
Esok harinya Gama terbangun saat mendengar adzan subuh, dia segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berangkat berjamaah ke masjid.
Dia keluar dari kamarnya dengan membawa sajadah ditangan kanannya.
"Cakep bener apa Papa."
Ledek Papanya yang juga akan ke masjid.
"Kan anak Papa."
"Ha ha ha.. Ayo berangkat."
Mereka berdua berangkat ke masjid, Mama Dina memandangi kedua laki-laki yang sangat ia sayangi dengan tersenyum senang.
Selesai berjamaah Gama dan Papanya langsung pulang ke rumah. Mereka menuju ke kamar masing-masing untuk berganti baju dan melanjutkan aktivitas lainnya.
"Gama."
Panggil Papanya saat ia akan keluar rumah untuk Joging.
"Ya Pa. Ada apa."
"Tunggu Papa."
Gama tersenyum dan menunggu Papanya yang masih mengenakan sepatu.
"Biasanya Papa milih olahraga di rumah."
Mereka berdua berlari kecil untuk pemanasan.
"Mau menghirup udara segar juga."
Mereka berkeliling komplek untuk mencari keringat sekaligus menikmati udara segar di pagi hari yang masih bersih dan sehat.
"Kemarin Papa denger ada beasiswa S3 ke luar negeri, kalau mungkin kamu minat mau melanjutkan."
Gama menghentikan larinya.
"Serius Pa.?"
Papanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Iya, mumpung masih muda ambil aja, Papa yakin kamu bisa mendapatkannya."
"Kapan Pa.?"
"Kayaknya pendaftaran sudah dibuka tapi untuk kuliah Papa belum paham kapan mulainya."
"Nanti Gama pikirkan lagi Pa."
Mereka melanjutkan dengan berjalan santai sampai ke rumah.
"Kalau saran Papa dicoba nggak ada salahnya."
"Iya Pa."
Sesampainya di rumah Mama Dina sudah menyiapkan sarapan untuk mereka, Gama dan Papanya menuju ke kamar masing-masing untuk membersihkan diri dan siap berangkat bekerja.
"Tumben Gama sama Papa kompakan."
Mama Dina melihat kemeja mereka memiliki warna yang hampir sama.
"Couple Ma."
Ledek Tika.
"Ganteng kan Ma."
Mereka berdua kompak bergaya.
"Iya, kalian berdua ganteng. Sekarang sarapan ayo.."
Mereka menikmati sarapan yang telah disajikan oleh Mama Dina. Setelah itu Gama berpamitan untuk berangkat ke rumah sakit.
"Gama berangkat dulu ya Pa, Ma."
Gama meraih tangan kedua orang tuanya lalu mencium punggung tangannya.
"Hati-hati Sayang." Pesan Mama Dina.
"Iya Ma, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Lalu setelah itu baru Papa dan juga Tika ikut pergi meninggalkan rumah menuju ke tempat masing-masing.
Sesampainya di rumah sakit Gama memarkirkan mobilnya di tempat khusus parkir untuk Dokter.
Ia turun dan berjalan menuju ruangannya.
__ADS_1
"Dokter Gama."
Suara seorang perempuan mendekatinya dengan berjalan cepat.
Gama berhenti menengok ke belakang terlihat Susan yang buru-buru untuk mendekatinya.
"Pagi Dok." Sapa Susan.
"Pagi Dokter Susan."
Gama lalu berjalan kembali dan diikuti oleh Susan.
"Hari ini sepertinya rapat penting ya Dok." Susan berbasa-basi padahal sudah memahaminya rapat apa yang akan dilaksanakan.
"Iya."
Jawab singkat Dokter Gama.
"Siang ini ada acara Dok."
Mereka berdua masuk ke lift.
"Belum tau."
Gama berdiri saja dengan tenang.
"Bagaimana kalau setelah rapat ini kita makan siang bersama." Ajak Susan.
Ting... Pintu lift terbuka.
Gama masih diam saja tidak menanggapi ajakan dari Susan.
"Bagaimana Dokter Gama.?"
Susan masih mengikutinya.
"Maaf Dok, saya banyak kerjaan siang ini ada beberapa pasien yang belum saya kunjungi. Saya permisi masuk."
Gama membuka pintu ruangannya dan masuk ke dalam.
Susan masih berdiri di depan dengan tatapan tak suka.
"Sombong amat, udah di bela-belain ngajak duluan." Gerutu Susan.
Lukman yang baru saja keluar dari pintu lift melihat Susan berdiri di depan pintu ruang Gama hanya menahan tawanya. Lalu setelah Susan pergi dari sana Lukman mendekati pintu ruangan Gama.
"Masuk."
Lukman membuka pintu ruangan Gama dan terkekeh sendiri.
"Ngapain kamu."
Gama ketus.
"Ha ha ha... Pagi-pagi udah diikuti cewek cantik aja. Yang semalam kurang cantik apa.?" Ledek Lukman.
"Sial banget pagi-pagi udah diikuti sama Susan. Ya jelas lebih cantik yang semalam lah."
"Ha ha ha.. Tapi yang semalam sepertinya belum takluk juga ya."
Lukman menggerak-gerakan kedua alisnya.
"Masih harus berusaha."
Ekspresi Gama sedikit kecewa karena belum mendapatkan jawaban dari Karina.
"Sabar, kamu tau kan gimana Karina."
Gama nampak menganggukkan kepalanya.
"Memang gadis unik, di saat perempuan yang lain mengejar-ngejar ku ini aku yang kejar malah dia mau balik kanan , aduh... Memang harus sabar untuk menaklukkan dia."
"Untuk mendapatkan sesuatu yang lebih itu memang butuh usaha yang lebih Bro, kalau kamu dengan mudah mendapatkannya Ya seperti yang sudah kamu lakukan cuma ala kadarnya." Ledek Lukman.
"Iya.. Paham aku nggak usah diungkit terus."
"Ha ha ha..."
Tawa Lukman puas ceramah pada Gama.
"Tadi papa kasih info ke aku katanya ada beasiswa S3 ke luar negeri. Kamu mau ikut.?" Tawar Gama.
"S3.. Aduh, nggak kuat kepala ku, spesialis baru selesai." Lukman sudah menunjukkan mode menyerah dulu.
"Kamu mau ikut.?"
Tanya Lukman balik.
"Pingin sih, tapi pasti butuh beberapa tahun nanti di sana paling nggak 2 - 3 tahun di sana. Kapan aku nikahnya."
__ADS_1
"Ha ha ha... Mikir nikah Mulu, yang diajak nikah aja belum mau."
"Iya nggak usah ledek lagi."
"Aku punya ide bagus nih."
Tiba-tiba otak Lukman cerdas.
"Apaan."
"Nikah dulu dong, terus aja si Karin ke luar negeri tinggal di sana sama kamu. Bahagiakan kamu kalau berdua dengan dia bisa lebih fokus juga kuliah kamu."
"Bener juga kamu, tumben cerdas."
"Lukman gitu, ha ha ha.."
"Tapi Karin aja belum ngasih jawaban ke aku."
"Pepet Bro, jangan dilepas ha ha ha.."
Obrolan mereka di pagi itu di ruangan Gama akhirnya harus berhenti karena waktu sudah menunjukkan untuk mulai rapat.
πΉπΉπΉπΉ
Karina sendiri jika sudah sampai di kampusnya setelah mengantarkan Risa ke sekolahan.
"Cie... Semalam ngapain sama Mas Gama dibawah pohon."
Ledek Anggun yang baru saja datang dan masuk ke ruangannya duduk di tempatnya.
"Ngobrol biasa."
"Tapi kelihatannya serius banget."
Karina tersenyum saja.
"Dia nembak ya."
Anggun mendekatkan wajahnya kehadapan Karina hingga membuat dia kaget.
"Apaan sih Gun."
"Karin, kamu gak mau cerita sama aku."
Anggun duduk di depannya Karina dengan menatapnya melas.
Karina nampak menghela nafasnya.
"Mas Gama bilang, mau menjalankan amanat Bapak."
"Terus."
Anggun semakin penasaran saja.
"Dia bilang mau jagain aku sama Risa, terus.."
Ceritanya Karina berhenti membuat Anggun penasaran.
"Terus apa Karin."
"Dia bilang katanya suka sama aku dan mengajak berumah tangga."
"Wow..."
Anggun sontak berteriak sambil berdiri membuat semua temannya yang ada di ruangan itu memperhatikan dia.
"Anggun, malu aku."
"He he he... terus kamu jawab apa."
Anggun duduk kembali mendengarkan cerita Karina.
Karina menggelengkan kepalanya.
"Maksudnya.?"
"Aku belum bisa jawab Gun."
"Kenapa Karin, kamu gak suka sama Mas Gama.?"
"Aku nggak tahu, rasanya masih ragu dengan perasaan ku sendiri dan aku juga belum yakin apa Mas Gama serius bilang begitu."
Anggun hanya menghela nafasnya.
"Ya di tunggu saja, bagaimana usaha Mas Gama selanjutnya."
Karina menganggukkan kepalanya
ππππ
__ADS_1