Mukena Merah Muda

Mukena Merah Muda
MMM #52


__ADS_3

"Assalamualaikum."


Ucap Risa yang datang bersama Gama.


"Waalaikumsalam."


Jawab Anggun yang sedang membantu Karina untuk minum.


Karina baru saja sadar dan membuka matanya, baru Anggun mau memberi kabar sama Gama tadi ternyata sudah datang.


"Sejak kapan Karin bangun."


Gama langsung mengambil stetoskopnya dan memeriksa Karina.


"Barusan kok Mas, Anggun baru mau kirim pesan sama Mas Gama tapi udah datang."


"Tiduran dulu ya Sayang."


Karina menganggukkan kepalanya dan Gama mulai memeriksanya menggunakan stetoskop miliknya.


"Perut kamu masih bermasalah, istirahat saja dulu. Nanti makan malamnya akan diantar oleh suster."


Karina menggerakkan kepalanya.


"Makasih Mas."


Ucap Karina lirih dan Gam tersenyum.


"Mbak Karin nggak papa kan Mas."


Risa duduk di kursi samping tempat tidur Karina.


"Nggak papa, hanya butuh istirahat lebih saja."


"Kamu kenapa ikut kemari Dek."


"Risa mau jagain Mbak Karina di sini, emang nggak mau ya Risa jagain di sini maunya sama Mas Gama."


Risa pura-pura cemberut.


"Bukan begitu."


"Risa kayaknya kita memang ganggu deh kalau di sini." Tambah Anggun.


"Iya kali Mbak Anggun."


"Kita cari yang seger yuk, dari tadi belum keluar dari sini." Ajak Anggun.


"Kalian mau kemana."


Karina menatap Anggun yang ingin meninggalkannya berdua dengan Gama.


"Mau cari es teh, yuk Risa Mbak traktir."


"Siap.."


Risa berdiri dari tempat duduknya lalu menggamit lengan Anggun dan mereka keluar dari ruangan.


Begitu mereka berdua keluar Gama mengambil kursi yang tadi dibuat duduk Risa dan duduk menghadap ke Karina.


"Masih pusing."


Tanya Gama dengan menatap Karina.


Karina menganggukkan kepalanya.


"Mual.?"


"Masih Mas "


Lemas suaranya Karina.


Gama menghela nafasnya, rasanya ingin berceramah sama Karina tapi dia tidak tega melihat keadaan Karina yang lemas seperti itu.


"Kamu harus istirahat."


"Maafin Karina Mas."

__ADS_1


"Kamu nggak punya salah sama Mas tapi kamu itu salah sama diri kamu sendiri membuat dirimu sakit seperti ini." Gama berusaha untuk lembut berbicara.


"Karin nyesel Mas."


"Ini buat pelajaran, kamu itu punya sakit lambung jadi harus benar-benar bisa mengatur waktu istirahat mengatur pola makan kamu dan juga tingkat stress. Itu semua bisa memicu penyakit itu untuk timbul bisa mudah kambuh kalau kamu sulit untuk ingatkan."


"Iya Mas."


"Karin..."


Gama memegang tangan Karina yang tidak dipasang infus.


"Mas boleh minta sesuatu."


"Apa Mas."


Karina menatapnya serius.


"Kamu keluar kerja ya, biar kamu punya waktu istirahat karena saat ini kuliah Kamu itu memang butuh konsentrasi."


Karina menatap Gama begitu sebaliknya.


"Nanti Sekolah Risa gimana Mas, kan lumayan bisa buat tambah ongkos."


"Mas yang akan menanggung kalian berdua." Gama berucap serius.


"Karina nggak mau jadi beban Mas Gama, Karina merasa tidak enak sama Mama dan Papa merepotkan Mas Gama."


Gama menggelengkan kepalanya.


"Kamu sama sekali tidak merepotkan Mas, kamu calon istri Mas dan Mas sanggup untuk menanggung semua biaya kamu." Gama mulai kepancing lagi emosinya.


"Mas, Karin baru calon istri Mas belum ada kewajiban Mas Gama untuk menanggung beban hidup karina apalagi dengan Risa."


"Mas ikhlas Karin..."


Gama menggenggam tangan Karina lalu menciumnya membuatnya kaget.


"Mas.."


" Maaf Sayang Mas nggak tau gimana membujuk kamu, sekarang maunya Kamu gimana Sayang, Mas khawatir sama kamu."


Gama meraih tangan Karina lagi.


Karin diam saja lemas badannya dan mual.


"Kalau kamu merasa merepotkan Mas karena masih calon istri, sekarang kita menikah."


Ucapan Gama bagaikan petir di siang bolong Karina menatap dan menggelengkan kepalanya.


"Maksudnya Mas Gama gimana."


"Ya kita menikah supaya kamu sah menjadi istri Mas dan kamu menjadi tanggung jawab Mas sepenuhnya."


"Itu bukan solusi Mas."


"Terus gimana Karin..."


Gama berucap penuh penekanan menahan jengkel.


"Karin nggak tau Mas.. Hiks..."


Karina air matanya keluar begitu saja.


Gama berdiri dan menatap Karina tajam.


"Mas harus gima...na.. Karin..."


"Gama... Kamu ngapain."


Pas pintu terbuka Mama Dina datang bersama Tika.


"Hiks..hiks..."


Karina mengusap air matanya dan Mama Dina mendekatinya.


"Kamu apakan Karina, sudah tahu dia sakit malah kamu marahin."

__ADS_1


"Bukan Ma..."


Gama membela diri.


"sudah.. Sudah.. kamu keluar dulu sana, dinginkan dulu pikiran kamu. Sukanya pakai emosi."


Mama Dina memeluk Karina yang menangis.


"Ma..."


"Keluar Gama..."


Gama dengan langkah gontai keluar dari ruangan Karina.


Mama Dina tadi ditelepon oleh Gama saat menjemput Risa memberitahu jika Karina di rumah sakit dan minta tolong untuk membawakannya baju ganti karena dia tidak akan pulang menunggu karina di rumah sakit.


"Kamu nggak papa Karin."


"Nggak papa Ma."


"Gama memang begitu kadang suka meledak emosinya tapi dia sayang sama kamu."


"Yang salah Karin Ma bukan Mas Gama."


"Sudah nggak dipikirin nanti dia kesini sendiri kalau sudah dingin pikirannya."


Karina di dalam bersama Mama Dina dan Tika tak lama Anggun dan Risa datang juga membawa jajanan. Gama sendiri duduk termenung di ruangannya mendinginkan pikirannya yang kalut.


Sore makin larut dan sebentar lagi waktu Maghrib.


"Permisi, makan malamnya Bu."


Seorang petugas rumah sakit masuk mengantar jatah makan Karina.


"Makasih Sus."


Karina terdiam sendiri memikirkan Gama dan setiap ucapannya tadi.


"Karin, makan dulu Mama suapin ya."


Kata Mama Dina.


"Karina makan sendiri Ma, makasih Ma."


"Ya sudah kamu duduk yang enak dan makan nggak usah dipikirin terus Si Gama."


Anggun saling pandang dengan Tika yang berbicara Pelan bercerita tentang kejadian tadi.


"Makasih Ma."


Hingga Maghrib tiba mereka melaksanakan sholat di ruangan saja dengan Mama Dina sebagai imamnya.


Setelah makan Mama Dina tadi membawa makanan dan disantap oleh anak-anak.


Ceklek...


Pintu ruangan terbuka dan nampak Gama yang sudah berganti baju.


"Gama sini makan dulu."


Panggil Mama Dina.


"Gama nanti saja Ma, Gama mau periksa Karin dulu."


Gama membawa stetoskopnya dan mendekati Karina yang diam menunduk saja.


Dia duduk di kursi dan memandangi Karina.


"Maaf Sayang."


Karina menatap Gama dan tersenyum.


"Karin yang minta maaf Mas."


"Cieee... Ehem... Jadi obat nyamuk lagi kitah...." Kelakar Anggun.


πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

__ADS_1


__ADS_2