
Sudah satu minggu ini Karina sibuk dengan kuliahnya, Dia harus bimbingan skripsi dan dikejar deadline karena Dosen pembimbingnya bulan depan akan keluar negeri.
"Sayang, istirahat udah malam."
Via video call Gama menemani Karina yang lembur malam hari untuk mengerjakan perbaikan skripsinya besok sudah harus bimbingan lagi.
"Iya Mas bentar ya ini nanggung harus diprint, besok pagi banget harus berangkat ke kampus."
Gama hanya menghela nafas, andaikan dia disana sudah diangkat itu Karina ke atas tempat tidur.
"Sayang, udah malam istirahat. Tubuh kamu juga butuh istirahat sudah seharian beraktivitas. Kamu pagi sudah kuliah, siang hari kerja sekarang masih lembur udah jam berapa itu."
Karina menatap layar ponselnya dan tersenyum.
"Bentar lagi ya Mas, janji deh 30 menit aja."
"No..!!. Tidur sekarang."
Gama sudah tidak bisa kompromi lagi sambil menatap Karina serius.
"Mas, besok harus berangkat pagi nggak ada waktu lagi."
Karina masih merayunya lagi.
"Mas nggak tau lagi gimana caranya ngasih tau kamu, kalau masih dengerin Mas tidur sekarang.!!"
Suara Gama benar-benar marah sama Karina tapi, itu semua juga demi kesehatan Karina sendiri.
Karina takut juga kalau Gama marah begitu, Dia diam dan menunduk saja.
Tak ada suara dari keduanya Karina diam, Gama juga tak bicara tapi tatapannya tajam ke arah kamera.
"Malam Karin... Istirahat."
Gama masih dalam mode marah supaya Karina nurut.
"Iya Mas."
Karina nampak membereskan laptopnya walaupun terpaksa karena pikirannya masih fokus pada skripsinya yang esok hari harus bimbingan lagi.
"Sudah malam, Mas begini juga demi kesehatan kamu. Kalau sakit gimana kamu sendiri yang merasakan tapi kamu sulit kalau diingatkan."
"Iya Mas, maaf."
Karina nggak berani menatap layar Ponselnya.
"Sekarang tidur jangan diam-diam buka laptop lagi setelah mematikan HP ini."
Gama bisa menebak pikiran Karina.
"Iya Mas, Karin tidur ini sudah dimatikan semua."
"Ya sudah sekarang tidur, jangan lupa berdoa. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam Mas."
Video call mereka berakhir dan Karina benar-benar membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur miliknya namun pikirannya masih pada skripsinya.
"Mas Gama kalau marah menakutkan ya." Ucapnya sendiri sambil memandangi langit kamarnya.
Dia merasakan badannya memang sudah capek sekali sudah beraktivitas dari pagi hari dan belum beristirahat.
__ADS_1
Malam makin larut lama kelamaan Karina memejamkan kedua matanya masuk ke alam mimpi.
Suara alarm berbunyi dari ponsel milik Karina yang berada di atas meja samping tempat tidurnya.
Badannya terasa berat namun pikirannya langsung tertuju lagi ke skripsi yang memang harus segera dicetak karena pagi ini akan bertemu lagi dengan Dosen pembimbingnya.
"Aahh....ah..."
Dia bangun dan meregangkan badannya yang terasa kaku paling baru sekitar 3 jam dia tidur.
"Alhamdulillah ya Allah..."
Karina turun dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu ingin melaksanakan sholat malam.
Selesai berwudhu Karina kembali ke kamarnya untuk segera sholat.
Tak butuh waktu lama setelah berdzikir dan berdoa Dia kembali mengambil laptopnya dan membukanya.
"Ini harus segera selesai."
Karina sudah tidak mengantuk lagi dan siap mencetak skripsi yang sudah dia perbaiki semalam.
Hingga tak terasa adzan subuh berkumandang dan sedikit lagi semuanya selesai.
Ceklek...
Pintu kamarnya terbuka terlihat Risa yang masih mengucek matanya berdiri di pintu.
"Mbak Karin nggak tidur semalaman."
Suara Risa terdengar serak.
"Tidur, sudah kamu mandi dulu sana. Mbak mau beresin ini dulu."
Karina meregangkan badannya yang terasa lemas sambil menggerakkan lehernya yang terasa kaku.
"Badan ku capek banget rasanya."
Dia berdiri melakukan peregangan.
"Jangan tumbang Karin, masih butuh kekuatan super ini."
Katanya untuk menyemangati dirinya sendiri.
Dia meninggalkan kamar dan printer yang masih mencetak Untuk merebus air dan menanak nasi.
"Mbak, Risa sholat dulu ya."
Risa keluar dari kamar mandi dan melihat Karina sudah memasukkan nasi ke rice cooker.
"Habis sholat sayurnya di potong dulu Mbak mau mandi."
"Iya..."
Risa berlalu ke kamarnya untuk sholat subuh dan Karina segera mandi.
Risa sebelum ke kamarnya, Dia menengok kamar Karina dan menggelengkan kepalanya melihat kamar penuh dengan kertas dan laptop masih menyala serta printer yang masih mencetak sendiri.
"Jam berapa Mbak Karin tidur."
Ucap Risa.
__ADS_1
Selesai mandi Karina juga segera sholat subuh dan selesai itu dia membereskan laptop dan berkas yang harus dia bawa ke kampus.
Pekerjaan dari memasak hingga membersihkan rumah mereka lakukan bersama jadi cepat selesai supaya bisa berangkat pagi.
πΉπΉπΉπΉ
"Kemana sih Karina nggak diangkat."
Gama sibuk dengan ponselnya menghubungi Karina dari tadi nggak ada jawaban.
"Jangan-jangan sudah ke kampus ini."
Dia mencoba menghubungi lagi sambil masuk ke mobil.
"Nggak dijawab lagi, telepon Risa aja."
Gama beralih memanggil Risa.
"Assalamualaikum Mas."
Jawab Risa .
"Waalaikumsalam, kamu dimana Risa dan Mbak Kamu dimana."
"Risa udah di sekolah Mas, Mbak Karin perjalanan ke kampus Mas."
"Pagi banget, berangkat jam berapa tadi."
"Jam 6 Mas dari rumah, iya ini Risa juga masih sepi katanya Mbak Karin ada bimbingan gitu nggak mau terlewatkan." Risa panjang lebar cerita ke Gama.
"Mbak Karin bangun jam berapa tadi."
"Nggak tau Mas, Risa bangun dia sudah buka laptop lagi di kamar."
Gama menggelengkan kepalanya tak habis pikir sama Karina.
Selesai menelpon Karina, Gama melajukan mobilnya ke rumah sakit karena ada acara juga hari ini.
πΉπΉπΉπΉπΉ
Siang itu selesai bimbingan Karina nampak keluar dari ruangan Dosen dan Anggun ada di depan.
"Nitip Gun, bentar.."
Karina menyerahkan tas berisi skripsinya ke Anggun dan berlari ke kamar mandi.
"Kamu mau kemana Karin.."
Dia tak menjawab karena sudah menahan perutnya yang rasanya diaduk.
"Hoek....Hoek...."
Karina mengeluarkan semua isi perutnya dan badannya terasa dingin karena keringat dingin yang keluar dari tubuhnya.
"Karin... Tok...tok..."
Anggun mengetuk pintu kamar mandi dan mendengar Karina muntah.
"Karin... Kamu nggak papa..."
Masih terdengar suara orang muntah dari dalam.
__ADS_1
π±π±π±π±π±