."
Gama sekilas mengecup bibir Karina.
"Mas nggak bermaksud melarang kamu sama Anggun ataupun sama teman kamu tapi nggak sepagi itu juga. Disini suhu udaranya sedang dingin jam segitu pasti suhunya rendah sayang. Kamu harus pemulihan dulu supaya badan kamu sehat kembali, Mas nggak mau kamu kenapa-kenapa sayang."
"Iya Mas."
__ADS_1
"Mas maksudnya baik kok sayang, kalau sudah siang okelah Mas ijin kan."
Karina menganggukkan kepalanya saja.
"Besok ikut mas ke kampus ya."
Lagi-lagi Karina menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
Siang berlalu hari sudah menjelang sore tubuh Karina sudah merasa jauh lebih baik setelah siang tadi juga mengkonsumsi obat.
"Mau kemana Sayang."
Gama melihat Karina ingin membuka pintu kamar setelah dari kamar mandi tadi.
"Mau masak Mas."
Gama yang tadi menghadap laptop kini berdiri dan menghampiri Karina.
"Nggak usah masak sayang, kita bisa beli jadi aja. Kamu harus istirahat."
"Karin udah sehat Mas."
"Begini amat ya jadi istri Dokter."
"Nggak boleh bantah ya, istirahat aja nggak usah masak nanti Mas pesan aja."
"Tapi Mas, kan lebih sehat kalau masak Sendiri."
Gama menggamit tangan Karina dan membawanya ke arah sofa lagi.
"Duduk aja sayang, temani Mas. Ini pesan apa aja yang kamu mau."
Gama memberikan ponselnya membuka sebuah aplikasi penyedia jasa siap antar makanan.
Karina mau nggak mau ya nurut aja, kalau mau bantah pun Dia kalah sama suaminya.
"Mau makan apa sayang."
Gama kembali fokus dengan laptopnya sedangkan Karina melihat beberapa menu makanan yang tersedia di aplikasi itu.
"Mas aneh-aneh makanannya."
__ADS_1
Karina merasa asing dengan beberapa menu disana.
"Coba lihat."
Gama melihat ponselnya dan menjelaskan kepada Karina beberapa menu yang ingin diketahui sama istrinya itu.
"Suka yang mana."
Gama menatap Karina yang nampak menggelengkan kepalanya.
"Karin mau masak."
Gama terlihat menghela nafasnya, istrinya itu masih ngeyel mau buat menu makan malam mereka sendiri.
"Sayang... Biasanya pada suka lho kalau disuruh nggak masak ini istrinya Mas kok seneng banget masak sih."
"Kan lebih sehat kalau masak Sendiri Mas, iya kan.?"
Gama nampak berfikir.
"Betul, tapi keadaannya kamu kan masih perlu istirahat. Jadi Mas minta sama kamu istirahat saja."
"Karin sehat kok Mas, kalau suruh tidur terus malah pegel semua badannya."
Terbiasa gerak dan mengerjakan semua pekerjaan seorang diri sekarang Karina di batasi oleh Gama merasakan dirinya serba terkekang.
Kalau sakit biasanya minum obat terus beraktifitas mencari keringat badannya akan segera membaik.
"Sayang... Mas kan yang periksa kamu."
Karina menghela nafasnya pelan merasakan geraknya sekarang terbatas.
"Iya Mas, maaf. Karin cuma mau gerak aja biar berkeringat bukan maksud Karin mau membantah Mas."
Gama memeluk Karina dan menciumi pipinya.
"Mas tau, namun sekarang keadaannya kamu masih butuh istirahat jadi nurut aja sama Mas."
Karina ada rasa nggak enak juga, ya akhirnya dia nurut aja dengan mengiyakan kemauannya Gama.
"Iya Mas, Karin istirahat aja ini."
__ADS_1
Karina tiduran dengan paha Gama sebagai bantalnya membuat Suaminya itu tersenyum senang mengusap kepalanya.
🤭🤭🤭