Mukena Merah Muda

Mukena Merah Muda
MMM #8


__ADS_3

"Terima kasih Dok, maaf tidak bisa menawarkan untuk mampir karena sudah malam. Saya nggak enak menerima tamu laki-laki di malam hari."


Dokter Gama tersenyum memahami.


"Nggak papa, Saya sudah boleh mengantarkan kamu sampai rumah saja sudah senang." Kata Gama.


~Flashback On~


Gama tadi menunggu Karina sampai selesai kerja, lalu pas waktunya pulang sudah tiba dia kembali ke depan minimarket tempat Karina bekerja.


"Dokter Gama kok masih disini."


Gama tersenyum.


"Sudah mau pulang.?"


Karina menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


"Boleh Saya antar."


Karina menatap Gama lalu Dia menunjuk ke sepeda motor matic miliknya.


"Saya bawa motor Dok, makasih."


"Nggak papa, Saya ikuti Kamu dari belakang."


"Saya sudah biasa sendiri kok Dok."


"Udah Karin, iya in aja." Kata Desi temannya .


"Buat temen di jalan." lanjut Desi.


"Saya khawatir kamu pulang sendirian." Kata - kata Gama membuat Karina terdiam dan Desi malah senyum - senyum sendiri.


"Udah iya aja." Desi menyenggol lengan Karina.


"Aku duluan ya Karin."


Desi menyalakan mesin motornya lalu pergi.


"Silahkan Mbak Karin saya ikuti dari belakang."


Karina menganggukkan kepalanya lalu menuju ke sepeda motornya dan menyalakan mesinnya.


"Apa maksud Dokter Gama tadi, khawatir."


Dalam hati Karina sambil menjalankan sepeda motornya dan sesekali melihat ke spion menengok Gama yang di belakangnya.


Gama mengikuti Karina dari belakang hingga ke rumahnya untuk memastikan aman sampai rumah.


~Flashback Off~


"Terima kasih sekali lagi Dok."


"Sama - sama, silakan masuk Saya akan pergi setelah kamu masuk ke dalam rumah."


"Baik Dok, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Karina membuka kunci rumah lalu memasukkan sepeda motornya ke dalam baru setelah itu Dokter Gama meninggalkan rumah itu.


"Bapak, belum tidur."


Bapak Heri ternyata menunggu Putrinya yang baru pulang kerja.


"Nunggu kamu, pulang sama siapa.?. Seperti ada suara orang tadi."


Bapak Heri tadi mendengar ada orang bicara di depan setelah di intip dari korden ternyata Karina dan seorang laki-laki yang ia kenal.


"Diantar teman Pak."

__ADS_1


"Laki - laki.?"


Karina menganggukkan kepalanya.


"Teman kerja kamu.?"


Pak Heri berpura-pura nggak tau padahal sudah lihat kalau itu Dokter Gama.


"Bukan Pak."


"Siapa.?"


Karina ketakutan karena sebelumnya belum pernah diantar seorang laki-laki pulang ke rumah apalagi ini malam hari.


"Dokter Gama Pak."


Bapak Heri menatapnya.


"Dokter Gama yang periksa Bapak itu.?"


Karina menganggukkan kepalanya.


"Ketemu dimana.?"


"Tadi Dokter Gama belanja di toko setelah itu menawarkan untuk mengantarkan Karin pulang."


"Kamu jangan mudah percaya sama orang yang baru kamu kenal."


Nasihat Bapaknya.


"Iya Pak, tadi Karina juga sudah menolaknya tapi Dia maksa Pak."


"Ya udah istirahat kamu, sudah malam."


"Iya Pak."


Karina masuk ke dalam kamar dan segera mengganti baju, Dia langsung mau tidur karena capek dan besok ada kuliah pagi.


🌹🌹🌹🌹


"Gama, darimana.?"


Tanya Mamanya yang ada di dapur.


"Mama, dari cari angin aja Ma."


"Mama belum tidur."


"Haus, kamu nyari angin kemana sampai malam tadi katanya sebentar."


"Ke luar aja deket Ma, ke minimarket situ."


Kata Gama dan Mamanya memperhatikan wajah Gama yang terlihat bahagia.


"Kayaknya lagi bahagia." Sindir Mamanya.


"He he he... Gama masuk ya Ma, mau istirahat. Mama juga tidur lagi."


"Nggak mau cerita sama Mama."


"Besok lagi aja Ma, udah malam. Istirahat Ma."


Gama meraih tangan Mamanya lalu berjalan ke kamar meninggalkan Mamanya di dapur.


Setelah masuk ke dalam kamar, dia membersihkan diri ke dalam kamar mandi dan segera ingin tidur.


"Dia sudah tidur belum ya."


Gama membaringkan tubuhnya di atas kasur miliknya membayangkan wajah Karina.


Di raih ponsel yang ada di atas nakas lalu mengirimkan pesan kepada Karina.

__ADS_1


Lama tak ada jawaban Gama pun tertidur karena dia beranggapan Karina juga sudah terlelap.


Adzan subuh berkumandang, Gama segera menuju ke kamar mandi lalu bersiap ke masjid.


Senyumnya terpancar ketika melihat ada pesan yang sudah masuk di hpnya setelah pulang dari masjid.


"Maaf sudah tidur semalam Dok jadi baru sempat membalas pesannya, terima kasih ."


Gama mengetik balasan.


"Sama - sama, keselamatan kamu yang utama. Hari ini aktivitasnya apa.?"


Lama tidak ada jawaban Gama meletakkan ponselnya lalu berolahraga ringan untuk mencari keringat.


🌹🌹🌹🌹🌹


Karina sendiri setelah mempersiapkan sarapan, Dia bersiap untuk berangkat kuliah.


"Mbak."


Risa masuk ke dalam kamar Karina yang sedang bersiap.


"Kenapa Ris."


"Kemarin pas mbak Karin berangkat kerja Bapak melihatnya sedih gitu."


Karina menatap Risa heran.


"Kenapa Bapak."


"Bapak merasa bersalah karena Bapak sakit jadi Mbak Karin harus kerja sambil kuliah."


"Kamu nggak bilang Mbak ikhlas gitu."


"Udah Mbak, tapi Bapak masih kelihatan sedih. Risa takut Mbak kalau Bapak drop lagi."


"Kamu jangan bilang gitu Dik. Yuk kita sarapan Bapak sudah nunggu."


Mereka bertiga sarapan bersama dengan menu sederhana yang sudah disiapkan oleh Karina.


"Karin."


Panggil Bapaknya setelah selesai makan.


"Iya Pak."


"Maafin Bapak ya, gara-gara Bapak sakit kamu harus bekerja."


"Pak, Karin nggak papa. Karin bisa membagi waktu antara kuliah dengan bekerja."


Karina menatap Bapaknya yang sekarang terlihat tambah kurus, keriputnya semakin kelihatan.


"Bapak cuma jadi beban buat kamu saja."


"Pak, Karin tidak merasa jika Bapak itu jadi beban buat Karina."


"Maafin Bapak ya ."


Karina, Risa dan Bapaknya berpelukan saling menguatkan satu sama lain.


"Pak, besok kita ke rumah sakit ."


Karina mengingatkan Bapaknya untuk jadwal cuci darah lagi.


"Iya, kalian hati - hati ya."


"Iya Pak, Assalamualaikum."


Karina berangkat bersama Risa meninggalkan Bapaknya sendiri di rumah.


πŸ™‚πŸ™‚πŸ™‚πŸ™‚

__ADS_1


Lanjut lagii ????


__ADS_2