
"Sayang.."
Gama membelai rambut Karina yang menyandarkan kepala di dadanya.
"Iya Mas."
"Tadi teman Mas udah kasih kabar sayang."
Karina menengadahkan kepalanya menatap ke arah suaminya.
"Gimana Mas."
"Besok kita bisa kesana sayang, kamu mau kan.?"
Gama takut Karina belum siap dan malah menjadi beban pikirannya.
Karina tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Iya Mas, Karin mau."
Gama menggesekkan hidungnya ke hidung Karina saking gemesnya.
"Kita harus berfikiran positif sayang."
"Iya Mas, kita sehat, Karin hamil dan kita jadi Mama dan Papa."
"Aamiin..."
Gama memeluk erat Karina dan menciumi pucuk kepalanya.
"Sayang.."
"Hmm.. "
Gama merubah posisi mereka.
"Kita ikhtiar lagi sayang.."
Goda Gama dan Karina menatapnya heran baru saja kegiatan mereka tadi selesai.
"Mas nggak capek."
Gama tersenyum manis sambil menciumi pipi istrinya.
Namun....
Tok..
Tok...
Tok..
"Kak Gama, mbak Karin.. Buka..."
Pintu kamar mereka di ketuk oleh Tika.
"Kak.. Buka.."
Gama yang sedang asyik seketika menjadi emosi karena diganggu.
"Apaan sih Tika, ganggu aja."
Gama cemberut namun, Karina malah tersenyum sambil mengusap pipi suaminya.
"Keluar dulu Mas."
"Ganggu aja sih sayang, tau gitu tadi sore suruh pulang aja."
__ADS_1
Gama ngomel sambil bangun dan mengenakan pakaiannya kembali.
Karina tersenyum saja lalu menutupi dirinya dengan selimut sembunyi dibaliknya.
"Ada apa sih Tika."
Gama membuka pintu kamar hanya selebar dirinya supaya Tika tidak bisa melihat ke dalam dengan raut muka jengkel.
"He he.. "
Tika cengar-cengir aja, sedangkan Risa berada di belakangnya nampak nggak berani untuk bicara.
"Kak, ada semprot nyamuk nggak. Katanya Risa Mbak Karin punya."
"Ganggu aja sih, bentar tak ambilkan."
Gama menutup pintu kamar kembali dan mencari semprot yang diletakkan Karina didalam lemari.
Karina tersenyum melihat wajah suaminya yang jengkel dengan adiknya itu namun masih mau mengambilkannya juga.
"Kak, kok ditutup sih. Mbak Karin kemana." teriak Tika.
Gama membuka pintu lagi dan menyodorkan semprot nyamuk itu.
"Ini, udah sana nggak usah ganggu."
Tika menerima benda itu namun kepalanya mencoba untuk melihat di dalam kamar mencari sosok Karina yang tak ada suaranya.
"Mbak Karin kemana Kak."
"Tidur, udah sana kalian masuk kamar tidur udah malem."
Gama mengusir Tika dan Risa yang tersenyum kecut dan dia menutup pintunya kembali.
Karina malah terkekeh melihat suaminya kembali ke tempat tidur dengan muka masam.
"Mas, kenapa cemberut gitu."
"Ganggu banget, nanggung tau Sayang."
"Udah tidur Mas, udah malam."
Karina mengusap pipi suaminya.
"Lanjutin lagi ya." Pintanya.
Karina mana berani menolak, dia pasrah saja dengan apa yang dilakukan oleh suaminya.
Esok harinya,
Adzan subuh berkumandang, Karina membuka matanya dan mengusap pipi Gama yang terlelap di sampingnya.
"Mas, bangun udah subuh."
"Hmm... Bentar sayang."
Karina perlahan bangun karena ingin segera mandi sebelum kedua adiknya rese itu membuat perkara lagi.
"Sayang.. Mandi bareng."
Celoteh Gama namun matanya masih terpejam.
"Mas, ini nggak dirumah Mama Dina. Ada dua bocil itu nanti rese lagi melihat kita mandi bareng."
Gama lalu membuka kedua matanya sambil memandangi Istrinya yang sedang mengenakan kembali pakaiannya.
"Karin mandi dulu ya Mas."
__ADS_1
Gama dengan berat hati mengiyakannya.
Karina keluar dari kamar langsung menuju ke mandi untuk membersihkan diri. Tak lama selesai dia kembali ke kamar dan meminta Gama segera membersihkan dirinya.
Untung selesai mandi kedua adiknya itu baru pada bangun, jadi nggak rese mengganggu mereka berdua.
Selesai sholat subuh berjamaah dengan Gama, Karin mempersiapkan sarapan untuk mereka karena keduanya itu harus sekolah.
"Daripada melamun gitu bantuin Mbak Karin sana sama Risa."
Gama mengomel ke Tika yang hanya diam saja di ruang tamu.
"Masih ngantuk Kak."
"Tidur jam berapa."
"He he..." Tika nyengir aja.
Semalam entah jam berapa dia baru tidur karena asyik nonton drama Korea sedangkan Risa tidur duluan. Kalau di rumah sudah disatronin sama mama Dina di kamarnya.
"Nonton Drakor lagi, Kakak bilangin ke Mama nanti."
"Nggak ya kak, Tika tidur."
"Awas kamu."
Tak lama sarapan sudah matang mereka berempat makan bersama lalu bersiap berangkat, Risa dan Tika sekalian bareng Gama dan Karina yang ingin bertemu dengan teman Gama spesialis kandungan untuk periksa.
Setelah mengantar kedua adiknya Gama melajukan mobilnya ke arah rumah sakit dimana temannya itu praktik.
Tak perlu antrian panjang, mereka berdua masuk dan berkonsultasi.
"Apa kabar Gama."
Gama dan Rita temannya saling berjabat tangan.
"Alhamdulillah sehat."
"Ini istri kamu."
Gama tersenyum dan menganggukkan kepalanya lalu memperkenalkan Karina kepada Rita.
"Karina."
"Rita."
Setelah saling berkenalan mereka melakukan konsultasi tentang kesehatan reproduksi supaya bisa Hamil.
"Oke, usia Karina masih muda. Insyaallah akan lebih mudah dan berpeluang besar segera hamil." Ucap Rita.
"Semoga ya Sayang."
Gama menggenggam tangan Karina dan menciumnya.
"Kamu sayang banget sama istri kamu." ledek Rita.
"Pasti dong."
"Mbak Karin kita coba lakukan USG ya."
Karina tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Gama membantu Karina naik ke bed pemeriksaan lalu Rita yang dibantu asistennya mulai mengecek.
Ekspresi Rita nampak kaget melihat layar yang ditampilkan dari USG itu yang menunjukkan keadaan di dalam rahim Karina.
"Kenapa Rita."
__ADS_1
Gama yang sama-sama Dokter jadi merasa curiga dengan ekspresi wajah Rita.
πππππ