Mukena Merah Muda

Mukena Merah Muda
MMM #46


__ADS_3

"Jaga ucapan Anda Dokter Susan!!!"


Bentak Gama dan wajah sudah menahan marah kalau untuk laki-laki sudah diajaknya berkelahi.


"Nggak usah sok alim Dokter Gama, bukannya kita pernah pergi berdua dan kita hanya berduaan di dalam mobil anda."


Susan malah semakin menjadi, niatnya dia ingin memanasi Karina dan akhirnya marah sama Gama lalu pergi meninggalkannya.


Gama menggenggam tangan Karina dengan erat.


"Itu semua juga ka..."


Ucap Gama terhenti ketika Karina mengusap tangannya.


"Mas.. Udah gak usah di ladenin. Karina percaya sama Mas Gama."


Ucapnya sambil tersenyum memandang Gama.


Susan tambah panas, rencananya ingin membuat Karina marah gagal total.


"Makasih Sayang, Mas Sayang sama kamu dan semuanya yang diucapkan sama Dokter Susan nggak ada yang bener sayang Mas udah pernah jelasin Kan.?"


Karina tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Silahkan anda pergi dari ruangan saya sebelum saya panggil security."


"Ada apa ini, jangan bikin keributan di rumah sakit."


Manager rumah sakit pas lewat dan mendengar suara keras di ruangan Dokter.


"Maaf Pak, atas kegaduhan yang terjadi." Gama mendekat dan bersalaman dengan Dokter Ridwan.


Susan sendiri hanya diam ingin marah lagi tapi dia masih berpikir nanti akan dapat masalah.


"Dokter Susan sedang apa di ruangan dokter Gama dan itu siapa Dok."


"Ini calon istri saya Dok, maaf hanya kesalahpahaman saja dengan dokter Susan." Terang Gama.


"Jangan bikin keributan disini, sekarang ke ruangan meeting ada berkas yang harus ditandatangani."


"Baik Dok."


Dokter Ridwan pun langsung pergi dan


Dokter Susan melenggang pergi juga dengan menatap Karina tajam.


"Sayang, tunggu disini sebentar ya Mas nggak akan lama."


Ucap Gama kepada Karina.


"Karin takut Mas."


"Sebentar Mas panggilkan suster ya untuk nemenin kamu di sini."


"Iya Mas."


Gama memanggil suster yang tak jauh dari ruangannya.


Tak lama Gama datang bersama seorang suster.


"Sayang, ini suster Rini yang akan nemenin kamu sebentar Mas harus meeting."


Karina tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Iya Mas."


"Suster tolong temenin istri saya disini ya dan pastikan tiada gangguan."


Suster Rini sudah paham karena tadi juga melihat keributan dengan dokter Susan.


"Siap Dok."


Suster Rini ini termasuk senior jadi paham karakter setiap dokter yang ada di rumah sakit itu apalagi dia sering ikut Gama untuk ke bangsal memeriksa pasiennya.

__ADS_1


"Makasih Sus, sayang Mas tinggal dulu ya."


Karina tersenyum melihat Gama pergi meninggalkan ruangannya.


Karina berdua di dalam ruangan Gama ditemani oleh suster Rini.


"Suster ini silahkan di minum."


Karina memberikan minuman yang tadi ia bawa bersama Gama.


"Makasih ya Mbak.."


Suster Rini merasa tidak asing dengan sosok Karina tapi lupa namanya.


"Karina Sus."


"Oh iya Saya ingat Mbak karina ini kan yang dulu keluarga pasien di sini ya."


"Iya Sus."


Ucap Karina sambil tersenyum.


"Selamat ya Mbak Karina jadi calon istrinya Dokter Gama. Dokter Gama itu baik banget kalau sama pasien sama suster disini juga tidak suka membentak nggak kayak tadi itu Dokter Susan."


Karina tersenyum saja.


"Saya senang dokter Gama Sama Mbak Karina karena saya tahu Dokter Susan itu sudah lama suka sama dokter Gama."


Karina menjadi pendengar yang baik.


"Dia selalu cari cara bagaimana bisa mendekati Dokter Gama. Tetapi ternyata dokter Gama sudah punya calon."


Karina lagi-lagi hanya menanggapi cerita dari suster ini dengan tersenyum.


"Mbak Karina masih kuliah ya."


"Iya Sus."


Mereka cerita berbagi hal namun di sini memang lebih banyak suster Rini yang bercerita karina hanya menjadi pendengar yang baik.


"Sudah selesai Dok."


Tanya Suster Rini.


"Sudah makasih ya Sus, sudah menemani Karina."


"Sama-sama Dok, kalau begitu saya permisi masih ada pekerjaan."


"Baik, sekali lagi terima kasih banyak Suster Rini."


"Iya Dok, lain kali kita bercerita lagi ya."


"Iya Sus, makasih ya."


Suster Rini pergi meninggalkan ruangan dokter Gama.


"Sayang, ngobrol apa aja sama suster Rini."


"Banyak hal Mas."


Kata Karina sambil tersenyum.


"Mas jadi curiga ngobrolin Mas ya tadi waktu nggak ada."


Gama menelisik wajah Karina yang hanya tersenyum.


"Mas suka berburuk sangka deh. Udah selesai kan Mas."


"Udah Sayang, yuk kita pergi."


Gama berdiri mengeluarkan tangannya ke arah Karina untuk diraih.


"Ayo Mas."

__ADS_1


Karina malah melenggang berjalan duluan menuju ke pintu mengabaikan tangan Gama.


Gama langsung marahin tangan Karina yang akan membuka pintu.


"Pegangan gini Sayang biar nggak hilang." Katanya sambil tersenyum.


"Mau hilang kemana."


"Biar aman."


Begitu saja ucap Gama sambil berjalan menggenggam tangan karina.


Beberapa Suster yang melihat mereka keluar dari ruangan dan berpegangan tangan nampak tersenyum-senyum sendiri sambil berbisik-bisik di belakang.


Susan yang juga keluar dari ruangan melihat sosok gembel sudah berlalu bersama Karina.


"Aku belum menyerah ya."


Dalam hatinya dan menatap tidak suka ke arah mereka berdua.


"Silahkan Masuk Sayang."


Gama membukakan pintu mobil untuk Karina.


"Makasih Mas."


"You are welcome, baby..."


Ucapnya mesra selalu menutup pintu tidak berputar ke arah pintu satunya.


Mobil mulai berjalan meninggalkan rumah sakit menuju ke sebuah mall untuk mengantar Karina mencari buku.


"Sayang..."


"Hmmm.. Iya Mas."


Karina menoleh ke samping.


"Makasih ya."


"Untuk..."


"Untuk kepercayaan kamu sama Mas, Mas cuma takut kamu terpengaruh dengan ucapan Susan tadi."


Karina tersenyum saja.


"Mas ingin kita saling jujur sayang, cerita apa aja dan tidak ada yang ditutupi di antara kita."


"Mas yakin nggak ada yang ditutupin dari Karin.?"


Gama mengerutkan dahinya memandang Karina.


"Nggak ada Sayang."


"Yakin...?"


"Yakin sayang, emang apa yang Mas tutupin dari kamu."


"Nggak tau.."


Karina sengaja mau mancing Gama untuk bercerita karena dia sudah tau dari Suster Rini.


"Nggak ada Sayang, Mas udah cerita semua sama kamu."


"Yakin.. coba Mas diingat-ingat mungkin belum pernah cerita sama Karina."


"Nggak ada Sayang."


"Katanya harus jujur,.."


Karina masih mancing terus.


"Sayang...."

__ADS_1


"Pokoknya harus cerita


πŸ€£πŸ€£πŸ€£πŸ™Œ


__ADS_2