
Karina sedang menjalani ujian semester 6 dan sebentar lagi masuk ke semester 7 itu tandanya tinggal sekitar 1 tahun lagi ia menyelesaikan pendidikannya.
Sekarang hidupnya serasa berwarna ada sosok Gama yang selalu memberinya semangat untuk terus mewujudkan cita-citanya.
Walaupun kadang hanya lewat komunikasi ponsel tanpa bersua karena kesibukan masing-masing namun, itu tak mengurangi kepercayaan Mereke berdua.
Seperti pagi ini, Gama yang sedang berada diluar kota untuk mengikuti seminar selalu memberi kabar kepada Karina.
"Semangat ya Sayang, untuk ujian hari ini." Nampak wajah Gama yang tersenyum di balik ponselnya Karina.
"Iya Mas makasih semangatnya."
Karina membalas pula senyuman dari Gama.
"Sayang jangan senyum gitu sama cowok lain ya, bisa kepedean nanti."
Posesifnya muncul lagi Di Gama.
"Sama Dosen laki-laki juga boleh Mas." Sengaja Karina bilang begitu.
"Kalau yang tua boleh, yang muda jangan." Gama berlagak agak nggak suka.
"Nanti kalau nilai Karin jelek gimana, nggak pernah nyapa dosennya."
Karina cemberut.
"Menyapa saja jangan sambil senyum."
Gama masih saja ngeyel.
"Iya. Iya deh.. Karina pakai cadar aja kali ya biar nggak kelihatan kalau lagi senyum."
"ha ha ha... "
Gama malah tertawa melihat Karina manyun.
"Mas Gama sih nyebelin, udah siang Karin mau sarapan dulu Mas."
"Mas nggak di ajak sarapan."
Goda Gama.
"Mas sarapan di hotel sana sama yang cantik."
Karina memandang Gama seperti ada dendam karena Gama memang pergi ke seminar sama Susan tapi ada Dokter lain juga dan mereka tidak satu mobil. Gama sudah mengantisipasi nggak mau terjadi salah paham lagi dengan Karina.
"Yang cantik kan di rumah."
Gama tidak terpancing malah tersenyum menggoda Karina.
"Yang disana kan lebih cantik."
__ADS_1
"Lebih cantik yang di rumah."
Gama merayu Karina.
Lalu terdengar Risa yang memanggil Karina untuk mengajaknya sarapan.
"Mas udah dulu ya, Risa udah manggil untuk sarapan nanti kesiangan lagi. "
"Iya sayang Ku, hati-hati kalau berangkat ya."
"Iya Mas, Assalamualaikum. Jangan lupa Sarapan."
"Iya Sayang, Waalaikumsalam."
Mereka mengakhiri percakapan lewat video call di pagi hari itu dan melanjutkan aktivitas masing - masing.
Setelah sarapan Karina berangkat bersama Risa, seperti biasa akan mengantarnya terlebih dahulu ke sekolahan.
Setelah menempuh perjalanan yang masih lumayan lancar karena masih pagi Karina sudah sampai di parkiran kampus.
"Karin..."
Panggil Anggun yang baru saja datang dia berangkat bersama Lukman kakaknya.
"Sama siapa."
"Kak Lukman, Mas Gama katanya di luar kota."
"Iya, 3 hari baru berangkat kemarin."
"Kangen dong kamu."
Goda Anggun.
Karina tersenyum saja.
"Udah video call tadi pagi."
"Cie.. semangat dong mengerjakan ujiannya hari ini."
"Pastinya ..."
Ucap Karina dengan tersenyum senang.
"Mas Gama sama Dokter centil itu lagi."
Karina menganggukkan kepalanya, mau bagaimana lagi memang mereka satu departemen spesialis penyakit dalam.
"Harus diawasi itu Dokter Karin, kayaknya ada gelagat tidak mengenakkan sama Mas Gama."
"Aku percaya sama Mas Gama bisa profesional hanya sebatas rekan kerja."
__ADS_1
"Iya memang rekan kerja tapi kamu juga harus waspada. Aku lihat Dokter itu memang kecentilan sama Mas Gama."
"Memang sih tapi Mas Gama selalu bilang dia akan profesional sebatas rekan kerja."
"Aku doakan semua lancar sampai hari H Karin.."
Anggun memeluk sahabatnya itu dia ikut merasakan kegembiraan yang dirasakan oleh Karina.
"Kamu berhak bahagia Karin."
"Makasih Anggun doanya."
Mereka masuk ke dalam ruangan untuk mengikuti ujian semesteran.
Hingga siang hari selepas ujian Karina langsung pulang dan tak lupa menghampiri adiknya di sekolahan.
πΉπΉπΉπΉπΉ
Gama sendiri di sana serius mengikuti seminar untuk menambah pengetahuannya dan juga menambah informasi demi kemajuannya sendiri selain itu juga bisa memberi feedback yang baik untuk rumah sakit.
"Dokter Gama."
Panggil Susan.
"Iya Dok, kenapa."
Ucap Gama dingin, Dia yang duduk bersebelahan dengan Susan itupun juga tadi karena Susan yang mendekatinya.
"Siang ini kan free, gimana kalau kita makan siang di luar."
Gama tak meresponnya masih sibuk dengan laptopnya.
"Kita juga bisa eksplor juga daerah sini, mumpung disini Dok."
"Maaf Dok, saya ingin istirahat saja."
Tolak Gama sambil membereskan laptopnya.
"Sebentar saja Dok."
Susan ingin meraih tangan Gama namun dia bisa mengelak.
"Jaga sikap anda Dok."
Dokter Gama pergi dan mengacuhkan Susan yang menatapnya pasti dia juga malu Gama tadi berkata begitu di depan orang banyak.
"Awas kamu."
Dalam hati Susan sambil menahan marahnya.
ππππππ
__ADS_1