Mukena Merah Muda

Mukena Merah Muda
MMM #64


__ADS_3

Selesai makan malam bersama Karina membersihkan peralatan bekas makan dibantu Risa sedangkan Gama bercengkrama dengan Paman dan Budenya di depan.


"Mbak..."


"Hmmm... Kenapa."


"Lusa mbak Karin sama Mas Gama berangkat ya."


Karina yang sedang mencuci piring sejenak berhenti entah Kenapa hatinya seperti teriris Risa menanyakan itu.


"Insyaallah..."


Hanya itu yang terucap dari Karina sebenarnya dia merasa cukup sedih untuk meninggalkan adiknya sendiri walaupun keluarga Gama sangat menyayanginya.


Risa mendekati Karina dan merangkulnya dari belakang.


"Mbak.. Jangan khawatir ya, Risa bisa jaga diri kok."


Ucapnya sambil tersenyum walaupun hatinya juga merasakan sepi jika tak bersama Mbaknya.


Mereka saling berhadapan dan Karina memeluknya.


"Jangan merepotkan Mama Dina ya dek."


"Mbak tenang aja."


Tanpa mereka tau ternyata Gama berada di pintu masuk ke dapur, Dia tersenyum melihat mereka berdua berpelukan.


Risa melepaskan pelukannya dan tersenyum melihat Gama sedangkan Karina yang membelakangi pintu belum tahu jika ada Gama di sana.


"Mbak, udah ditunggu itu."


Risa memberikan kode dengan lirikan matanya.


Karina pun tersenyum ke arah Gama.


"Bentar ya Mas, Karin selesaikan ini dulu."


Gama tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Udah mbak sana istirahat aja, biar Risa yang bersihkan."


"Tinggal dikit aja dek."


Karina yang akan mengambil piring lagi di cegah oleh Risa.


"Mbak, udah sana masuk sama Mas Gama. Besok resepsi pernikahan Mbak jadi harus cukup istirahat."


Risa mendorong tubuh Karina untuk menjauh tempat cuci piring.


"Mas, bawa ini Mbak Karin ke kamar ajak tidur aja."


"Siap, ayo sayang."


Gama dengan senang hati meraih tangan Karina dan membawanya ke kamar.


Setelah masuk ke kamar Gama mengunci pintunya membuat Karina gugup dan jantungnya berdetak lebih cepat.


Karina untuk menghilangkan gugupnya dia menuju ke lemari dia ingin melepaskan jilbabnya dan mengambil baju tidurnya.


"Gimana ini gantinya."

__ADS_1


Dalam hati Karina dia bingung, mau ganti di kamar ada Gama mau ganti di kamar mandi ada pamannya belum lagi Risa yang rese masih belum tidur.


"Sayang.. Kenapa.?"


Gama melihat Karina yang terdiam di depan lemari sambil memegangi baju tidurnya.


"Sayang..."


Gama malah memeluknya dari belakang membuat Karina semakin gugup.


"Kok diam aja, kenapa Sayang."


Gama membalikkan badan Karina yang hanya diam saat ia peluk.


"Sayang,..."


"Karin.. Mau ganti baju Mas."


Ucapnya sambil malu-malu menatap ke arah Gama.


Gama malah tersenyum karena dia paham maksud istrinya itu.


"Oke, sayang mau ganti disini."


Karina menampakkan raut wajah yang bingung.


"Mas hadap kesana kamu bisa ganti baju sekarang sayang."


Gama mengecup pipi Karina lalu menepati janjinya membalikkan badannya supaya Karina bisa ganti baju.


"Maaf ya Mas."


"Nggak papa Sayang, Mas paham kok. Mas akan tunggu kamu siap."


Ucapnya sambil membelakangi Karina namun, dia juga malah membuka kemejanya ingin berganti kaos.


Karina malah melongo melihat punggung Gama dan tidak segera berganti baju.


"Sayang udah, bisa minta tolong ambilkan kaos Mas."


"Belum... Belum.. Bentar lagi Mas."


Karina langsung bergegas mengganti bajunya dengan dress yang nyaman untuk tidur sedangkan Gama malah terkekeh sendiri tapi Karina tak melihatnya.


"Udah Mas.."


Begitu Karina selesai berganti dan Gama pun membalikkan badannya tanpa memakai baju.


Gama menatap Karina yang malah terdiam melihat tubuhnya.


"Sayang..."


Gama berjalan mendekat dan Karina langsung tersadar sudah memandangi tubuh indah suaminya yang rajin berolahraga.


"Iya Mas..."


Karina celingukan mencarikan kaos Gama.


"Itu kaos Sayang."


Gama malah memeluknya sambil menunjuk kaosnya yang di hanger.

__ADS_1


Karina diam mematung lagi, jantungnya mau meloncat rasanya.


"Dingin sayang, ambilkan dong."


Gama memang sengaja menggoda istrinya. Karina menganggukkan kepalanya lalu meraih kaos yang tak jauh dari dirinya.


"Ini Mas, dipakai Mas."


Gama tidak mengambil kaosnya malah memutar tubuh Karina untuk menghadap ke arahnya.


"Sayang.."


Gama mengangkat dagu Karina dan mengusirnya pipi mulusnya.


"Kamu cantik banget.."


Wajah mereka berdua begitu dekat dan nafas Gama dapat di rasakan Karina berhembus di hadapannya.


Karina hanya diam menggigit bibir bawahnya, dia gugup, bingung dan entahlah tidak bisa menerjemahkan apa yang dirasakannya.


Cup...


Satu kecupan lembut mendarat di bibir Karina.


Menambah kegugupannya semakin menjadi rasanya mau pingsan dirinya.


"Mas sayang banget sama kamu sayang."


Gama masih mengusap pipi Karina dan tersenyum manis hingga berhasil membuat istrinya ikut tersenyum.


"Makasih sayang sudah menjadi istri Mas, temani Mas selalu ya mau sedih maupun bahagia."


Karina tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Gama menarik Karina ke dalam pelukannya dan mengusap kepalanya.


"Mas bukan laki-laki sempurna namun dengan bersama kamu sayang dapat melengkapi ketidaksempurnaan itu."


Karina menganggukkan kepalanya dan membalas pelukan Gama dengan melingkarkan tangannya di pinggang Gama.


"Kita istirahat sayang, Mas nggak mau besok kamu kecapekan."


Gama merenggangkan pelukannya dan menangkup wajah Karina dengan kedua tangannya.


"Mas..."


"Iya Sayang."


"Maafin Karin ya, Karin masih belum ... Belum... " Ucapan Karina terputus - putus.


Gama paham apa maksud dari Karina.


"Sayang.. Tenang aja, Mas nggak akan meminta hak Mas malam ini. Kita istirahat tidur yang nyenyak sambil berpelukan."


Karina masih terdiam menatap Gama.


"Bolehkan Mas tidur sambil peluk Sayang."


Karina tersenyum dan menganggukkan kepalanya walaupun dalam hatinya takut terjadi sesuatu nanti malam kalau Gama khilaf...


πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

__ADS_1


__ADS_2