
Setelah akad nikah acara hari itu hanya berkumpul dengan kedua keluarga, sahabat dan kerabat dekat saja yang hadir menjadi saksi kebahagiaan Karina dan Gama.
Resepsi sendiri akan dilaksanakan esok harinya dan lusa Karina dan Gama akan terbang ke luar negeri untuk melaksanakan beasiswanya.
Hari makin sore keluarga Gama sudah pulang semua dan kini yang tinggal di rumah Karina hanya Gama bersama Budenya Karina yang rumahnya di luar kota.
Karina sudah masuk ke dalam kamar dan Gama masih ngobrol dengan pamannya setelah mandi sore tadi sambil menunggu maghrib.
Karina menatap beberapa seserahan yang berada di dalam kamarnya karena banyak banget hingga memenuhi.
Ceklek...
Pintu kamar Karina terbuka dan nampak Gama yang tersenyum sambil masuk ke dalam.
"Assalamualaikum."
Karina menatapnya sambil tersenyum dan menjawab salam suaminya.
"Waalaikumsalam, Mas."
Gama menghampiri Karina yang nampak terdiam sambil memangku mahar yang diberikan oleh Gama tadi berupa seperangkat alat sholat.
"Sayang, ngapain.?"
Gama duduk di sampingnya lalu mengusap kepala Karina sambil tersenyum dan mencium pucuk kepalanya yang masih tertutup hijab.
Iya Karina belum membuka hijabnya karena masih malu sama Gama tadi aja ganti baju di kamar mandi dan membawa jilbabnya sekalian.
"Mas, kenapa mahar mukenanya merah muda."
Tanya Karina sambil menatap Gama.
Gama tersenyum lalu mencium kening Karina dan memencet hidungnya pelan.
"Karena mukena berwarna merah muda yang awalnya membuat Mas jatuh cinta sama kamu."
Karina tersenyum sampai segitu romantisnya suaminya ini.
"Karina buka ya Mas, Karina mau pakai sholat."
Gama tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Makasih ya Sayang, semoga jadi ladang ibadah sayang. Kalau rusak nanti beli lagi."
"Insyaallah jadi ladang ibadah buat Mas, kan Mas yang kasih ke Karin."
Gama memeluk istrinya itu lalu adzan berkumandang.
"Kita sholat Mas."
Gama melepaskan pelukannya lalu keluar untuk berwudhu dan diikuti oleh Karina.
Gama menuju ke kamar mandi sedangkan Karina melihat ke kamar Risa karena setelah mandi tadi dia nggak keluar kamar.
"Dek.. Kamu ngapain, Maghrib lho. Ayo sholat..."
Karina sambil mengetuk pintu kamar adiknya namun, tak ada jawaban dari dalam.
"Kenapa Karin."
__ADS_1
Tanya Budenya.
"Risa kok nggak ada suaranya bude."
"Coba kamu masuk tidur mungkin."
Karina meraih handle pintu dan ternyata tidak terkunci lalu dia masuk dan mendapati Risa yang tertidur.
"Astaghfirullah... Dek.. Maghrib malah tidur, ayo bangun sholat."
Karina menggoyangkan badan Risa yang mulai menggeliat.
"Hmmm... Apa sih Mbak ngantuk banget ini..."
Risa tidak membuka matanya malah terlelap lagi.
"Bangun dek..."
Karina lebih keras lagi menggoyangkan badan Risa.
"Iya mbak, ini Risa bangun."
"Jangan tidur lagi, buruan wudhu."
"Iya....."
Karina keluar dari kamar Risa dan melihat Gama sudah menunggunya di depan kamar karena tadi sudah bertanya ke Bude dimana Karina Karena di dalam kamar tidak ada.
"Maaf ya Mas, sebentar Karina wudhu dulu."
Gama tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Karina menganggukkan kepalanya lalu cepat berlalu ke kamar mandi untuk berwudhu.
Tak lama Karina masuk ke kamar dan Gama telah siap menjadi imam sholat memakai peci dan berganti kemeja bersarung.
"Maaf ya Mas."
"Iya Nggak papa sayang."
Karina memakai mukena pemberian Gama tadi dan mengenakannya untuk sholat Maghrib berjamaah dengan suaminya.
"Ayo Mas.."
Karina sudah siap namun Gama malah memandanginya sambil senyum sendiri.
"Mas...."
"Kamu cantik banget sayang..."
Karina memerah pipinya dan menunduk saja.
"Ayo Mas, sholat."
Gama terkekeh melihat tingkah Karina setiap dia memujinya cantik.
"Iya Sayang..."
Gama mengumandangkan takbir dan melaksanakan sholat dengan khusyuk.
__ADS_1
Selesai sholat Gama tak lupa berdzikir dan berdoa yang diaminkan oleh Karina lalu dilanjutkan mereka mengaji berdua berlanjut sholat jamaah isya.
Baru setelah sholat isya Karina meraih tangan suaminya dan menciumnya tak lupa Gama memberikan kecupan manis di kening sang istri.
"Sayang..."
Gama meraih dagu Karina dan membuat istrinya itu tersenyum malu.
"Boleh Mas minta sesuatu sayang."
Deg....deg...
Jantung Karina berdebar lebih cepat.
"Apa Mas."
ucapnya pelan dan Gama tersenyum manis.
"Boleh nggak, Mas buka jilbabnya sayang."
Karina menatap Gama dan ada raut wajahnya takut.
"Kalau sayang nggak siap, nggak papa kok sayang dipakai aja." Ucap Gama lagi dan itu membuat Karina merasa tak enak.
"Mas.. Boleh ..."
Ucap Karina menganggukkan kepalanya.
Gama lalu melepaskan mukena Karina dan berlanjut membuka hijab istrinya itu.
"Kamu cantik sayang."
Gama mengecup keningnya begitu melihat Karina tidak berjilbab, rambutnya yang terikat telah dilepaskannya.
Karina masih malu-malu saja sama suaminya.
"Mas, Karin mau siapin makan malam ya." ijin Karina karena dia gugup banget.
Gama tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Sayang..."
Gama meraih tangan Karina sebelum istrinya itu memakai jilbabnya kembali.
Posisi mereka saling berhadapan dan tangan Gama berpindah ke leher Karina.
Cup...
Sekilas bibir Karina di kecupnya hingga membuat istrinya itu terdiam gugup mendapatkan perlakuan seperti itu.
"Sayang..."
Gama mengusap pipi Karina dan mendekapnya.
"I Love you..."
Karina mengeratkan pelukannya dan membuat Gama senang bukan main..
ππππππ
__ADS_1