
"Kalila Putri Pramuditya."
Ucap Gama disaat sambutannya di acara aqiqah Putri kesayangannya.
Keluarga, sanak saudara dan sahabat kolega bisnis semuanya hadir di acara itu. Mereka ikut merasakan kebahagiaan yang sedang menyelimuti Gama dan Karina.
Karina yang duduk sambil tersenyum memandang wajah putrinya yang terlelap di pangkuannya.
"Mbak manggilnya Lila aja."
Risa dan Tika berada di sampingnya memang mereka berdua dari kemarin menyarankan untuk memanggil Lila saja kepada keponakannya.
Namun, Gama selalu melarangnya dia ingin putrinya dipanggil Kalila.
Karina tersenyum saja, dia sih terserah mereka mau manggil apa yang penting masih namanya.
"Mana boleh sama Kak Gama." Celetuk Tika.
"Nanti Mas Gama kan berangkat lagi nih, kalau pas nggak di rumah kita panggil Lila saja." ide Risa.
"Cerdas kamu."
Tika dan Risa mereka berdua tos merencanakan untuk memanggil keponakannya dengan sebutan Lila.
"Kalian ngapain.?"
Gama selesai memberikan sambutannya dan mendekati putrinya.
"Ada deh." Sangkal Tika dan Risa.
Gama mengusap pipi Kalila dengan lembut dan itu sama sekali tak mengganggu tidurnya mungkin dia sudah tahu kalau yang mengusap pipinya itu Ayahnya.
Doa telah dibacakan dan semua tamu dipersilakan untuk menyadari dengan yang sudah tersaji.
Selesai acara tak lupa Karina dan Gama mengucapkan banyak terima kasih kepada semuanya karena telah ikut mendoakan Putri kecilnya.
Mereka semua nampak berkumpul di ruang keluarga yang menjadi pusat perhatian tentu si kecil.
__ADS_1
"Karin, Kalila tidurkan di kamar saja biar lebih nyaman." Pinta Mama Dina walaupun kalian sama sekali tidak terusik dengan keramaian.
"Baik Ma."
Karina akan berdiri namun dilarang oleh Gama biar dia saja yang membopong Putrinya.
"Biar Mas aja yang gendong sayang."
Karina tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Gama menggendong si kecil perjalanan menuju ke kamar mereka dan diikuti oleh Karina.
"Mas, tidurkan saja di bed." Pinta Karina.
"Baik Sayang."
Kalila di baringkan di tengah kasur besar mereka, Karina nampak senang suaminya sangat telaten merawat Kalila.
"Cup..cup..."
Gama mengusap-usap si kecil agar terlelap kembali.
"Mas, mandi. Biar Karin tungguin."
"Anak Ayah, cantik ya kayak Bunda."
"Mas bisa aja."
Gama tersenyum ke arah Karina lalu memeluknya.
"Makasih ya Sayang sudah melahirkan si kecil yang cantik."
Karina tersenyum dan menganggukkan kepalanya sambil memeluk erat tubuh Gama.
"Mas bakalan kangen banget sama Kalian sayang."
Iya, Gama bisa harus kembali lagi melanjutkan S3 yang belum selesai.
"Bisa video call Mas."
__ADS_1
Gama menangkup wajah Karina dan mencium sekilas bibirnya.
"Sayang, jangan sampai sendirian apa kita cari baby sister sekarang untuk membantu kamu."
Karina menggelengkan kepalanya.
"Nggak usah Mas, ada Mama Dina juga bisa bantu Karin. Bibi juga ada."
"Tapi kan beda sayang, kamu pasti juga akan mengurus sendiri."
"Karin bisa Mas."
Gama membawa Karina ke dalam pelukannya kembali.
"Maafin Mas ya Sayang, bisa bantuin kamu untuk merawat Kalila."
"Mas kan juga lagi belajar, kita bakalan merindukan ayah pulang."
Karina menatap wajah suaminya sambil tersenyum.
"Doakan Mas ya Sayang, semoga cepat selesai."
"Pasti Mas, Karin akan selalu mendoakan Ayah disana diberi kelancaran dan kemudahan."
"Rasanya Mas pengen membawa kalian ke sana."
"Nanti kalau si kecil udah besar ya Mas."
Gama tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Masih sekitar satu tahun lagi bagi Gama untuk menyelesaikan beasiswanya jika melebihi waktu yang telah ditentukan dia akan dikenai biaya tambahan.
"Ayah semangat ya.."
"Pasti Sayang..."
Gama memeluk Karina sambil melirik ke si kecil yang masih terlelap saja, dia tau kedua orang tua yang sedang melepaskan rindu.
__ADS_1
πππππ