
Sore hari ini istimewa Karina berangkat kerja diantar Gama dengan mobilnya sekalian kembali ke rumah sakit.
"Makasih ya Mas, maaf Karin merepotkan."
Gama malah tersenyum ke arah Karin sebelum yang duduk disampingnya.
"Kamu kenapa sih Sayang, selalu merasa kalau kamu itu merepotkan Mas." Tatapan Gama lekat ke arah Karina yang malu.
"Karin nggak enak aja sama Mas."
Katanya sambil menunduk.
"Sayang, Mas ini calon suami kamu. Kamu mau apa aja tinggal bilang sama Mas dan sedikitpun Mas nggak ada rasa kamu itu merepotkan."
Karina mengangkat kepalanya memandang Gama yang tersenyum kepadanya.
"Sayang, jangan sungkan mau minta apapun sama Mas."
Karina tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Makasih Mas, Karin turun ya."
Gama menganggukkan kepala dan masih tetap tersenyum.
"Selamat kerja, hati-hati ya kalau ada apa-apa hubungi Mas."
"Iya Mas, Assalamualaikum."
Karina membuka pintu mobil namun lalu di cegah Gama dengan diraih tangannya yang satu.
"Sayang."
Karina menoleh lagi.
"Nanti malam Mas jemput, tungguin ya jangan pulang sendiri."
Karina tersenyum.
"Iya Mas."
Karina turun setelah tangannya dilepaskan oleh Gama.
"Mas hati-hati ya, Assalamualaikum."
"Iya Sayang, Waalaikumsalam."
Karina masuk ke dalam toko dan Gama masih memandanginya dari dalam mobil sebelum meninggalkan lokasi itu menuju ke rumah sakit.
Setelah Karina sudah di dalam toko Gama memutar mobilnya menuju ke rumah sakit kembali.
Karina bekerja dengan semangat dan Desi yang bareng waktu itu menelisik wajahnya yang terlihat cerah tak seperti biasanya.
"Cie.. Diantar siapa tadi."
Goda Desi.
Karina tersenyum saja.
"Calon suami ya."
__ADS_1
"Mbak Desi ini bisa aja."
Ucapnya dengan berbinar binar.
"Tambah lengket tiap hari."
"He he he.. Doain ya Mbak."
"Kapan rencana menikah."
"Nanti Mbak nunggu Karina lulus dulu."
"Nggak kelamaan.?"
Karina menggelengkan kepalanya.
"Sepertinya dia sudah lumayan umurnya Karin."
"Mau 28 Mbak." Ucapnya.
Desi nampak menganggukkan kepalanya.
"Semoga dilancarkan Karin."
"Aamiin ..."
Mereka pembeli dengan penuh senyum dan ramah .
"Kamu udah mau skripsi kan Karin."
Obrolan mereka berlanjut setelah pembeli pergi.
"Semangat Karin, wah sebentar lagi wisuda dong.."
"Doanya Mbak."
Katanya sambil tersenyum.
Karina sebenarnya mau cerita tentang kegalauannya antara bekerja dan harus bimbingan skripsi namun dia urungkan karena dia merasa kurang tepat aja bercerita dengan Desi rekan kerjanya.
Malam makin larut dan sebentar lagi waktu pulang kerja.
"Karin dijemput.?"
"Iya Mbak tapi, kok belum datang ya."
Karina masih beres-beres masih 15 menit lagi jam pulang namun toko sudah tutup.
"Bentar lagi mungkin."
Desi mencoba menenangkannya karena Karina terlihat gelisah Gama belum juga memberi kabar.
"Mungkin kali ya Mbak, masih dijalan."
Desi tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Karina akhirnya selesai beres - beres namun Gama belum memberikan kabar juga sampai mana.
"Gimana Karin.?"
__ADS_1
Karina menggelengkan kepalanya dan nampak gelisah karena kalau malam nggak ada lagi transportasi cuma ada ojek online tapi, dia takut mau naik itu lebih baik bawa motor sendiri.
"Kamu coba telp."
Karina mencoba melakukan panggilan ke ponsel Gama.
Percobaan pertama tidak ada jawaban, lalu dia mencoba lagi dan kedua kalinya juga tidak ada jawaban dari Gama.
"Nggak diangkat Mbak."
"Apa ada operasi mendadak mungkin."
"Kurang tahu juga tadi nggak kasih kabar."
"Terus gimana, Karin. Mau pesan ojek."
"Takut Mbak."
"Itu suami ku sudah datang."
Desi melihat ke luar dan suaminya sudah menjemput dirinya.
"Mbak Desi pulang dulu nggak papa, Karin nunggu dulu."
"Jangan Karin ini udah malam, bahaya sendiri."
"Apa aku minta Risa jemput aja ya."
"Dia berani sendiri.?" Tanya Desi.
Karina menganggukkan kepalanya.
Adiknya itu memang lebih berani daripada dirinya.
"Ya udah di telp dulu, aku tungguin sampai Risa datang."
"Makasih ya Mbak."
Desi tersenyum dengan senang hati.
Karina menelepon Risa untuk menjemputnya namun dia juga tidak lupa berpesan kepada adiknya itu untuk berhati-hati.
πΉπΉπΉπΉπΉ
Di rumah sakit Gama masih berkutat di ruang operasi karena tadi ada korban kecelakaan yang perlu penanganan segera.
Sebenarnya dia juga tidak tenang kepikiran dengan Karina, gimana calon istrinya itu pulang sedangkan hari sudah malam.
Gama sesekali menatap ke arah jam dinding , hatinya gelisah rasanya ingin lari keluar namun itu tanggung jawabnya.
15 menit kemudian operasi selesai, Gama segera membereskannya.
"Sus, segera selesaikan jahitannya. Saya harus segera pergi. Kalau ada apa-apa langsung kabari."
"Baik Dok."
Gama langsung keluar dari ruangan operasi dan membersihkan dirinya.
πππ
__ADS_1
Ketemu nggak ya Mereka πππ