
"Princess Papa lagi apa."
Gama nampak di seberang telepon Karina yang sedang bersandar di tempat tidur sambil mengusap perut besarnya.
"Princess sepertinya tau Mas, kalau Papanya sedang tidak di rumah."
Ucap Karina sambil tersenyum ke arah Gama.
"Sayang, sabar ya. Doakan Mas cepat selesai."
"Iya Mas, Mas jaga diri disana ya."
"Pasti Sayang. Kamu juga ingat pesan Mas ya kalau ada apa-apa langsung hubungi Mas."
Karina tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Gama sudah kembali ke luar negeri untuk meneruskan beasiswanya, tadi pagi dia berangkat ke bandara hanya diantar Papanya yang sekalian berangkat ke tempat kerjanya.
Dia tak mau membuat keluarganya repot mengantarkannya ke bandara padahal sebenarnya bukan itu yang menjadi alasannya.
Gama tak ingin melihat wajah sedih istrinya, dia tak mampu memandang wajah Karina yang sendu mengantarkan kepergiannya. Dirinya juga tak mau memperlihatkan rasa rindunya yang sudah membuncah padahal baru akan berangkat.
Ditambah lagi kondisi Karina yang hamil tua hanya tinggal menunggu waktu untuk melahirkan, rasanya dia ingin disampingnya menemani hari-hari istrinya menjelang melahirkan buah cinta mereka yang pertama.
Gama dan Karina mencoba untuk tegar dan saling percaya karena itulah pondasi dalam menjalani hubungan jarak jauh.
__ADS_1
Walaupun sekarang teknologi sudah canggih namun saling percaya dan saling terbuka ini adalah landasan utama, jarak sekarang bukan lagi halangan karena setiap saat bisa saling melihat dengan adanya teknologi namun rasa percaya menjadikan semuanya terasa ringan dalam menjalaninya.
Karina selalu berfikir yang positif suaminya di sana sedang menuntut ilmu untuk menyelesaikan beasiswa S3 nya, terlepas dari masa lalu Gama yang pernah dekat dengan banyak wanita saat ini karina percaya jika hanya dirinya yang ada di dalam hatinya.
Suaminya begitu mencintainya apalagi dirinya sedang mengandung buah cinta mereka, jika bukan karena keadaan Gama akan selalu membawa karina ke mana pun dia pergi.
Waktu Indonesia sudah menjelang siang sedangkan disana Gama masih dini hari, mereka menyudahi perbincangan Karina meminta Gama untuk beristirahat karena siang dia harus ke kampus.
Karina melanjutkan aktivitasnya, dia ingin ke dapur mau membuat salad buah sepertinya dia memang suka itu selama Hamil.
Semenjak awal hamil dia sudah suka membuat salad buah sendiri kadang Gama juga ikut merasakannya karena buatan Karina enak kayak yang dijual.
"Karin..."
Mama Dina yang baru keluar dari kamar melihat Karina sedang sibuk di dapur.
"Kamu buat apa, minta tolong sama bibi saja."
Mama Dina ikut ke dapur penasaran dengan apa yang Karina buat.
"Cuma buat salad buah Ma, nggak papa kok Ma Karin bisa buat sendiri. Bibi istirahat dulu Ma."
"Sepertinya enak Karin, seger."
"Iya Ma, ini tinggal buat sausnya."
__ADS_1
Karina sedang mengaduk yogurt, mayones dan mencampurnya dengan susu kental manis.
"Gama sudah telepon kamu Karin."
Karina tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Sudah Ma, baru saja. Sekarang Mas Gama sedang istirahat Ma."
"Alhamdulillah, kalau Gama sudah sampai dengan selamat."
"Iya Ma, mari Ma silakan dinikmati."
Karina menatanya di mangkok dan memberikan kepada Mama Dina dan langsung dicobanya.
"Hm... Enak Karin, Kamu ngidam salad ya."
"Jadi suka aja Ma sejak hamil. Biasanya Mas Gama juga ikut makan kalau pas siang hari cuaca lagi panas Ma di sana."
Karina rasanya sudah rindu padahal juga baru berapa jam mereka tidak bertemu. Gama biasanya selalu usil mengganggunya saat membuat salad buah.
"Sabar ya Karin, doakan suami kamu."
Mama Dina memeluk menantunya dan mengusap perut besarnya.
"Cucu Oma, doakan Papa kamu Sayang."
__ADS_1
πππππ