
"Sayang.."
Gama menggenggam tangan Karina yang duduk disampingnya namun hanya menatap ke arah luar jendela mobil.
Kini mereka sedang berada di dalam taksi menuju ke rumah setelah makan siang dan berbelanja tadi.
Karina tersenyum ke arah Gama yang membawanya ke pelukannya.
"Sayang mau beli apa lagi."
Karina menggelengkan kepalanya.
"Pulang aja Mas."
Gama mengusap kepala Karina dengan lembut.
"Sepertinya Karina marah sama aku."
Dalam hati Gama.
"Nanti aku jelasin dirumah saja."
Karina terdiam didalam pelukan suaminya hingga taksi yang membawa mereka berhenti di depan rumah.
"Thanks Mr."
Ucap Gama setelah turun dan mendapatkan senyuman dari sopir itu.
"Biar Mas yang bawa sayang."
Gama mengambil kantong berisi belanjaan dari tangan Karina. Mereka berjalan bersama menuju ke pintu.
"Sayang, tolong buka pintunya."
Karina tersenyum dan mengambil kunci dari tangan Gama karena dia repot membawa belanjaan.
"Kita masuk sayang, istirahat."
Karina menutup kembali pintu dan Gama masuk ke dalam meletakkan belanjaan di dapur.
"Sudah dikunci sayang."
Karina tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Sudah Mas."
Karina menuju ke dapur ingin membereskan belanjaan supaya nanti tinggal istirahat saja. Gama yang melihat Karina membuka kantong berisi belanjaan mendekati dan memeluknya dari belakang.
"Sayang, kita istirahat dulu aja nanti Mas bantuin beresin."
"Karin mau beresin sekarang Mas, nanti tinggal istirahat nggak kepikiran. Mas membersihkan diri dulu nanti Karin nyusul."
"Sayang.."
Gama memutar tubuh Karina menghadap ke arahnya.
"Kita istirahat ya, itu nanti."
Gama bicara sedikit menekan membuat Karina terdiam menurut saja digandeng Gama ke kamar.
Karina meletakkan tas yang ia bawa sedangkan Gama duduk di sofa dan meletakkan ranselnya.
"Sayang, sini."
Gama menepuk sofa sebelahnya.
Karina menurut duduk di samping suaminya itu.
__ADS_1
Gama memeluk pinggang Karina dan membuat Mereka berdua tak berjarak.
"Sayang marah ya sama Mas."
Gama dengan lembut membelai kepala Karina yang masih tertutup hijab dan Karina hanya menggelengkan kepalanya.
Raut wajah Karina berubah semenjak di restoran tadi dan itu sudah diamati oleh Gama namun dia menahannya sampai rumah.
~Flashback on~
"Siapa istri Dokter Rifki.?"
Tanya Gama kepada Rifki.
"Oh.. Namanya Donita."
Gama mendengar nama Donita langsung menatap ke arah Rifki.
"Apa Donita itu.."
Dalam hatinya.
Karina yang menangkap raut muka Gama yang menunjukkan ekspresi kaget menjadikannya berfikir yang aneh.
"Donita..."
"Iya Dokter Gama, ini foto anak dan istri saya." Rifki menunjukkan wallpaper hp nya.
Gama mengamatinya dan Karina yang ada disampingnya otomatis ikut melihat.
"Perempuan itu, yang kemarin kan."
Dalam hati Karina.
"Dia mantan Mas Gama." tambahnya.
"Anda mengenalnya kan Dok.?"
Tanya Rifki dari pertanyaannya sepertinya Rifki tak tau jika mereka berdua pernah ada hubungan.
"Oh.. Iya saya mengenalnya kita pernah satu kelas."
Gama berusaha biasa saja dan malah dirinya yang memikirkan Karina karena istrinya itu tau siapa perempuan itu.
~Flashback Off~
Nah.. Semenjak itu Karina terdiam saja kalau tidak di ajak bicara tidak akan berbicara duluan.
Gama sebenarnya sudah merasakan tapi alangkah baiknya di bicarakan di rumah saja.
"Karin nggak marah Mas."
Karina malah memeluk tubuh Gama dan menyandarkan kepalanya di dadanya.
Gama meraih dagu Karina dan mengangkat wajahnya supaya menatap dirinya.
"Sayang.."
Air mata Karina sudah menggenang tinggal menunggu meluncur saja.
"Mas minta maaf."
Gama mengecup kening Karina dan malah membuatnya menangis.
"Hiks...hiks....."
"Mas tau apa yang kamu rasakan sayang, Mas kan udah bilang tidak ada hubungan lagi dengan perempuan itu dan waktu bertemu saat ujian kemarin itupun yang terakhir. Mas udah nggak lagi ada komunikasi semenjak putus dulu."
__ADS_1
"hiks... Hiks..."
Hanya tangisan Karina yang pecah.
"Maafin Mas, karena masa lalu Mas kamu jadi merasakan begini. Maaf Sayang."
Gama memeluk erat Karina dan menciumi pucuk kepalanya.
"Mas..."
Karina memandangi wajah Gama dengan air mata berlinang, Gama pun mengusapnya.
"Iya Sayang, jangan nangis ya."
"Karina percaya Mas nggak ada hubungan lagi dengan mantan Mas tapi yang mengganggu pikiran Karina.. Hiks...hik..."
Suara Karina terjeda karena menangis.
"Apa sayang."
Gama menatap Karina penasaran.
"Berapa perempuan lagi yang harus Karina temui dan itu terkait dengan masa lalu Mas. Hiks...hiks... Karin capek Mas.."
Gama nanar menatap Karina, ternyata istrinya itu menahan rasa sakit karena mengetahui beberapa wanita yang pernah dekat dengan dirinya.
Gama terdiam dia hanya memeluk Karina dengan erat dan menciumi pucuk kepalanya, dia merasa bersalah dengan istrinya karena masa lalunya membuat Karina menahan perasaan yang tak mengenakkan pastinya.
"Hiks...hiks.. Karin capek Mas..."
"Maaf.. Sayang..."
Suara Gama lirih, sungguh dia merasa bersalah.
"Karena perbuatan Mas di masa lalu membuat kamu tidak nyaman dengan Mas."
"Mas lebih suka juga kan dengan istri yang seprofesi dengan Mas Gama nggak kayak Karina."
Karina yang masih dipeluk Gama berucap yang membuat Gama tercengang.
Gama meregangkan tubuhnya dan menatap wajah Karina.
"Siapa yang bilang sayang."
"Mas, kelihatan suka sekali saat Dokter Rifki tadi bercerita. Mas malu kan punya istri kayak Karina."
"Sayang... Mas nggak pernah berpikiran seperti itu."
"Tapi Mas....hiks...lebih...hiks...mmmmmmppph.."
Belum selesai Karina berucap bibirnya sudah dibungkam oleh Gama dengan ciuman lembut.
Karina diam saja, pasrah dengan apa yang dilakukan suaminya namun air matanya masih terus lolos dari pipinya.
"Sayang..."
Ucap Gama setelah melepaskan ciumannya.
"Mas lebih suka istri yang dirumah menunggu Mas pulang kerja, Mas nggak pernah berpikiran mencari istri yang seprofesi atau wanita yang lebih mementingkan profesinya daripada keluarga."
Gama berucap serius sambil mengusap air mata Karina.
"Mas nggak pernah malu punya istri kamu sayang, Mas bangga setiap hari bersama Kamu dimana pun ada Mas ada kamu sayang..."
Karina sesenggukan menatap Gama yang berbicara tulus dari hati.
"Maafin Mas Sayang.."
__ADS_1
πππππΉπΉ