Mukena Merah Muda

Mukena Merah Muda
MMM #77


__ADS_3

"Permisi..."


Suara seorang laki-laki mendekat ke arah Gama dan Karina, membuat mereka berdua kaget dan menatapnya karena menyapa mereka dengan bahasa Indonesia.


Gama dan Karina menatap ke arah orang itu karena merasa asing dan belum pernah bertemu.


"Iya, maaf siapa."


Tanya Gama.


"Dokter Gama ya."


Gama menganggukkan kepalanya.


"Iya, siapa."


"Kenalkan saya Rifki, mahasiswa dari Indonesia juga untuk beasiswa kedokteran S3 juga."


"Oh.. Ya..."


Gama sambil menganggukkan kepalanya.


"Oh.. Maaf silahkan duduk."


Gama merasa tidak enak melihat tamunya ini berdiri disampingnya sedangkan masih ada kursi kosong.


Rifki tersenyum dan menganggukkan kepalanya sebelum duduk dia permisi juga tersenyum ke arah Karina.


"Terima kasih Dok."


"Jadi, Dokter Rifki ini juga mahasiswa beasiswa kedokteran S3 ini."


"Iya, tapi kita dari penyelenggara yang berbeda."


Gama nampak menganggukkan kepalanya sedangkan Karina hanya mendengarkan percakapan mereka berdua.


"Alhamdulillah saya dapat teman baru disini." Ucap Gama dengan senang hati.


"Saya tadi lihat dokter Gama masuk ke restoran ini lalu saya susul ternyata memang benar Dokter Gama."

__ADS_1


Gama lagi-lagi tersenyum.


"Oh ya, maaf ya saya sambil makan siang. Dokter Rifki mau pesan juga."


"Kebetulan saya sudah makan Dok."


"Oke.."


Gama sambil menyantap makanannya bersama Karina bukan berarti tidak sopan tapi keburu makanannya dingin dan sesekali mereka juga mengobrol.


"Ini istri saya."


Gama paham apa yang ada di dalam pikirannya Rifki karena sesekali dia melirik ke arah Karina.


"Wah.. Dokter Gama enak ya ditemani istri."


Gama tersenyum ke arah Karina.


"Memang saya yang mengajaknya, soalnya nggak bisa jauh-jauh dari istri."


Karina tersenyum saja bisa - bisanya suaminya bilang begitu.


"Maaf Dokter Rifki sudah berkeluarga."


"Alhamdulillah sudah Dok, tapi karena anak saya masih kecil jadi nggak bisa membawa keluarga ke sini lagian biaya hidup disini juga lumayan kan Dok."


Gama tersenyum saja, Karina semenjak tadi hanya mendengarkan obrolan mereka berdua.


"Ditambah lagi istri saya juga masih ada kerjaan."


"Istrinya Dokter juga ya."


Tanya Gama.


"Alhamdulillah iya Dok."


Karina melihat suaminya senang sekali mendengar cerita hidup Dokter Rifki tapi dia malah salah persepsi menganggapnya Gama suka istri yang juga Dokter sedangkan dirinya bukan.


"Mas Gama jadi lebih suka istri Dokter juga sepertinya." Dalam hati Karina.

__ADS_1


"Iya Dok, jadi masih ada ikatan kerja dan anak masih kecil."


"Dijalani aja Dok."


Gama tidak memperhatikan Karina yang berubah raut wajahnya.


"Oh ya Dok, saya sebenarnya juga ikut seleksi yang sama dengan Dokter Gama namun sayang nggak lolos."


Gama nampak memandangi Rifki.


"Jadi kemarin kita rival ya."


"Iya tapi saya kalah jauh sama Dokter Gama."


"Hanya soal rejeki saja Dok, dan semua sudah ada yang mengatur nyatanya sekarang kita disini ditempat yang sama."


"Iya Dok, saya nggak nyangka bisa disini sekarang."


"Tapi ngomong - ngomong Dokter Rifki tau saya dari mana ya."


Gama penasaran sejak tadi kok bisa Rifki ini mengenalnya.


Karina masih menjadi pendengar setia.


"Saya tau dari istri saya."


Karina mendengar itu merasa heran dan punya filing tidak enak.


"Istri Dokter Rifki...?"


"Iya Dok, istri saya mengenal Dokter Gama katanya teman semasa kuliah kedokteran."


Gama mengerutkan dahinya mencoba menebak siapa istri Dokter Rifki ini.


"Siapa nama istri Dokter Rifki...?"


Jeng... Jeng.....


Sengaja author mau buat pinisirin πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

__ADS_1


__ADS_2