
Ekspresi Rita nampak kaget melihat layar yang ditampilkan dari USG itu yang menunjukkan keadaan di dalam rahim Karina.
"Kenapa Rita."
Gama yang sama-sama Dokter jadi merasa curiga dengan ekspresi wajah Rita.
"Coba perhatikan Gama."
Rita memperbesar tampilan layar USG yang ada di depannya supaya Gama bisa lebih jelas melihat.
"Itu... Kantong bayi kah.?"
Ucap Gama ragu saat melihat seperti ada titik di dalam rahim Karina.
Rita tersenyum dan menganggukkan kepalanya, Karina sendiri belum paham hanya ikut memandang layar USG.
Terbitlah senyum di bibir Gama dan langsung mencium kening istrinya.
"Makasih sayang."
"Maksudnya apa mas, Karin nggak ngerti."
Gama menangkup wajah Karina dengan kedua tangannya.
"Sayang, kamu hamil."
Karina melongo di dalam pikirannya sama sekali seperti tak percaya Gama berkata seperti itu.
"Ha...mil.. Mas."
"Iya sayang, ada calon anak kita di sini."
Gama menunjuk perut Karina yang sedang di USG.
"Yang bener Mas."
Karina masih bingung dengan kejutan ini kok bisa dia hamil tapi tak merasakan apa-apa.
"Iya Mbak Karin, titik hitam yang terlihat di dalam rahim Anda ini adalah kantong janin." Terang Dokter Rita.
Karina ikut mengamati layar USG yang ada di sampingnya, tak terasa air matanya meleleh begitu saja.
"Itu calon anak kita Mas."
"Iya Sayang."
Gama mencium kening Karina dia memang sudah tak malu di depan temannya sendiri saking bahagianya.
"Karin, nggak merasakan apa-apa kalau hamil."
"Kapan terakhir Anda mendapatkan menstruasi." Tanya Rita.
"Hmm.. Sekitar 3 mingguan ini sih dok."
__ADS_1
Rita lalu tersenyum dan menatap ke arah Gama.
"Pastinya suami kamu ini sudah minta jatah kan.?"
Gama tersenyum saja tak malu, emang iya dia selalu minta jatah sama Karina.
"Tapi kok bisa saya tidak merasakan apa-apa Dok."
"Ini diperkirakan usia kandungan baru seusia 3 minggu, jadi mungkin memang Mbak Karina belum merasakan apa-apa karena hormon di dalam tubuh juga baru perlahan mengalami perubahan."
Karina tersenyum dan menganggukkan kepalanya, dia sangat senang sekali secepat itu Allah memberikan kepercayaan kepada mereka.
"Gama, Kamu harus jaga istri kamu dan calon anak kamu."
"Pastinya dong.."
Gama sambil tersenyum manis ke arah Karina dan mengusap kepalanya yang tertutup hijab.
"Jadi selamat ya, sebentar lagi kalian akan menjadi orang tua. Karena ini usia kandungannya masih sangat muda jadi saya pesan dijaga dengan hati-hati dan benar-benar dijaga."
"Mbak Karina tidak boleh terlalu capek dan juga pikirannya harus selalu dikontrol tidak boleh stress karena nanti akan berpengaruh kepada tumbuh kembangnya janin yang ada di dalam rahim anda."
"Baik Dok."
Karina menganggukkan kepalanya tanda dia paham.
"Kalau usia segitu, misal melakukan penerbangan bagaimana Rita."
Gama memang harus bertanya tentang itu karena tinggal sebentar lagi Dia harus kembali untuk melanjutkan beasiswanya.
"Istri kamu ikut ke England?"
Gama menganggukkan kepalanya.
"Kapan kalian kembali."
"3 hari lagi." jawab Gama.
"Lebih baik dibicarakan dengan keluarga dulu bagaimana baiknya, kalian kan juga sudah menunggunya sekitar 6 bulan ini dan akhirnya sekarang diberi kepercayaan jadi alangkah baiknya benar-benar dijaga."
"Apa sangat beresiko jika harus naik pesawat."
"Bukan karena naik pesawatnya sih tetapi kan lama perjalanannya dan pastinya kan Mbak Karina bisa capek duduk terus di dalam pesawat."
Karina meraih tangan Gama dan menggenggamnya.
Gama mengusap tangan Karina dan tersenyum.
"Kalau memang harus terbang apa yang harus kita persiapkan."
"Nanti sebelum terbang ke sini lagi ya, kita USG." Pesan dokter Rita.
"Baik Dok."
__ADS_1
Kemudian Dokter Rita menuliskan resep beberapa vitamin untuk dikonsumsi oleh Karina.
Gama menggandeng tangan Karina meninggalkan ruangan Dokter Rita, tak hentinya senyum menghiasi bibirnya.
Rasanya sudah tidak sabar untuk memberitahu kabar gembira ini kepada kedua orang tuanya.
Karina masuk ke dalam mobil setelah dibukakan pintu oleh Gama.
"Sayang, istirahat saja Mas nyetir santai aja."
Sambil memasangkan sabuk pengaman di badan Karina lalu mengusap perutnya dan menciumnya.
"Iya Mas."
Karina senang suaminya begitu perhatian dan sayang kepada calon anaknya.
"Mas.."
Gama fokus menyetir lalu sekilas menoleh dan tersenyum ke arah Karina.
"Iya sayang, kenapa mau sesuatu."
Karina tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Nggak mas, Karin cuma mau bilang kalau Karin tetap mau ikut Mas Gama."
Ucapnya sambil memandangi Gama.
"Iya Sayang."
Gama tersenyum dan mengusap perut Karina.
"Benar ya Mas, Karin mau ikut dan ingin menjalani kehamilan ini ditemani Mas Gama."
"Mas juga senang sayang kalau kamu ikut, Mas juga tenang bisa selalu memantau kondisi kamu dan anak kita. Tapi, kita nanti periksa lagi ya."
"Iya Mas."
Karina merasakan akan lebih nyaman menjalani kehamilannya ini selalu di dekat suaminya.
Dia sangat bersyukur sekali diberi kejutan sama Allah yang luar biasa di saat dirinya ingin berikhtiar untuk mendapatkan keturunan seketika itu pula Allah memberikan anugerah itu.
"Mas, Rasanya semua itu indah, memang Allah adalah perencanaan yang paling baik di dunia ini untuk kita."
"Alhamdulillah, Sayang."
Gama tak hentinya mengusap perut Karina dengan satu tangannya.
ππππ
BAHAGIA READERSS..
Jangan lupa bunganya
__ADS_1
πΉπΉπΉπΉπΉ