Mukena Merah Muda

Mukena Merah Muda
MMM #82


__ADS_3

"Karin, gimana Gama.?"


Tanya Mama Dina, mereka saat ini sedang duduk bertiga ada Papa Eko juga di ruang keluarga setelah menikmati makan malam bersama.


"Gimana maksudnya Ma, Karin baik-baik saja seperti yang Mama lihat."


"Maksud Mama apakah Karina belum ada kabar juga kalau positif."


Mama Dina sudah tidak sabar ingin meminang cucu dari putra kebanggaannya.


Gama tersenyum saja menikmati buah yang tadi disediakan Karina.


"Belum saatnya kali Ma, sabar masih berusaha."


Mama Dina menampakkan ekspresi takut jika mereka akan lama nantinya diberi anak.


"Nggak kamu ajak ke spesialis kandungan."


Gama menatap Mamanya.


"Ma, memang belum dikasih aja. Gama nggak mau menyinggung perasaan Karina, memang belum waktunya saja kita diberi momongan."


Mama Dina menghela nafasnya.


"Kalau sudah setengah tahun belum menikah tapi belum ada juga kabar positif dari Karina."


"Ma..."


Papa Eko memberi kode dengan menggelengkan kepalanya.


"Mama khawatir Pa, kalau nggak segera promil nanti takutnya kelamaan mereka terlalu asik berdua."


"Tapi, nggak begitu juga Ma. Biarkan mereka berusaha sendiri Kita sebagai orang tua mendoakan saja yang terbaik."


Mama Dina lagi-lagi menghela nafasnya.


"Ma, doakan saja kita."


Ucap Gama sambil mengedarkan pandangannya mencari sosok istrinya yang tak ikut bergabung bersama mereka padahal tadi bilangnya mau ambil minum.


"Karin kemana, apa sudah ke kamar nggak biasanya sendirian ke kamar."


Dalam hati Gama.


"Gama ke kamar dulu ya Ma, Pa."


Dianggukkan kedua orang tuanya, Gama berlalu menuju ke kamar untuk mencari istrinya.


Gama masuk ke dalam kamar tapi tak menemukan sosok Karina juga.

__ADS_1


"Sayang.."


Gama memanggil Karina namun tak ada lalu ke arah pintu kamar mandi dan mencoba membukanya.


"Kok ke kunci.. Tok..tok.."


Gama mengetuk pintu kamar mandi.


"Sayang..."


"Sayang..."


"Sayang, didalam. Buka sayang..."


Gama beberapa kali mengetuk pintu kamar mandi untuk mendapatkan jawaban dari dalam.


"Iya Mas.."


Karina menjawab dari dalam namun belum membuka pintunya.


"Sayang ngapain di dalam."


"Bentar Mas, Karin sakit perut."


"Kamu nggak papa Sayang."


"Iya Mas."


Di dalam kamar mandi karina membasuh mukanya, matanya yang terasa bengkak ia kompres dengan tisu yang dia basahi.


"Jangan nangis Karin.."


Tapi, apa daya hatinya terasa sakit mendengar obrolan suaminya dengan kedua orang tuanya. Dia merasa bersalah jika dirinyalah yang menyebabkan sampai saat ini belum juga hamil padahal sudah 6 bulan menikah.


"Hiks ..hiks... Ibu, Bapak Karin harus gimana."


Air matanya terus mengalir percuma saja dia kompres supaya bengkaknya hilang hilang namun apa daya tangisnya aja tidak berhenti.


"Hiks...hiks.... "


Karina masih menangis, Dia mendengar obrolan Mama Dina dengan Gama yang menanyakan tentang kapan dia hamil.


Perasaan Karina sebagai seorang istri sangat sensitif apa lagi ini Mama mertuanya yang langsung bertanya kepada suaminya.


"Karin, harus gimana Bu, Pak..."


"Hiks..hiks..."


Di luar, Gama yang masih menunggu Karina yang berdiam diri di dalam kamar mandi dengan perasaan gelisah kenapa istrinya tidak juga keluar.

__ADS_1


Gama mendekati pintu kamar mandi dan mengetuknya kembali.


"Tok..tok...tok.."


"Sayang, kamu ngapain di dalam bisa masuk angin."


Karina mendengar suaminya memanggilnya kembali, buru-buru dia membasuh buka lalu mengelapnya dengan handuk dan mencoba mengompres lagi matanya yang terlihat bengkak.


"Sayang, keluar nggak. Kalau nggak keluar Mas dobrak ini pintu."


Karina bingung mendengar Gama ngomong seperti itu, dia dengan cepat mengusap wajahnya dan membuka pintu sambil mencoba tersenyum senatural mungkin.


"Sa .."


Belum selesai Gama memanggil pintu kamar mandi terbuka dan nampak Karina yang tersenyum tipis namun malu menatap Gama hanya sekilas lalu menghindari kontak mata dengannya.


"Sayang.."


Gama meraih tangan Karina dan satu tangannya mengangkat dagunya.


"Iya Mas."


Karina dengan tersenyum.


"Kamu kenapa, habis nangis ya."


Karina menggelengkan kepalanya.


"Kena sabun ini Mas tadi, jadi perih Karin basuh pakai air."


Bohong Karina, namun Gama juga tidak semudah itu percaya.


Dia menelisik semua wajah Karina tak ada yang terlewat dan mengamatinya dengan serius.


"sayang, kita kan udah janji untuk selalu jujur satu sama lain. Cerita sama Mas ada apa."


Karina malah memeluk Gama sambil menggelengkan kepalanya.


"Nggak papa Mas."


Karina menahan tangisnya supaya tidak pecah lagi.


"Sayang, Mas ini suami kamu. Cerita ada apa."


Karina lagi-lagi hanya menggelengkan kepalanya.


Gama menghela nafasnya.


😀😀😀

__ADS_1


__ADS_2