
"Maaf ya Gun, aku besok diantar sama Mas Gama."
Suara Karina di balik telepon Anggun yang terdengar tidak enak hati
"Nggak papa Karin, udah sana pergi berdua aja biar tapi tambah mesra."
Goda Anggun.
"Tapi aku diminta untuk ikut ke rumah sakit dulu Mas Gama ada kerjaan."
"Ya Nggak papa malah bagus nanti kan teman-temannya Mas Gama jadi tahu kalau kamu calon istrinya."
"Tapi aku takut Gun."
"Tunjukkan pesona mu Karin jangan minder terus."
"Tapi Gun."
"Udah, kamu itu harus jadi wanita yang kuat kalau kamu memang cinta sama Mas Gama tunjukan saja semua orang kalau Mas Gama itu milik kamu."
"Caranya."
"Karin..... Gitu aja minta diajarin. Tampil yang cantik dong dan dampingi Mas Gama dengan pesona kamu."
"Iya, kayaknya salah deh curhat sama kamu."
"Ha ha ha..."
Tawa Anggun di balik telepon Karina yang terdengar sangat nyaring.
Beberapa menit kemudian mereka menyudahi panggilan telepon.
Karina sudah mengantuk dan mulai memejamkan matanya.
Esok harinya...
Gama sudah bersiap dengan hanya memakai kaos berkerah dan celana jeans.
"Pagi Ma, Pa.."
Gama menghampiri kedua orang tuanya yang sudah bersiap sarapan.
"Pagi sayang."
"Udah ganteng banget anak mama mau kemana kan libur hari ini."
Tanya Mama Dina sambil mempersiapkan sarapan.
"Mau nemenin Karin Ma, nyari buku."
Ucap Gama sambil mengambil sayur dihadapannya.
"Kamu sudah janji lho hari ini mau ngajak Karina ke sini."
"Iya Ma, nanti siang ya habis nyari buku sekalian nanti jemput Risa di sekolahan."
"Oke, Mama mau ngajak Karin masak."
Mama Dina semangat sekali.
"Iya Ma, Tika kapan pulang Ma."
"Besok."
Mereka menikmati sarapan pagi itu dengan penuh rasa syukur atas rezeki yang telah diberikan.
Selesai sarapan Gama berpamitan dengan kedua orang tuanya untuk menjemput Karina.
Mobil ia ajukan menuju ke rumah karena untuk menjemput calon istrinya itu.
Lalu lintas pagi belum terlalu padat karena beberapa kantor dihari Sabtu banyak yang libur.
"Alhamdulillah sudah sampai."
Ucap Gama begitu menghentikan mobilnya dengan sempurna di halaman rumah Karina dan nampak Risa yang sudah bersiap untuk berangkat sekolah di depan rumah.
__ADS_1
Turun dari mobilnya Gama disambut dengan senyuman oleh Risa.
"Assalamualaikum."
Ucap Gama.
"Waalaikumsalam, Mas. Duduk Mas, Risa panggilkan Mbak Karin."
Gama tersenyum dan menganggukkan kepalanya lalu duduk di teras sambil menunggu mereka berdua.
"Sudah datang Mas."
Nampak Karina yang nambah cantik dengan mengenakan Tunik dipadukan dengan celana bahan serta jilbab yang senada dengan warna tunik nya.
Gama nampak memandangi sosok Karina yang berada di depannya tanpa berkedip.
"Mas..."
Panggil Karin lagi.
"Eh.. Kamu cantik banget sayang."
Kata Gama dan seketika membuat pipi karina merah merona.
"Ehemmm.. Udah siang nih bisa terlambat Risa nanti."
Karina membuyarkan tatapan mereka berdua.
"Karin ambil tas dulu sebentar Mas."
Gama menganggukkan kepalanya.
"Risa sudah sarapan."
Tanya Gama.
"Udah Mas, Risa tunggu di mobil ya."
"Oke."
"Di kunci dulu pintunya sayang."
"Iya Mas."
Karin mengunci pintu dengan ditunggui oleh Gama.
"Udah Mas."
"Ayo kita berangkat."
Mereka berdua berjalan bersama menuju ke mobil dan Risa sudah ada di dalam.
"Lama banget panas tau."
Celoteh Risa dan Gama terkekeh saja.
Gama melajukan mobilnya meninggalkan rumah menuju ke sekolahan Risa.
"Risa masuk ya Mbak, Mas."
Risa berpamitan kepada kedua Kakaknya setelah mobil Gama berhenti dengan sempurna dan dia keluar dari mobil dan masuk ke dalam gerbang sekolah.
"Sayang, sebelum mencari buku kamu ikut ke rumah sakit sebentar ya ."
Ucap Gama sambil menjalankan mobilnya meninggalkan sekolah Risa.
"Iya Mas, tapi nggak lama kan Mas."
Gama tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Bentar aja kok sayang, masih harus menandatangani sesuatu."
"Iya Mas."
Perjalanan sudah lumayan padat ada beberapa titik kemacetan hingga akhirnya mobil gambar parkir di rumah sakit.
__ADS_1
"Ayo kita turun Sayang, kamu nanti nunggu di ruangan Mas aja ya."
Karina tersenyum dan menganggukkan kepalanya lalu mengikuti Gama keluar dari mobil.
"Masih ingatkan ruangan Mas."
Goda Gama dan mereka berjalan beriringan menuju ke ruangannya dan Karina tersenyum saja.
Dari dalam sebuah mobil, sepasang mata menatap ke arah Mereka semenjak keluar dari mobil Gama.
"Dokter Gama sama cewek itu lagi, siapanya dia."
Susan memoles makeup nya dan lalu keluar dari mobil dan diam-diam mengikuti Gama dan Karina.
"Pagi Dok."
Sapa beberapa suster yang berpapasan dengan mereka dan tentu setelah Gama yang berjalan bersama Karina melewati mereka bisik-bisik mulai berkembang.
"Silahkan masuk Sayang."
Gama membukakan pintu ruangannya dan itu jelas didengar oleh suster.
"Makasih Mas."
Karina merasa tidak asing dengan ruangan itu karena saat Bapaknya dirawat Dia beberapa kali masuk ke sana.
"Duduk Sayang, kenapa bengong."
"Nggak papa Mas."
Ucapnya sambil tersenyum.
"Mas mau nunjukin sesuatu sama kamu."
"Apa Mas."
"Coba kesini Sayang."
Karina mendekat ke arah Gama.
"Kamu lihat ke arah luar jendela sana ya."
Gama membuka tirai yang menutupi kaca itu.
"Itu mushola kan Mas."
Ucap Karina sambil menatap ke arah Gama.
"Iya Sayang, dari sinilah Mas pertama kali melihat kamu saat sholat Dhuha waktu itu dan mengenakan mukena berwarna merah muda."
Terang Gama sambil tersenyum menatap Karina yang menatap ke arah kaca yang bisa melihat aktivitas orang yang sedang beribadah di mushola.
"Apa Mas tau waktu itu tau, kalau yang sholat itu Karin."
Gama meraih tangan Karina dan membuatnya menatap ke arahnya.
"Tentu Sayang, Mas tau itu kamu."
Ceklek...
Tiba - tiba itu ruangan Gama terbuka dan membuat Mereka berdua menatap ke arah pintu siapa yang membuka tanpa mengetuknya.
"Dokter Susan anda lancang sekali membuka ruangan saya tanpa mengetuk pintu." Ucap Gama dengan menatapnya tajam dan masih menggenggam tangan Karina.
"Oops... Biasanya kan begitu Dok, Saya nggak pernah permisi dan Anda mempersilahkan saya masuk begitu saja."
Ucap Susan dan jelas membuat Karina berpikiran yang enggak benar.
"Jaga ucapan Anda Dokter Susan!!!"
Bentak Gama.
πππππ
Tahan dulu ya..
__ADS_1
Author hauusss.. ππ€£π€£π€£