Mukena Merah Muda

Mukena Merah Muda
MMM #83


__ADS_3

"Sayang, Mas ini suami kamu. Cerita ada apa."


Karina lagi-lagi hanya menggelengkan kepalanya.


Gama menghela nafasnya.


"Kita duduk sayang."


Gama menuntun Karina ke sofa supaya mau bercerita.


Setelah mereka berdua duduk, Gama merangkul istrinya dan membawanya ke pelukannya.


"Sayang kenapa, Mas punya salah ya."


Karina menggelengkan kepalanya.


"Terus kenapa sayang nangis, ada yang sakit?. Mas periksa ya."


lagi-lagi Karina hanya menggelengkan kepalanya.


Gama menghela nafasnya kembali bahkan lebih keras dari tadi, memang sengaja dia buat begitu.


"Sayang... Mas ini suami kamu kan.?"


Karina tercengang mendengar Gama yang bertanya seperti itu, Dia mendongakkan kepalanya dan menatap wajah suaminya dengan raut muka bersalah.


"Mas kok bilang gitu.?"


"Kalau Mas ini suami kamu, cerita biar Mas tahu apa masalahnya."


Gama lama-lama jengkel juga dan terpancing emosinya.


Karina tak tahan lagi menahan tangisnya, dia terisak membuat Gama tambah pusing saja.


"Mas... Ma..Afin.. Karin."


Gama menatapnya dalam dan hanya diam.


"Mas... Karin minta ma..af. Hiks..hiks..."


Gama tak tega dia memeluk Karina dan mengusap punggungnya dengan lembut.


"Sayang, salah apa."


"Hiks..hiks.. "


Karina terisak di pelukan Gama.


"Karin, belum ha...ha.. Mil...hiks..hiks..."


Gama terdiam dan menghela nafasnya lagi.


"Karin pasti denger pembicaraan Mama tadi." Dalam hati Gama.


"Ka..Karin.. Belum bisa membahagiakan Mas Gama dan keluarga..hiks..hiks..."


"Sayang.. Tadi denger ya Mama bicara soal hamil.?" Tanya Gama.


Karina melakukan kepalanya dan Gama menciumi pucuk kepalanya.

__ADS_1


"Soal hamil itu rahasia Allah, Sayang. Kita juga tidak tahu kapan akan dikasih kepercayaan untuk punya momongan."


"Mama.. Udah udah pingin punya cucu Mas."


 Karina menatap Gama dan suaminya itu selalu berlaku romantis dengan mengusap air matanya.


"Mama hanya tanya aja sayang, Karena Mama sayang banget sama kamu."


"Karin ngecewain Mama, Mas."


Gama tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Mama nggak kecewa kok sayang, itu bentuk sayang Mama sama kita."


"Mama kelihatan sudah pingin banget Karin hamil."


Gama tersenyum dan menciumi wajah Karina.


"Terus, sayang mau kita gimana."


"Karin takut Mas, kalau lama nanti dikasihnya."


"Husst... Jangan bilang gitu, kita tidak boleh mendahului takdir Allah. Kita harus berusaha sayang."


"Caranya Mas."


"Kalau Sayang sudah siap bagaimana kalau kita promil ke dokter spesialis kandungan."


Karin menatap Gama dengan bingung, ada yang dia takutkan.


"Sayang, belum siap ya.?"


Karina menggelengkan kepalanya.


"Takut apa sayang, kita promil disini dulu aja kan masih ada 1 Minggu ini bisa ke Dokter."


"Karin, takut ada sesuatu yang nggak sehat. Karin pernah baca banyak sekali faktor yang menyebabkan belum juga hamil Mas."


Gama malah tersenyum dan mencubit hidung Karina.


"Itu hanya ketakutan kamu sayang, belum juga periksa sudah memvonis kayak gitu."


"Karin takut Mas, nanti kalau Karin bermasalah Mas kecewa lagi."


Gama menangkup wajah Karina dengan kedua tangannya dan sekilas mencium bibirnya.


"Mau seperti apa pun keadaan kamu sayang, Mas tidak kecewa kita hadapi bersama dan Mas yakin kamu baik-baik saja hanya belum waktunya saja dikasih hamil."


"Mas, nggak marah kalau karina ada kekurangan, Mas nggak akan ninggalin Karin kan.?."


Gama menatap kedua manik Karina dengan serius.


"Sudah cukup sayang Mas dulu nunggu kamu, Mas nggak akan pernah ninggalin kamu bagaimana keadaan kita nantinya dan Mas juga berharap kamu seperti itu."


"Jangan ngomong kayak gitu lagi ya. Mas nggak suka."


Karina malah meleleh lagi air matanya.


"Maaf Mas, Karin takut Mas Gama akan ninggalin Karin."

__ADS_1


"Sayang, untuk mendapatkan kamu aja susah main ninggalin aja. Kita hadapi bersama sayang, anak bukan sebuah tolak ukur kebahagiaan sebuah keluarga. Tapi, bukan kita terus tidak berusaha juga. Nanti Mas telepon teman dulu ya yang spesialis kandungan."


Karina menganggukkan kepalanya.


"Iya Mas."


"Sekarang kita istirahat ya."


Gama pura-pura meregangkan tubuhnya yang terasa kaku.


"Mas masih capek nih Sayang."


"Mau Karin pijit Mas."


Gama tersenyum senang dan langsung berdiri merentangkan kedua tangannya.


"Ayo.. Sayang."


Karina sudah hafal dia ikut berdiri dan Gama langsung membopongnya.


"Pijitnya pakai plus ya."


Goda Gama.


"Kok pakai plus Mas, katanya capek."


"Bentuk ikhtiar kita sayang."


Gama merebahkan tubuh Karina di atas tempat tidur.


"Mas.."


Karina menatap Gama serius.


"Iya kenapa sayang."


Gama membelai rambut Karina sambil tersenyum senang.


"Mas, boleh nggak Karin ke makam Bapak sama Ibu terus ke rumah juga. Karin kangen..."


Karin dengan hati - hati bicara takut tidak diperbolehkan pulang ke rumah kedua orang tuanya.


Tapi diluar dugaan Gama tersenyum dan mencium keningnya dalam.


"Boleh Sayang, kita besok kesana. Maaf ya sayang Mas memang baru mau ajak kamu ke makam besok."


"Makasih Mas."


Karina mencium pipi Gama yang berada di atasnya.


"Sayang, ganti baju dulu ya."


Karin sudah paham apa maksudnya.


"Baju dinasnya kan di tinggal semua Mas."


"Di lemari masih ada sayangku.."


Gama tak tahan lagi....

__ADS_1


πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚...


Sensor ya... Baru ikhtiar πŸ˜€


__ADS_2