
"Ayo Sayang kita berangkat ke kampus."
Selesai sarapan mereka bersiap untuk berangkat ke kampus Gama guna registrasi ulang.
"Iya Mas, ayo Karin udah siap."
Karina sudah terlihat rapi dan cantik, Gama mendekatinya dan menangkup wajah istrinya itu dengan kedua tangannya.
"Kamu cantik banget sayang, nanti jangan lepaskan tangan Mas ya."
Karina mengerutkan keningnya heran dengan sikap suaminya.
"Kenapa Mas."
"Mas nggak mau banyak cowok yang tertarik sama kamu."
Karina tersenyum saja, kok bisa suaminya berfikir seperti itu.
"Mas ada-ada saja."
"Iya dong, Mas harus waspada."
Gama menggendong tas ranselnya dan menggamit tangan Karina.
"Kita naik taksi ya sayang."
Karina tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Gama menutup pintu dan lalu menguncinya.
Tak lama ada taksi dan mereka segera ke kampus.
Sesampainya di sana Gama turun dan menggenggam tangan Karina membawanya masuk ke area kampus yang baru pertama kali ini mereka kunjungi.
"Mas, bagus banget ya."
Gama tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Mas tanya mahasiswa itu dulu ya sayang ruang administrasi."
"Iya Mas."
Gama mendekati segerombol mahasiswa yang sedang bersantai di taman kampus.
"Excuse me, where is the administration room.?"
Gama sudah fasih berbahasa Inggris.
"Turn right, the room is on the left."
"Thank you."
"Your welcome."
Gama melangkahkan kakinya menuju ke arah yang ditunjukkan oleh mahasiswa tadi sambil terus menggandeng Karina.
__ADS_1
"Mas, bahasa Inggrisnya mantep banget."
Karina memang sejak tadi mengagumi suaminya yang berbicara dengan bahasa inggris.
"Kamu juga bisa sayang."
"Karin, nggak terlalu bisa Mas. Nggak bisa ngomongnya, pasif aja."
"Nanti belajar sama Mas."
Gama menggenggam erat tangan Karina sambil tersenyum.
Sesampainya di depan ruangan administrasi Gama berhenti dan meminta Karina untuk menunggunya di kursi tunggu yang ada di depan.
"Sayang, tunggu disini dulu nggak papa kan.?"
"Iya Mas, nggak papa."
Karina tersenyum dan menganggukkan kepalanya dan memilih duduk yang nyaman.
"Mas masuk ya."
Gama mengusap kepala Karina sambil tersenyum.
"Iya Mas."
Gama masuk ke dalam dan sebelum menutup pintu dia tersenyum kembali ke arah Karina.
Karina yang menunggu di depan melihat sekitar dan hilir mudik orang yang lewat.
"Mas Gama beruntung banget ya."
Karina melihat beberapa mahasiswa yang melintas di depannya dengan gayanya yang nyentrik dan kekinian.
"Aku kok merasa minder ya."
Karina merasa dirinya nggak ada apa-apanya dibanding mereka semua.
Tak lama pintu terbuka dan Gama keluar dari ruangan itu.
"Lama ya Sayang."
Gama mengambil duduk di samping Karina dan Karina menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Sudah selesai Mas."
"Udah sayang, tadi sudah registrasi dan mengumpulkan beberapa syarat lusa sudah masuk kuliah hari pertama sayang."
"Alhamdulillah ya Mas."
Gama tersenyum sambil merapikan tasnya.
"Yuk sayang kita jalan - jalan."
"Kemana Mas."
__ADS_1
"Kita cari kebutuhan rumah dan kamu boleh belanja juga."
Gama berdiri dan mengulurkan tangannya.
"Mas paham sini."
Karina menerima uluran tangan Gama dan mereka berjalan sambil bergandengan tangan.
"Kita pakai aplikasi dong sayang, udah Mas siapkan semua Kamu tenang aja."
Karina tersenyum dan menganggukkan kepalanya mengikuti saja kemana suaminya membawa.
Tak lama mereka telah tiba di pusat perbelanjaan, Gama mengajak Karina ke sana memang untuk mencari kebutuhan rumah.
Mereka berjalan masuk ke lorong satu menuju lorong lainnya untuk menemukan apa yang mereka butuhkan dan setelah dirasa cukup Gama mengajak Karina untuk ke kasir.
Gama mengulurkan sebuah kartu ke arah kasir untuk membayar semua belanjaan mereka.
"Kita makan siang dulu ya sayang."
Karina menganggukkan kepalanya dan mengikuti kemana Gama berjalan sambil mendorong troli belanjaan mereka.
Di dalam Mall itu ada restoran Indonesia, Gama mengajak Karina ke sana karena dia tau istrinya itu tidak terbiasa makan masakan luar negeri.
"Ini yang punya orang Indonesia Mas."
"Sepertinya begitu sayang."
Mereka menikmati pesanan makan siang yang telah tersaji, Karina merasakan rindu kepada keluarganya di Indonesia.
"Sayang kenapa."
Gama menatap Karina yang terlihat makannya kurang berselera.
"Nggak enak ya."
Karina menggelengkan kepalanya.
"Bukan Mas, Karina jadi kangen rumah."
Gama meraih tangan Karina dan mengusapnya.
"Mas juga kangen sayang tapi, ini yang memang harus kita jalani saat ini."
Karina menganggukkan kepalanya.
"Iya Mas."
Karina yang merasakan rindu akan masakan almarhum ibunya mengirimkan doa di dalam hatinya tak lupa juga doa untuk Bapaknya.
"Permisi..."
Suara seorang laki-laki mendekat ke arah Gama dan Karina membuat mereka berdua kaget dan menatapnya karena menyapa mereka dengan bahasa Indonesia...
"Siapa...?"
__ADS_1
🤭🤭🤭🤭