
Gama tersenyum memandang layar ponselnya sambil menikmati minuman dingin yang ada di tangannya.
Dia kemudian menekan tombol yang berlogo telepon untuk menghubungi yang punya nomor itu.
"Assalamualaikum Mas."
Gama tersenyum kembali ketika mendengar suara seorang perempuan di balik telepon itu.
"Waalaikumsalam, lagi dimana."
Jawab Gama.
"Sudah ditempat kerja Mas."
Gama memandangi jam tangan yang ada di tangan kirinya sambil mengerucutkan dahinya.
"Kok udah kerja masih jam 2."
"Iya Mas, temen yang sakit jadi Karina diminta untuk datang cepat dan untungnya Karina bisa Mas tadi pulang kuliah gasik."
Gama menganggukkan kepalanya kalau Karina bisa melihatnya.
"Sudah mau kerja ya, Mas ganggu."
"Iya nih Mas, mau serah terima."
Karina di sana sudah merasa tidak enak ditunggu temannya.
"Ya sudah nanti kalau pulang kerja Mas mampir."
"Iya Mas, sudah dulu ya, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, hati-hati kalau kerja."
Karina langsung mematikan panggilan itu dan siap bekerja sedangkan Gama lalu mengambil kunci mobil untuk menuju ke rumah sakit.
Gama sendiri tadi posisi memang baru selesai untuk mengikuti seleksi beasiswa S3 namun dia tidak bilang kepada Karina. Maka itu dia akan kembali ke rumah sakit untuk menjalankan tugasnya sebagai seorang dokter setelah tadi pagi dia tinggal kan.
Di toko
Karina melayani setiap pembeli yang datang dengan ramah.
Setelah pembeli terakhir yang ia layani dia baru teringat sesuatu.
"Kok aku lupa tanya sama Mas Gama tadi soal pesannya yang tadi pagi minta doa."
Karina menepuk jidatnya kok bisa tadi dia lupa padahal sudah telepon.
"Kamu kenapa Karina."
Tanya temannya yang bekerja saat itu dengan dirinya.
"Nggak papa Mbak, Aku lupa sesuatu."
Karina sambil tersenyum untuk menyembunyikan.
Karina mengambil ponselnya lalu mengirimkan pesan kepada Gama. Setelah terkirim dia meletakkan ponselnya kembali ke dalam laci.
Sore menjelang, Karina ingin melaksanakan salat Ashar dan berpamitan dengan temannya untuk bergantian.
"Iya kamu duluan aja Karin."
Karina menganggukkan kepalanya lalu mengambil ponselnya yang ada di dalam laci ingin melaksanakan salat ashar di belakang.
__ADS_1
"Kok cuma senyum balasannya."
Karina melihat pesan balasan dari Gama yang hanya berupa emoticon senyum.
"Aneh Mas Gama."
Selesai melaksanakan sholat Karina kembali melayani para pembeli yang datang.
Di rumah sakit,
Gama masih melanjutkan pekerjaannya setelah sholat ashar tadi untuk mengecek data pasien satu persatu setelah melakukan pengecekan ke bangsal pasien tadi.
"Udah mau maghrib."
Katanya sambil melihat jam yang ada di atas mejanya.
"Aku nemuin Karina aja, rasanya kok kangen ya kalau nggak lihat."
Ucapnya sambil tersenyum sendiri.
Gama keluar dari ruangannya.
"Dokter Gama."
Suara seorang perempuan memanggilnya dan membuat Gama berhenti menoleh ke arah sumber suara.
"Malam Dok, mau pulang.?"
"Iya, Dok. Maaf ya saya buru-buru."
Gama memang sengaja menghindar dari Susan.
"Ada acara ya Dok, gimana kalau kita makan malam dulu." Ajak Susan.
Gama langsung pergi meninggalkan Susan yang menatapnya dengan kesal, Dia juga memilih tidak melewati lift namun lewat tangga supaya Susan tidak mengikutinya.
"Sombong banget, udah rela aku ngajak duluan malah dicuekin. Mau kemana sih Dia." Ucap Susan kesal.
Sesampainya di parkiran Gama menyalakan remote mobilnya dan masuk ke dalam siap melajukan kuda besinya.
Perjalanan lancar hingga adzan Maghrib Gama sampai di depan toko dimana Karina bekerja.
"Kayaknya bukan dia itu."
Gama melihat dari luar perempuan yang berdiri di kasir biasanya Karina tetapi itu temannya.
Dia memutuskan untuk masuk ke dalam dan bertanya ke mana karena.
"Selamat datang, selamat belanja."
Gama tersenyum kalau mendekati ke arah kasir.
"Mas Dokter, cari Karina."
Tanya Desi.
"Iya, dimana Karina."
"Sedang sholat di dalam, tungguin saja."
"Baik, makasih saya tunggu diluar saja."
Gama keluar dari dalam toko dan menunggu karena di depan sambil duduk di kursi.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian Karina selesai sholat dan menemui Desi untuk bergantian.
"Karin ada yang nyari itu."
Desi dengan kode lirikan mata ke arah depan toko.
"Siapa Mbak."
"Biasa."
Ucap Desi sambil menggerakkan kedua alisnya.
"Mbak Desi sholat aja, Karin yang jaga."
"Temui dulu itu, kasihan dari tadi."
"Baik Mbak, sebentar ya mbak Aku ke depan dulu ."
Desi menganggukkan kepalanya dan Karina menuju ke depan menemui Gama.
Pintu toko terbuka membuat Gama menoleh ke arahnya dan sambil tersenyum karena melihat sosok Karina.
"Mas Gama."
"Udah selesai sholatnya."
Karina menganggukkan kepalanya lalu duduk di kursi samping Gama terpisah oleh meja.
"Udah, Mas Gama udah sholat.?"
Gama menggelengkan kepalanya.
"Ini mau ke masjid nunggu kamu dulu."
Katanya sambil tersenyum.
"Mas Gama sholat dulu, Karin mau gantian jaga Mbak Desi mau sholat."
"Oke, kamu makan belum.?"
Gama menggelengkan kepalanya lagi.
"Habis ini kita makan ya."
Ajak Gama.
"Tapi Karin nggak enak sama Mbak Desi."
"Nanti Mas yang bilang."
"Ya udah Mas, sekarang Mas Gama sholat dulu."
"Oke."
Karina masuk ke dalam untuk menggantikan Desi sedangkan Gama ke masjid untuk sholat Maghrib.
Selesai dari masjid Gama kembali ke toko dan ingin mengajak Karina makan tapi Dia melihat dari luar Karina sedang berbincang dengan seorang laki-laki yang sepertinya mereka saling kenal.
"Siapa laki-laki itu."
Gama yang penasaran masuk ke dalam dan menemui mereka berdua.
πππππ
__ADS_1