Mukena Merah Muda

Mukena Merah Muda
MMM #25


__ADS_3

Mereka sudah sampai di restoran itu setelah tadi sholat Maghrib terlebih dahulu dan kini tentunya Risa yang paling semangat dengan membuat beberapa pesan sesuai dengan selera dia.


"Kamu nggak pesan Mie, Karin."


Tanya Gama.


"Mbak Karin mana suka mie."


Celetuk Risa dan Karina hanya tersenyum, dia hanya memesan nasi goreng yang ada di restoran itu.


"Kenapa tadi nggak minta aja jangan ke tempat yang menunya semua mie." Gama menatap Karina.


"Nggak papa Mas, di sini juga masih ada menu nasi kok. Lagian Risa suka dengan restoran yang seperti ini."


Gama pun hanya tersenyum dengan sikap Karina yang lebih baik mengalah dan mengutamakan kesukaan adiknya.


Lalu datanglah pesanan mereka dan mereka menikmatinya bersama sesuai selera masing - masing.


"Mbak, aku ke kamar dulu ya."


Ucap Risa setelah menghabiskan makanannya.


"Kamu kenapa?, sakit perut. Mbak kan udah sering bilang kalau pesan mie itu jangan terlalu pedas."


Karina nampak mengkhawatirkan Risa yang sudah berulang kali selalu sakit perut setelah makan mie karena terlalu kepedesan.


"Bukan Mbak, aku kebelet aja."


"Jangan lama - lama."


"Oke, Bos."


Risa meninggalkan mereka berdua dan memberi kode ke Gama untuk mendekati Karina karena mereka hanya berdua.


"Karin."


Panggil Gama.


"Iya Mas."


Karin menengadahkan kepalanya.


"Soal pembicaraan kita waktu itu, maaf kalau Mas mau menanyakan soal itu lagi."


Karina sudah paham ke mana arah pembicaraan mereka. Tapi Karina mau diam dulu biar Gama yang bicara


"Mas beneran serius sama kamu, dan masih menunggu jawaban dari kamu Karin."


"Maafin Karin ya Mas sebelumnya, Karin masih menggantung jawaban untuk Mas Gama ."

__ADS_1


"Mas akan tunggu Karin, sampai kamu siap memberi jawaban."


"Karin merasa nggak pantas untuk Mas Gama. Masih banyak perempuan lain yang lebih pantas untuk mendampingi Mas Gama."


Gama menatap Karin dengan serius.


"Menurut kamu perempuan yang seperti apa yang pantas mendampingi saya Karin."


"Yang setara dengan Mas Gama, yang pantas mendampingi Mas Gama untuk berumah tangga. Mas Gama Dokter berprestasi, pinter dan sempurna di mata perempuan. Tapi apalah Karin ini Mas, Karin nggak pantas mendampingi Mas Gama. Karin nggak sepadan dengan Mas Gama."


Karin mengungkapkan semua isi hatinya sama persis dengan yang dia curhat kepada Anggun soal kegundahan hatinya.


~Flashback On~


Karin bercerita kepada Anggun jika Gama sudah menembaknya tapi ada rasa ragu.


"Aku merasa nggak pantas Gun."


"Kenapa kamu merasa begitu."


"Dunia kita beda Gun, Aku minder rasanya."


Karina menceritakan itu tapi Anggun selalu memintanya berfikir positif.


"Kamu pikir positif aja, Mas Gama Nerima kamu apa adanya."


Anggun sudah memberi saran untuk jangan berfikir seperti itu karena Gama tidak pernah memandang orang yang dia suka dari sisi harta dan kepintaran.


"Karin, Mas nggak pernah memandang kamu dari sisi itu. Mas tidak ingin mencari pasangan yang seperti kamu bilang. Mas tulus sayang sama kamu tanpa melihat apa yang kamu punya. Karin apa kamu tidak bisa merasakan ketulusan cinta ku."


Karin hanya menundukkan kepalanya.


"Karin juga sayang Mas, tapi Karin sadar diri." Dalam hati Karina.


"Karin, Mas sayang kamu apa adanya. Mas ingin menghabiskan sisa umur dan menua bersama denganmu. Kasih kesempatan Karin sama Mas untuk membuktikannya sama kamu."


Karin mengangkat kepalanya.


"Apa Karin pantas mendampingi Mas Gama."


"Sangat pantas dan cuma kamu yang Mas mau."


Mereka saling menatap dan Risa datang mengganggunya.


"Ehem... Risa ganggu ya."


"Kok lama Dik."


Karina mengalihkan pandangannya ke Risa.

__ADS_1


"Antri Mbak."


Gama diam dan mengaduk minumannya lalu menyedotnya.


Risa memandangi Gama dan Karina bergantian, dia merasakan mereka berdua habis bicara serius.


"Hmmm.. Sepertinya lebih baik Risa kesana dulu ya. Silahkan Mas Gama dan Mbak Karin ngobrol dulu."


"Di sini aja kamu."


Ucap Karina dan Gama memandangnya.


"Mas Gama kenapa."


Gama tersenyum.


"Nggak papa Risa, mau nambah makan lagi kamu."


"Makasih Mas, Risa udah kenyang."


"Kayaknya kita pulang aja yuk, udah malam juga." Ucap Karina dan Gama menatap Karina dalam.


"Karin.. Apapun yang membuat kamu bahagia Mas juga akan bahagia. Mas akan tetap selalu menjaga kamu seperti pesan Bapak."


Mereka berdua saling pandang, dan Risa memperhatikan mereka berdua bergantian.


"Maaf Mas..."


Karin menundukkan kepalanya.


"Mas masih boleh main ke rumah dan ketemu sama kalian kan."


Gama bergantian menatap Risa dan Karina.


"Mas Gama itu sudah Risa anggap seperti Kakak. Mas Gama ngomong apa sih, pasti boleh dong main ke rumah.. Kok jadi melo gini sih.."


"He he he..."


Gama mengusap kepala Risa sambil tersenyum dan Karina menatap mereka berdua.


"Ya udah kalau mau pulang, yuk kita pulang." Ajak Gama.


Gama berdiri dan menuju ke kasir untuk membayar pesanan mereka lalu menghampiri Risa dan Karina yang masih di meja.


"Yuk, kita pulang."


Karina diam saja dan berjalan dengan Risa menuju ke mobil di ikuti Gama.


🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2