Mukena Merah Muda

Mukena Merah Muda
MMM #90


__ADS_3

"Assalamualaikum."


Gama masuk rumah dan Karina sudah menunggunya.


"Waalaikumsalam, Mas."


Karina meraih tangan suaminya dan mencium tangannya.


"Maaf ya sayang."


Gama langsung memeluk Karina, dia merasa bersalah karena tadi tidak langsung memberikan kabar.


"Iya Mas, jangan diulangi lagi Karin gelisah di rumah."


"Maaf ya Sayang."


Gama mengusap perut Karina lalu menciumnya.


"Jarinya kenapa sayang."


Gama melihat jari Karina yang dibungkus plester saat mengusap perutnya.


Karina tersenyum saja supaya suaminya tidak terlalu khawatir karena itu cuman luka biasa terkena pisau.


"Nggak papa Mas, kena pisau tadi."


Gama melihat jari Karina dan memeriksanya.


"Sudah di kasih obat merah sayang."


Karina tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Nanti Mas lihat ya."


Karina menganggukkan kepalanya saja, dia paham suaminya Dokter pasti nggak mau terjadi apa-apa sama dirinya.


Gama membawa Karina masuk ke dalam kamar mereka.


"Mas mandi dulu ya sayang, nanti baru makan."


"Iya Mas."


Karina duduk di sofa yang ada di dalam kamar sedangkan Gama masuk ke dalam kamar mandi untuk menyegarkan badannya.


Karina menatap ke arah jendela, pikirannya masih mengganjal sampai saat itu Risa tidak memberi kabar apapun.


"Kamu kemana Dik."


Karina mengambil ponselnya kembali namun tak ada jawaban setelah melakukan panggilan kembali ke nomor Risa.


Sedangkan Gama di dalam kamar mandi menggusur badannya di bawah shower namun pikirannya juga melayang bagaimana caranya menyampaikan kepada Karina tentang keadaan Risa.

__ADS_1


~Flashback On~


Saat di kampus tadi Gama menelepon kembali Mamanya yang ada di Indonesia untuk mencari kabar bagaimana keadaan Risa.


"Risa mengalami retak di bagian tulang tangan kanannya."


Suara Mama Dina yang terdengar khawatir.


"Apa Risa sudah ditangani dengan baik Ma."


"Dia sudah diruang perawatan ini."


Gama yang tak sabar langsung mengalihkan panggilannya ke video call untuk melihat keadaan Risa secara langsung.


Nampak Risa yang masih tergeletak di atas tempat tidur dengan tangan kanannya dipasang penyangga.


Kronologi pastinya Mama Dina ceritakan kepada Gama dengan jelas. Semua bermula saat Risa akan berbelok ke arah makam namun tiba-tiba sepeda motor yang dari depan yang menyalip berjalan begitu cepat dan langsung menubruk sepeda motor yang dia naiki.


Risa tersungkur di jalanan, lalu di tolongin oleh beberapa orang yang saat itu juga mau ke makam.


Orang yang menabrak Risa pun diamankan, Mama Dina menyerahkan semuanya ke polisi dia nggak mau berurusan dengan hal begituan yang terpenting adalah keselamatan dari Risa.


Tangan kanannya harus menjalani perawatan serius akibat tulang nya retak untuk sementara waktu tidak akan bisa digerakkan.


Gama menyerahkan semua urusan kepada Mamanya untuk merawat Risa dengan sepenuh hati seperti anaknya sendiri. Dia sendiri bingung bagaimana cara menyampaikannya kepada karirnya apalagi keadaannya juga saat ini sedang hamil.


~Flashback Off~


Selesai mandi Gama keluar dan melihat istrinya sedang berkutat dengan ponselnya.


Gama mendekati Karina yang sejak tadi menghubungi Risa namun tidak ada jawaban.


"Mas, Risa kemana ya Karin telepon dari tadi nggak diangkat."


Wajah Karina nama sangat khawatir sekali.


Gama mengambil duduk di sebelah Karina merangkul pundak istrinya itu.


"Mungkin istirahat sayang."


Karina menatap Gama dan jujur membuat nya gugup.


"Nggak biasanya Mas, kan Risa selalu video call kalau lagi ke makam."


"Apa mungkin lagi nggak bawa ponselnya sayang."


Gama mengusap rambut Karina dengan lembut.


"Mas...."


Karina menelisik wajah suaminya.

__ADS_1


"Iya Sayang."


"Nggak terjadi sesuatu kan dengan Risa. Karin dari tadi perasaannya nggak enak."


Gama menangkup wajah Karina dan sekilas menciumnya. Dia masih belum bisa untuk bicara namun juga sampai kapan dia akan menyembunyikannya.


"Mas... Mama juga tumben nggak telepon Karina."


Gama malah mengusap rambut Karina lalu mengecup keningnya.


"Mas.. Ada apa sih, Mas aneh nggak kayak biasanya."


Karina malah curiga dengan gelagat suaminya itu.


"Sayang..."


Gama mengambil nafasnya lalu menghembuskan kembali.


Karina dengan serius menatap Gama, dan berharap cemas tidak ada sesuatu yang terjadi dengan keluarga di Indonesia.


"Sayang,.."


"Hmm.. Mas kenapa sih."


Karina rasanya sudah tidak sabar, dan sepertinya firasat buruknya jadi kenyataan.


Gama malah memeluk Karina dan mendekapnya.


"Sayang, Risa..."


Karina melonggarkan pelukan Gama dan menatap wajah suaminya itu.


"Risa Kenapa Mas."


"Tenang sayang, kamu harus tenang dulu. Kasihan adik.."


Gama mengusap perut Karina takut ikut bereaksi saat Karina kaget.


"Mas katakan kenapa, ada apa dengan Risa."


"Kamu janji dulu ya sayang, yang tenang."


Karina menarik nafasnya dan menghembuskannya.


"Risa, jatuh sayang. Tapi, SE..."


"Apa Mas, jatuh.. Jatuh dimana."


Mata Karina sudah berbinar-binar.


"Karina jatuh dari sepeda motor sayang tapi sekarang sudah baik-baik saja. sudah dirawat sama Mama."

__ADS_1


Karina nampak gelisah langsung mengambil ponselnya dan menelepon Mama Dina.


🥹🥹🥹🥹


__ADS_2